Praya (suarantb.com) – Isu kelangkaan air dan dampak pariwisata massal (overtourism) menjadi sorotan utama dalam festival “From Research to Policies: Inclusive Disaster Risk Reduction in Central Lombok” yang digelar di Praya, Lombok Tengah, pada 21 Januari 2026 lalu.
Kegiatan yang diinisiasi oleh University of Leeds, Inggris, melalui Proyek GENERATE dan Resep Keadilan Bencana ini bertujuan menyatukan para pembuat kebijakan dengan masyarakat guna merumuskan solusi pengurangan risiko bencana yang inklusif. Acara ini bekerja sama dengan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Lombok Tengah.
Associate Professor Gender dan Iklim University of Leeds, Katie McQuaid, menekankan pentingnya integrasi riset dalam kebijakan daerah. Hal senada disampaikan Ko-Pemimpin Proyek di Lombok, Lalu Faris Naufal Makhroja. Ia mengungkapkan data bahwa dampak kelangkaan air akibat perubahan iklim dan tata kelola lahan lebih banyak ditanggung oleh kaum perempuan.
“Praktik pariwisata saat ini seringkali meninggalkan masyarakat lokal. Banyak warga yang merasa menjadi orang asing di tanah mereka sendiri,” ujar Faris dalam paparannya.
Pariwisata Berkelanjutan
Dalam sesi diskusi panel, pakar pariwisata Sri Trisnawati menyoroti urgensi pariwisata yang etis. Menurutnya, pariwisata yang hanya menguntungkan wisatawan tanpa memberi manfaat bagi warga lokal tidak akan berkelanjutan.
“Kita tidak hanya perlu mendengarkan perempuan, tetapi juga memberi ruang bagi mereka untuk memimpin inisiatif yang bermakna, terutama dalam sektor ekowisata,” tegas Sri, yang juga terlibat dalam pengembangan Desa Wisata Lantan.
Merespons hal tersebut, Kepala Bidang Pengembangan SDM dan Pariwisata Kreatif Dinas Pariwisata Loteng, Lalu Imam Mahardika, menyatakan bahwa pemerintah daerah terus berupaya mewujudkan pariwisata berkelanjutan agar tidak ada masyarakat yang termarjinalkan.
Komitmen Bersama
Asisten II Sekretariat Daerah Kabupaten Lombok Tengah, yang hadir mewakili Bupati, memaparkan langkah-langkah mitigasi risiko bencana yang telah diambil pemerintah. Forum ini menjadi ruang dialog terbuka antara aktivis dari 16 organisasi masyarakat sipil dengan para kepala dinas terkait.
Kegiatan ini juga menandai peluncuran Pameran Publik Resep Keadilan Bencana. Pameran keliling ini dijadwalkan akan menyambangi empat wilayah di Pulau Lombok, yakni Lombok Tengah, Lombok Timur, Lombok Barat, dan Lombok Utara. Acara ditutup dengan komitmen kolaboratif antara pemerintah dan komunitas untuk menjadikan keadilan ekonomi, gender, dan sosial sebagai bagian integral dalam sistem pengelolaan bencana di Lombok Tengah. (r/fan)



