Makkah (suarantb.com) – Di hadapan Ka`bah ia menangis, ia sedih bahagia, bersyukur bisa sampai di Tanah Suci. Ia adalah salah satu dari rombongan dari Nusa Tenggara Barat yang melaksanakan ibadah umrah, selama 14 hari, dari 10 hingga 24 Februari 2026.
Tingginya kurang lebih 1,5 meter, tapi jalannya lincah Ketika berada di tanah suci, Madinah dan Makkah. Abdul Manan lincah, di antara para rombongan jemaah yang melaksanakan ibadah umrah.
Di antara lautan manusia yang memadati pelataran Masjid Nabawi dan Masjid al-Haram, sosoknya tampak sederhana. Tubuhnya kecil, usianya juga sudah senja. Namun langkahnya ringan, wajahnya teduh, dan matanya tetap berbinar, ia baru saja menerima hadiah terbesar dalam hidupnya. Melaksanakan ibadah umrah secara gratis.
Abdul Manan, 69 tahun, guru honorer dan guru ngaji dari Desa Batu Kuta, Kecamatan Narmada, Lombok Barat. Lahir tahun 1957, ia tak pernah membayangkan akan menginjakkan kaki di Tanah Suci. Apalagi dengan biaya gratis.
Ia menjadi salah satu tamu Allah, karena pengabdian panjang di madrasah quraniyah di Lombok Barat.
“Di Yayasan Qur`Aniyah, Batu Kuta, Kecamatan Narmada. Sebagai guru di sekolah, guru ngaji di pondok,” kata Abdul Manan, seusai melaksanakan umrah pertama, Jumat, 13 Februari 2026 malam.
Jawaban-jawaban itu ia sampaikan tanpa nada berlebihan. Seolah pengabdian puluhan tahun itu bukan sesuatu yang luar biasa. Padahal, dari situlah jalan menuju Makkah terbuka untuknya.
“Iya,” katanya ketika ditanya apakah benar umrahnya dibiayai semua oleh travel.
Ia bercerita, sekitar seminggu sebelum keberangkatan, ada kabar yang tak pernah ia sangka.
“Nah, itulah ada sekitar seminggu sebelum berangkat umrah. Umrah berangkat tanggal 10 Februari 2026, bersama para jemaah lainnya yang berangkat komersil. Saya sendiri yang berangkat ke tanah suci ini secara gratis,” kata Abdul Manan, terlihat ada air mata mengalir tipis bawah kedua kelopak matanya, sembari diusap.
Semua bermula dari pertanyaan sederhana seorang tetangga. Siapa yang sudah ngabdi di sini lebih sampai 25 tahun?
“Alhamdulillah yang ditunjuk itu saya. Karena yang ditunjuk saya, tiba-tiba pada satu waktu, datanglah seorang pemilik travel umrah ke rumah. Ia menyampaikan memberi hadiah kepada saya untuk umrah. Semua travel yang siapkan, paspor dan syarat lainnya. Iya, pokoknya saya terima bersih,” kata Abdul Manan.
Allah SWT memanggilnya sebagai tamu di Tanah Suci, dengan cara yang tak pernah ia duga.
Sehari-hari, Abdul Manan mengajar ngaji qiroat di rumah, tapi di madrasah, sejak tahun 1991 diangkat jadi guru di sekolah, sebagai guru tsnawiyah. Sejak saat itu juga mengajar ngaji, tajwid, dan mengajar anak anak Madrasah Tsanawiyah (MTs/setingkat SMP) ngaji praktik Al-Qur`an.
“Semua kelas saya ajar, 9 kelas banyaknya,” katanya.
Dulu ia mengajar Quran Hadis di pondok pesantren. Namun ketika sudah ada guru sertifikasi, ia dipindahkan mengajar di MI. Di Madrasah Ibtidaiyah (setingkat SD) sebagai guru ngajar.
Sejak 1991 hingga sekarang, statusnya tetap guru honor. Tidak pernah berubah. Tidak lebih dari itu. Sampai sekarang usianya 69 tahun (lahir 1957).
30 tahun lebih mengajar. Tiga puluh tahun lebih berjalan kaki setengah kilometer pulang pergi dari rumah ke sekolah. Tanpa kendaraan. Tanpa keluhan.
Sekolah atau yayasan tempatnya mengajar jaraknya sekitar setengah kilometer, dari rumahnya. Tiap hari jalan pulang pergi, ia tak punya kenadaraan untuk pulang pergi mengajar.
