spot_img
Selasa, Februari 10, 2026
spot_img
BerandaNTBKesehatan Mental Jangan Sampai Jadi Bom Waktu

Kesehatan Mental Jangan Sampai Jadi Bom Waktu

Mataram (suarantb.com) – Diskursus mengenai isu kesehatan mental di NTB, semakin masif dilakukan. Terlebih, isu ini kerap dikaitkan dengan kasus kekerasan seperti perundungan hingga bunuh diri. Permasalahan itu harus diseriusi, agar tidak menjadi bom waktu.

Ketua Himpunan Psikolog (HIMPSI) NTB, Nalurita Palupi S.Psi.,M.Psi., Senin (9/2) mengatakan, pembicaraan yang menyangkut kesehatan mental beberapa waktu terakhir kerap menjadi pembahasan baik dalam bingkai sosialisasi maupun edukasi.

Mereka yang terlibat pun dari berbagai kelompok dan institusi mulai dari HIMPSI NTB, Dinas Kesehatan komunitas terkait hingga pemengaruh atau influencer.

Mencuatnya isu ini kata Nalurita, karena pembahasan kesehatan mental dinilai menarik sekaligus cukup rumit. Ia mencontohkan, dua orang yang terkena penyakit kesehatan mental yang sama, bisa mendapat penanganan yang berbeda.

Di samping itu, tumbuhnya kesadaran masyarakat soal kesehatan mereka, khususnya menyangkut kesehatan kejiwaan membuat isu kesehatan mental semakin kerap diperbincangkan.

“Kenapa kesehatan mental menjadi mencuat, karena masyarakat mulai aware (sadar), masyarakat mulai paham apa itu kesehatan mental,” ujarnya.

Mencuatnya pembahasan ini lanjut Nalurita, diharapkan bukan karena kasus kesehatan mental meningkat, tetapi karena kesadaran masyarakat yang semakin peka terhadap kondisi kesehatannya.

Meski demikian, isu kesehatan mental ini tetap perlu mendapat atensi. Sebab, kasus kesehatan mental yang terungkap biasanya masih bersifat permukaan.

“Beberapa masalah kesehatan mental itu sepertinya dulu tidak terlapor, jadi kesehatan mental itu juga fenomenanya seperti gunung es, di bawahnya banyak,” terangnya.

Nalurita menjelaskan, kesehatan mental tidak dipicu oleh satu faktor tunggal, melainkan akumulasi dari berbagai kondisi internal dan eksternal. Faktor internal seperti kondisi psikologis individu, sementara eksternal mengacu pada bagaimana lingkungan sekitar bekerja.

Ia menuturkan, tekanan-tekanan yang dihadapi masyarakat saat ini cenderung beragam, seperti perundungan di sekolah, relasi dengan keluarga, hingga tekanan pekerjaan. Dengan demikian, penjelasan tentang penyebab kesehatan mental atau kejiwaan menjadi cukup rumit dijelaskan.

“Jadi setiap tempat ada faktornya masing-masing. Jadi kalau ditanya faktor utamanya apa, tidak ada. Itu (faktor) kolaborasi,” tutur Nalurita.

Di NTB sebutnya, jenis masalah kesehatan mental kerap dialami masyarakat cukup beragam. Dari hasil observasi HIMPSI NTB sendiri, masalah kesehatan mental yang umumnya dialami di masyarakat NTB berupa depresi, kecemasan, dan gangguan emosional.

Pihaknya tidak pernah secara langsung melakukan upaya-upaya survei mengenai jumlah masyarakat yang terindikasi masalah kesehatan mental. Akan tetapi, berdasarkan pengalamannya sebagai psikolog di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Mutiara Sukma, sering menemukan sejumlah masyarakat yang terindikasi.

“Kalau kita turun di sekolah atau instansi, itu satu sampai lima persen dari populasi di tempat tersebut (accidental population) mengalami gangguan emosional,” ungkapnya.

Oleh karena itu, masalah kesehatan mental ini perlu mendapat atensi dari pihak, agar isu ini tidak menjadi bom waktu ke depannya, sehingga perlu dilakukan sosialisasi secara masif.

“Harapannya dari kegiatan edukasi yang masif ini, itu efeknya nyata,” tandasnya. (sib)

IKLAN

spot_img
RELATED ARTICLES
IKLAN


VIDEO