Sumbawa Besar (Suara NTB) – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumbawa, mencatat sedikitnya ada sekitar 8.170 jiwa terdampak bencana hingga bulan Februari. Selain itu, beberapa fasilitas rusak dengan kerugian ditaksir hingga miliaran rupiah.
“Di awal tahun 2026 ada beberapa kejadian banjir yang kami tangani, paling parah di Kecamatan Empang dengan jumlah masyarakat 1.162 kepala keluarga atau sekitar 3.476 jiwa,” kata Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Sumbawa, Muhammad Nurhidayat kepada Suara NTB, Senin, 9 Februari 2026.
Dayat melanjutkan, terhadap masyarakat yang terdampak bencana, pemerintah sudah menyalurkan bantuan pangan termasuk kebutuhan lainnya. Upaya tersebut sebagai bentuk kehadiran pemerintah dalam upaya melayani masyarakat yang terdampak bencana.
“Distribusi logistik kepada masyarakat sudah kami lakukan supaya masyarakat tidak terbebani. Kami juga bersama TNI/Polri juga turun ke lokasi kejadian untuk dilakukan pembersihan terhadap sisa banjir,” ujarnya.
Beberapa faktor sehingga bencara terutama banjir kerap terjadi setiap musim penghujan. Tidak adanya tumbuhan vegetatif yang menyerap air hujan menjadi faktor utama terjadinya, termasuk alih fungsi lahan untuk tanaman jagung.
“Sekarang hampir sebagian besar tanaman vegetatif kita sudah tidak ada yang ada adalah tanaman jagung, karena untuk menanam jagung sampai rumput pun mati agar jagung bisa tumbuh,” ucapnya.
Sehingga ketika hujan turun lanjut Dayat, langsung menghantam top soil dan lari ke sungai apalagi ketika hujan dengan intensitas tinggi. Mengatasi masalah tersebut, pemerintah sudah mulai menggagas program Sumbawa hijau lestari dan membentuk satgas pengamanan hutan.
“Progtam ini kita canangkan untuk menekan kerusakan hutan, kalau tidak ya kita tetap akan dilanda banjir atau malah makin parah. Karena banyak kawasan hutan kita yang ditanami jagung saat ini,” sebutnya.
Faktor lainnya, di awal tahun 2026 curah hujan yang terjadi sangat tinggi dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Bahkan belum puncak musim penghujan saja sudah terjadi banjir apalagi sudah puncak musim penghujan.
“Kita ambil contoh saja di Kecamatan Empang, karena hutannya sudah banyak beralih fungsi untuk tanaman jagung. Sehingga Kecamatan Empang menjadi lokasi yang cukup parah terdampak bencana,” tukasnya. (ils)



