spot_img
Kamis, Februari 12, 2026
spot_img
BerandaHEADLINEKisah Amnul Kahfi: Mutawwif dari Lombok, Tujuh Tahun Menuntun Langkah Tamu Allah...

Kisah Amnul Kahfi: Mutawwif dari Lombok, Tujuh Tahun Menuntun Langkah Tamu Allah di Tanah Suci

 

 

Madinah (suarantb.com) – Rabu waktu jelang salat zuhur, 12 Februari 2026, langkah rombongan jemaah umrah dari Nusa Tenggara Barat (NTB) menyusuri Masjid Nabawi di Kota Suci Madinah. Di barisan depan, seorang pemuda sederhana berjalan tenang, selalu menoleh memastikan tak ada jemaah yang tertinggal. Dialah Amnul Kahfi.

Dengan suara lembut, ia menuntun jemaah memasuki Masjid Nabawi, membimbing mereka sholat zuhur, lalu menuju makam Rasulullah SAW dan Raudhah, taman surga yang selalu dirindukan umat Islam. Bagi sebagian jemaah, momen itu adalah puncak doa seumur hidup. Bagi Kahfi, itu adalah bagian dari pengabdian yang sudah tujuh tahun ia lakoni di Tanah Suci.

Hingga 22 Februari 2026, ia akan mendampingi salah satu dari tiga kelompok jemaah umrah Safina Travel asal NTB. Namun sejatinya, perjalanan pengabdiannya telah dimulai jauh sebelum itu.

Pemuda asal Lombok Tengah ini pertama kali datang ke Madinah dulunya bukan untuk bekerja, melainkan untuk belajar. Ia menempuh pendidikan nonformal seperti pondok pesantren, memperdalam ilmu agama. Lulus SMA di Kediri, Lombok Barat ini memantapkan hati merantau ke Kota Nabi.

“Dari awal memang niat untuk sekolah di sini. Sampai sekarang sudah di akhir-akhir menuju kepulangan, jadi sambil kita isi waktu untuk mencari bekal,” tuturnya, usai mendampingi jemaah mengunjungi Masjid Quba, di Madinah. Masjid yang di bangun masa Rasulullah, sebelum di bangunnya Masjid Nabawi.

Tujuh tahun tinggal di Madinah membuatnya jatuh cinta pada kota yang tenang dan damai itu. Ia menyebutnya sebagai nikmat yang tak semua orang bisa rasakan.

“Alhamdulillah, saya bisa tinggal di Kota Madinah Al-Munawwarah, kotanya Rasulullah SAW. Setiap hari kita bisa beribadah, bisa berziarah. Itu mimpi banyak umat Islam,” ujarnya penuh syukur.

Namun ia juga sadar, hidup tak selalu mudah.

“Kadang susah, kadang senang. Tapi apapun pekerjaan kita, apapun status kita, semua harus kita jadikan perantara untuk mendekatkan diri kepada Allah,” katanya.

Seiring waktu di Madinah, Kahfi mulai dipercaya menjadi mutawwif (pembimbing) jemaah umrah. Travel-travel dari NTB hingga berbagai daerah di Indonesia menggunakan jasanya untuk mendampingi jemaah sejak kedatangan hingga kepulangan.

“Tidak setiap hari. Kadang sebulan dua minggu, kadang tiga minggu mendampingi jemaah,” jelasnya.

Tugasnya bukan sekadar membimbing tata cara umrah. Ia juga memfasilitasi kebutuhan jemaah selama di Tanah Suci. Di Madinah, dari Masjid Nabawi, hingga ziarah ke Masjid Quba, Jabal Uhud, makam para syuhada, dan kebun kurma, hingga ke Makkah, membimbing pelaksaan ibadah umrah di Masjidil Haram, dan ibadah lainnya.

Baginya, mendampingi jemaah bukan sekadar mencari penghasilan.

“Bisa dibilang (mutawwif) ini untuk mengisi waktu senggang dan mencari pengalaman bersosialisasi dengan orang-orang dari berbagai kota di Indonesia. Untuk kehidupan, alhamdulillah cukup dan seimbang dengan biaya hidup di sini,” ujarnya.

Kahfi tinggal di kawasan Quba, Madinah. Ia menyewa rumah bersama enam hingga tujuh rekannya, sebagian dari Lombok, Lombok Barat, hingga Jawa Timur.

“Kita sewa berkelompok supaya lebih ringan,” katanya.

Biaya hidup di Madinah relatif tinggi. Itulah salah satu tantangan terbesar tinggal di Tanah Suci. Selain tentu saja, rindu kepada orang tua.

“Tantangannya jauh dari orang tua dan biaya hidup yang tinggi,” ujarnya jujur.

Di Lombok, kedua orang tuanya berprofesi sebagai guru. Ia adalah anak sulung dari dua bersaudara. Meski jauh, ia berusaha membantu keluarga semampunya.

“Sedikit-sedikit pasti kita kirim,” ucapnya singkat, tanpa menyebut jelas penghasilannya menjadi Mutawwif.

Kepercayaan dari travel-travel Indonesia tidak datang begitu saja. Diawal kedatangannya ke Tanah Suci, ia membangun relasi dari teman ke teman, dari travel ke travel. Kemampuan bahasa Arab menjadi bekal penting, meski ia tetap merasa perlu terus belajar dan mengasahnya.

Mutawwif di Tanah Suci jumlahnya banyak, hampir dari seluruh Indonesia. Namun tingginya arus jemaah membuat peluang tetap terbuka.

“Alhamdulillah, peluang ada meskipun banyak sekali Mutawwif dari Indonesia. Tapi harus disesuaikan juga dengan kondisi dan kemampuan kita,” katanya.

Kini usianya 28 tahun. Baginya, Tanah Suci adalah tempat belajar dan mengabdi. Namun Lombok tetap rumah, tempatnya lahir.

Jika ada anak muda Lombok yang ingin menapaki jejaknya, ia hanya memberi satu pesan sederhana: ridha orang tua.

“Fondasinya itu ridha orang tua. Kalau orang tua sudah ridha, jalan apapun akan dimudahkan Allah,” ujarnya.

Ia juga menyebut peluang di Tanah Suci terbuka, baik melalui pendidikan maupun membangun relasi dengan biro-biro travel. Namun semuanya harus dijalani dengan niat yang lurus.

Sebab pada akhirnya, seperti yang ia yakini sejak awal merantau: pekerjaan hanyalah perantara.

Di antara jutaan manusia yang datang dan pergi dari Madinah dan Makkah, Kahfi memilih menjadi penuntun langkah. Ia mungkin hanya satu dari sekian banyak mutawwif. Namun bagi jemaah yang pernah ia dampingi menuju Raudhah dan Masjidil Haram, namanya akan selalu dikenang sebagai pemuda Bonder, Lombok Tengah, yang mengabdikan diri untuk menuntun tamu-tamu Allah di Tanah Suci. (bul)

 

IKLAN

spot_img
RELATED ARTICLES
IKLAN



VIDEO