PEMERINTAH Kelurahan Cilinaya, Kecamatan Cakranegara, memperkuat koordinasi lintas unsur masyarakat guna menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) serta keharmonisan antarumat beragama menjelang dan selama bulan suci Ramadan.
Langkah antisipatif ini dilakukan mengingat Kelurahan Cilinaya merupakan wilayah dengan masyarakat yang majemuk, di mana mayoritas penduduknya beragama Hindu. Kondisi tersebut menuntut adanya penguatan komunikasi dan kolaborasi agar suasana tetap kondusif saat umat Muslim menjalankan ibadah puasa.
Lurah Cilinaya, I Ketut Somearta, mengatakan koordinasi bersama kepala lingkungan, RT, dan Linmas telah menjadi pola rutin yang dijalankan secara konsisten selama hampir lima tahun terakhir. Ia menilai, pendekatan berbasis komunikasi dan kebersamaan terbukti efektif menjaga stabilitas sosial di tengah keberagaman.
“Ini sudah berjalan hampir lima tahun. Selama saya menjabat sebagai lurah, tidak ada gesekan antarwarga. Artinya komunikasi dan pengawasan berjalan dengan baik,” ujarnya, Jumat (13/2).
Menurut Somearta, sinergi pengamanan selalu melibatkan tiga pilar, yakni Babinsa, Bhabinkamtibmas, serta jajaran pemerintah kelurahan. Koordinasi ini tidak hanya dilakukan saat menjelang hari besar keagamaan, tetapi berlangsung secara berkelanjutan sebagai bagian dari deteksi dini potensi gangguan.
“Segala bentuk potensi gangguan bisa segera kita kendalikan karena ada integrasi pengawasan dan komunikasi. Kalau ada informasi sekecil apa pun, langsung kita tindak lanjuti secara persuasif,” jelasnya.
Untuk meminimalisir gangguan kamtibmas selama Ramadan, pihak kelurahan juga akan mengintensifkan patroli, terutama pada jam-jam rawan seperti setelah salat tarawih. Waktu tersebut dinilai cukup rentan karena meningkatnya aktivitas masyarakat, khususnya kalangan remaja.
“Kita fokuskan patroli setelah tarawih karena biasanya aktivitas warga meningkat. Kita ingin memastikan situasi tetap tertib dan nyaman,” katanya.
Selain patroli, kelurahan juga mengimbau para orang tua untuk turut mengawasi aktivitas anak-anaknya selama Ramadan. Partisipasi keluarga dinilai menjadi kunci utama dalam menjaga lingkungan tetap kondusif.
Somearta menambahkan, pola pengawasan dan pengendalian ketertiban umum pada Ramadan tahun ini secara umum sama dengan tahun-tahun sebelumnya. Namun, pada 2026 pengamanan akan lebih ditingkatkan karena momentum Ramadan berdekatan dengan perayaan Hari Raya Nyepi dan malam pawai takbiran Idulfitri.
Menurutnya, kedekatan dua momentum keagamaan tersebut memerlukan komunikasi lintas umat yang lebih intens agar seluruh rangkaian kegiatan dapat berjalan dengan lancar tanpa saling mengganggu.
“Kita ingin memastikan semua kegiatan keagamaan berjalan dengan penuh toleransi dan saling menghormati. Itu yang selalu kita tekankan kepada masyarakat,” pungkasnya. (pan)



