Giri Menang (suarantb.com) – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Lombok Barat (Lobar) menargetkan mampu mengangkut 100 ton sampah per harinya. Hal ini menyusul Landfill 2 TPA Kebon Kongok akan beroperasi pada bulan ini, sehingga ritase pengangkutan sampah pun normal dua rit per harinya setiap armada.
Selain itu, strategi dilakukan memaksimalkan atau meningkatkan kapasitas muatan setiap armada sampah dan efisiensi biaya BBM setiap ritase pengangkutan di masing-masing wilayah. Kepala DLH Lobar, M. Busyairi mengatakan, pengangkutan sampah mengalami penyesuaian sementara.
Sejak 10 Desember 2025 lalu, intensitas pengangkutan atau ritase armada sampah dibatasi menjadi satu kali sehari per armada, yang berdampak pada penurunan volume sampah terangkut menjadi rata-rata 54 ton per hari dari kondisi normal sebesar 94 ton. Namun, transisi ini merupakan bagian dari persiapan menuju sistem yang lebih besar dan efisien.
Busyairi optimis bahwa setelah proyek optimalisasi TPA selesai, kapasitas angkut akan melonjak drastis melampaui angka normal sebelumnya. Target yang dipatok tidak main-main, yakni menyentuh angka di atas 100 ton per hari dengan mengembalikan frekuensi ritase menjadi dua kali sehari bagi setiap armada.
“Kami terus memotivasi tim di lapangan agar mampu memaksimalkan kapasitas angkut di setiap unitnya. Target kita adalah mengembalikan ritase menjadi dua kali sehari, sehingga total tonase harian bisa menembus lebih dari 100 ton,” ujarnya, Selasa (10/2/2026).
Terlebih, kata dia, jumlah Armada telah ditambah sehingga target 100 ton per hari harus dicapai pihaknya. Salah satu strategi yang diadopsi untuk mencapai target tersebut adalah peningkatan kapasitas muatan per truk. Belajar dari pola pengelolaan di Kota Mataram, setiap truk kini diarahkan untuk mampu mengangkut sampah hingga 4 ton dari kapasitas standar sebelumnya yang hanya berkisar 3 hingga 3,5 ton. “Kenapa mereka (Mataram) mampu karena muatan dimaksimalkan dengan menggunakan alat berat,” imbuhnya.
Sedangkan Lobar meskipun tidak memakai alat berat, tetapi tenaga angkat dan angkut harus memaksimalkan tonase sampah.”Sekarang ini kapasitas satu truk 3-3,5 ton, itu Kita maksimalkan bisa 4 ton,” imbuhnya.
Kondisi saat ini muatan truk sudah mulai penuh diisi oleh petugas, karena pihaknya juga turun mengecek. Sehingga terjadi peningkatan signifikan dari sisi tonase muatan sampah, terlebih saat pembatasan pembuangan ke TPA, maka harus dimaksimalkan muatan untuk mengurai tumpukan sampah.
Meski mengejar tonase tinggi, faktor keamanan dan estetika lingkungan tetap menjadi perhatian utama. Seluruh armada pengangkut kini diwajibkan menggunakan jaring pengaman guna mengantisipasi muatan yang berlebih atau overload.
Pihaknya juga melakukan pengawasan yang ketat terhadap petugas pengangkut sampah agar tidak mengulang kesalahan yang pernah dilakukan, seperti memainkan ritase. Salah satunya dengan membuatkan kartu kontrol untuk memastikan ritase sesuai. Selain itu, pihaknya mencoba melakukan efisiensi dengan membuat Harga Perkiraan Sendiri (HPS) BBM armada sampah.
HPS BBM itu diubah yang tadinya terlalu besar sehingga rentan dimanfaatkan oleh oknum petugas untuk melayani di luar ketentuan. Contohnya untuk pengangkutan sampah wilayah Batulayar ke TPA, jika mengacu tahun lalu BBM-nya 20 liter per rit. Menurut perhitungannya, BBM ini banyak tersisa. Terlebih jika mobil baru dan mobil yang diproduksi tahun sekian sampai tahun sekian, ada standar pemakaian BBM.
Dari hitungannya, muncul angka kalau di Batulayar BBMnya bisa saja menjadi 13 atau 17 liter per rit. Dari hitungan dengan HPS ini, pihaknya bisa mengefisiensi hingga ratusan juta rupiah. (her)



