Mataram (suarantb.com) – Pemerintah Daerah bersama Bank Indonesia dan seluruh pemangku kepentingan yang tergabung dalam Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mulai memperketat pengawasan harga menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Ramadan dan Idulfitri 1447 H.
Langkah strategis ini dibahas dalam High Level Meeting (HLM) dan Rapat Koordinasi TPID yang digelar di Kota Mataram pada Rabu (11/02/2026). Fokus utama pertemuan ini adalah menjaga ketersediaan pasokan dan keterjangkauan harga pangan bagi masyarakat di seluruh wilayah NTB.
Kondisi Inflasi Terkini
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi di NTB pada Januari 2026 tercatat sebesar 3,86% (yoy). Angka ini terpantau lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional yang berada di level 3,55% (yoy).
- Inflasi Tertinggi: Terjadi di Kota Bima sebesar 4,82% (yoy).
- Inflasi Terendah: Tercatat di Kota Mataram sebesar 3,69% (yoy).
- Penyebab Utama: Kenaikan harga emas perhiasan serta komoditas perikanan dan tomat yang terdampak faktor cuaca.

Instruksi Gubernur: Amankan Pasokan Lokal
Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal, menekankan bahwa periode Ramadan secara historis selalu memicu lonjakan permintaan yang berisiko mendorong kenaikan harga. Ia menginstruksikan TPID untuk berkomunikasi intensif dengan produsen dan distributor.
“Utamakan pemenuhan kebutuhan masyarakat lokal dengan harga terjangkau sebelum mendistribusikan komoditas ke luar daerah,” tegas Gubernur dalam sambutannya. Selain itu, Pemerintah Daerah diminta aktif menggelar Gerakan Pangan Murah (GPM) dan melakukan inspeksi pasar secara rutin.
Stok Pangan dan Strategi Antisipasi
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTB, Hario K. Pamungkas, melaporkan bahwa hingga minggu pertama Februari 2026, harga beras dan gula pasir relatif stabil. Bahkan, harga bawang merah menunjukkan tren menurun seiring masa panen di Kabupaten Bima.
Namun, kewaspadaan tetap ditingkatkan pada komoditas yang mulai merangkak naik, seperti:
- Cabai rawit
- Bawang putih
- Telur dan daging sapi
Plh. Sekretaris Daerah Provinsi NTB, Lalu Mohammad Faozal, menambahkan bahwa penguatan sentra produksi di Lombok dan Sumbawa serta kelancaran rantai pasok menjadi kunci, terutama mengingat adanya keterbatasan fasilitas penyimpanan dingin (cold storage) di wilayah tersebut.
Imbauan Belanja Bijak
Menutup koordinasi tersebut, TPID NTB mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak melakukan aksi borong (panic buying). Masyarakat diharapkan berbelanja secara bijak sesuai kebutuhan agar stabilitas harga di pasar tetap terjaga. (r)