“Saya tetap jalan kaki, apalagi saya peternak ngadas (beternak hewan milik orang lain, red), tidak cocok punya motor,” katanya menggambarkan keadaan ekonominya. “Tapi insyaAllah, kita Jalani Ikhlas saja, karena Allah,” tambah Abdul Manan.
Sebulan, ia mendapatkan penghasilan tak seberapa sebagai guru honorer, sekitar ratusan ribu nilainya. Abdul Manan merasa tak pantas mengungkap nilai itu. Bahkan ia meminta agar tak disebut. Itu pun, katanya, harus dipakai separuhnya untuk membayar cicilan yang dipinjam dari pondok pesantren.
“Tapi itu sudah alhamdulillah,” katanya.
Namun ia tak hanya menggantungkan ekonominya sebagai guru sukarela. Sebagai pekerja tambahan, sejak selesai kuliah tahun 1980, ia juga sudah mulai “ngadas sap”, istilah untuk beternak sapi milik orang lain.
Dua ekor sapi yang dia bantu ternakkan. Hasil jual sapi itulah yang dibagi. Dulu sekitar 3 bulan, atau 4 bulan, sapi-sapi sudah dijual oleh pemiliknya. Untung dari menjual sapi itulah yang kemudian dibagi dua. Separuh untuknya, separuh untuk pemilik sapi.
“Sekarang sudah 30 tahun jadinya mengabdi. Alhamdulillah, dari kegiatan ngajar dan ngadas sapi ini saya membiayai hidup keluarga,” jelasnya.
Istrinya berdagang serabutan di rumah. Dagangan kecil-kecilan untuk membantu kebutuhan sehari-hari dan anak-anak. Dari hasil-hasil itu juga ia terbantu secara ekonomi. Abdul Manan punya 4 anak, syukurnya, semua lulus kuliah.
“Alhamdulillah, berkah, walaupun kalau dihitung-hitung secara nilai, penghasilan kita tidak seberapa. Tapi semoga itu keberkahan,” ujarnya.
Tak pernah terfikir di benak Abdul Manan, akan dapat menginjakkan kaki di Tanah Suci untuk beribadah. Pun tak pernah terbayang, karena ia merasa tak punya apa-apa.
“Waktu datang bos (owner travel) ngasi tahu saya diajak berangkat umrah, gratis, saya langsung nangis,” kata Abdul Manan kembali bercerita ihwal ia berangkat umrah.
Tangis seorang guru kecil dari desa, yang tak pernah menuntut apa-apa selain kesempatan mengajar dan mengabdi.
Bahkan untuk belanja selama di Tanah Suci, ia tak mempersoalkan. Kata Abdul Manan, ia diberi tetangga dan keluarga. Ada yang memberinya Rp5.000, ada Rp10.000, ada juga yang lebih. Dari itu, terkumpul Rp1,2 juta bekalnya ke Tanah Suci.
“Tapi kan kita niatnya ke sini karena mau ibadah. Bukan untuk belanja. Itu tidak terlalu masalah,” katanya.
Di tengah gemerlap toko-toko di sekitar Masjidil Haram, ia tak sibuk memikirkan oleh-oleh. Ia hanya ingin sujud lebih lama di Tanah Suci.
Dari kisah Abdul Manan ini, banyak pelajaran berharga. Kalimat mahal yang ia sampaikan adalah, Allah sudah bilang, tidak ku ciptakan jin dan manusia, kecuali untuk beribadah (mengabdi) kepadaku.
“Itu kata Allah. Ya, hidup itu kita Jalani saja, jangan berpikir terus soal untung dan rugi. Hidup itu kita berjuang saja, dan berusaha Ikhlas,” pesannya.
Abdul Mannan tidak pernah mengejar dunia. Di pondok pesantren di desanya. Ia mendidik, ia mengajarkan huruf-huruf Al-Qur’an. Membenarkan tajwid anak-anak didiknya. menghidupkan suara qira`at di ruang-ruang sederhana. Honor boleh kecil. Tubuh boleh renta. Rumah boleh sederhana. Tapi hatinya lapang.
Kini, langkah kecilnya pernah menapak di pelataran Masjid Nabawi dan Masjidil Haram. Sujudnya pernah menyentuh sajadah Tanah Suci. Seolah Allah sedang menunjukkan kepada dunia, pengabdian yang sunyi, yang dijalani tanpa hitung-hitungan untung rugi, tidak pernah sia-sia.
Dari Desa Batu Kuta, dari seorang guru honorer yang tak pernah pensiun, kita belajar, ikhlas itu mungkin tak membuat kaya secara angka, tetapi ia melimpahkan keberkahan yang tak ternilai. (Bulkaino)



