spot_img
Selasa, Februari 17, 2026
spot_img
BerandaHEADLINEHarga Cabai Melonjak, Champion Cabai Nasional Lotim Hentikan Pengiriman ke Luar Daerah

Harga Cabai Melonjak, Champion Cabai Nasional Lotim Hentikan Pengiriman ke Luar Daerah

Selong (suarantb.com) – Meski sebagai daerah sentra produksi cabai nasional, tapi harga cabai di Kabupaten Lombok Timur (Lotim) turut mengalami lonjakan. Harga cabai saat ini mencapai Rp100 ribu per kilogram. Lonjakan harga “si pedas” ini membuat champion cabai nasional di Kabupaten Lotim, H. Subhan mengentikan sementara pengiriman cabai untuk memenuhi kebutuhan pasar-pasar di luar daerah.

Subhan menjawab Suara NTB via telepon menuturkan, pengiriman ke luar daerah dihentikan sejak pertengahan Januari 2026. Pengiriman pada hari normal seperti menuju ke Pasar Keramat Jati Jakarta ini rata-rata 4-5 ton per hari. Diprediksi, pengiriman akan kembali dilakukan pada pertengahan tahun. “Biasanya bisa mengirim lagi bulan Juni-Juli mendatang,” ucapnya

Saat ini hasil panen untuk memenuhi kebutuhan lokal. Hal ini karena produksi cabai menurun drastis. Produktivitas cabai rawit ini menurun hingga 70 persen. Sebenarnya, tidak mengherankan terjadi lonjakan harga saat ini.

Menurut Subhan, lonjakan harga masih dalam tahap wajar. Ia menyampaikan, pemicu utama penurunan pruduksi murni akibat anomali cuaca beberapa bulan terakhir. Tanaman hortikultura jenis cabai ini memang sangat dipengruhi cuaca. “Cuaca sangat menentukan, karena kita di NTB ini, kerap dilanda cuaca ekstrem hujan, angin kencang disertai hujan deras itu yang menyebabkan tanaman cabai rusak,” sebut Subhan.

Apalagi hujan selama sepekan terakhir ini menyebabkan bunga sebagai cikal bakal buah cabai ini rontok. Subhan menyebut tanaman cabai terkena penyakit layu fusarium.

Kondisi cuaca ekstrem ini membuat wajar harga cabai mahal. Pasalnya, biaya produksi meningkat. selain memperdalam bedengan, juga harus ada dipasang bambu sebagai tiang penyangga tanaman cabai. Biaya obat-obatan pun dipastikan bertambah. Saat musim menanam cabai disarankan menggunakan green house. “Tapi kalau anginnya terlalu kencang, green house juga cukup kesusahan,” imbuhnya.

Rata-rata biaya produksi cabai Rp120 juta per hektare. Namun karena kondisi cuaca sekarang ini membuat biaya produksi meningkat menjadi Rp150 juta per hektare.

Rata-rata biaya produksi tetap seperti situasi normal meski di tengah cuaca ekstrem maka petani pasti akan untung. Lonjakan harga sekarang akan membuat petani senang. Namun, karena dihadapkan pada persoalan cuaca membuat lonjakan harga itu tidak terlalu besar dampaknya.

Alisah, petani cabai di Desa Tirtanadi diwawancarai terpisah mengatakan, cukup susah menenam cabai di musim hujan. Sangat sedikit petani yang bisa selamat produksi. Disebut, ada satu serangan penyakit yang biasa disebut warga lokal dengan istilah jemet. Penyakit ini membuat tanaman cabai tidak bisa tumbuh dengan baik.

Mahalnya harga cabai ini tidak selamanya membuat petani senang, pasalnya ancaman pencurian selalu datang. Seperti sekarang, petani terpaksa harus menunggu tanaman cabainya agar tidak direnggut maling. (rus)

IKLAN

spot_img
RELATED ARTICLES
IKLAN



VIDEO