Giri Menang (Suara NTB) – Warga desa sekitar Pelabuhan Gilimas Lembar menjadi penonton, lantaran tamu kapal pesiar tidak banyak singgah ke wilayah setempat. Para tamu kebanyakan berkunjung ke sejumlah wisata Lombok, lantaran kawasan wisata Lembar dinilai belum layak dikunjungi dari sisi infrastuktur pendukung seperti toilet dan lainnya.
Bahkan, tumpukan sampai menyambut kedatangan tamu kapal pesiar di jalur keluar dari pelabuhan, persisnya di Tanjung Nyet, Desa Labuan Tereng. Pantauan media pada Jumat (20/2), kapal pesiar singgah di Pelabuhan Gilimas sekitar pukul 09.00 Wita. Sebagian besar tamu turun ke Terminal untuk ikut paket tur ke beberapa daerah di Lombok Barat. Di antaranya, Sentra Gerabah Banyumulek, Pasar Seni Sesela Gunungsari, ke Lingsar dan Narmada serta ke wilayah Sekotong.
Tetapi pemandangan yang kurang sedap begitu tiba di Tanjung Nyet, dekat lapak kuliner. Pemandangan tak elok berupa tumpukan sampah di pinggir jalan. Bahkan sampah yang terangkut meluber ke jalan karena tak tertampung di bak kendaraan sampah yang disiapkan di lokasi. Tumpukan sampah dikerumuni monyet yang mencari sisa makanan.
Bau tak sedap sampah menganggu pengendara yang lewat. Sampah berasal dari sisa kelapa muda, sisa berjualan dan jenis sampah lainnya. Kepala Desa Lembar Selatan, Muhamad Saleh mengatakan bahwa terkait potensi wisata di daerahnya memang ada penangkaran penyu dan mangrove. Pihaknya pun sudah kerja sama dengan pihak travel, dan pihak travel pun sudah turun survei ke lokasi.
“Sudah kita ajak keliling di destinasi, tapi sampai sekarang belum bawa tamu. Alasan belum bawa tamu karena fasilitas yang masih kurang, seperti toilet di (lokasi) mangrove,” tegasnya.
Selain itu, dari sisi infrastruktur belum bagus. Seperti jalan dan jembatan kayu yang belum bisa dilalui oleh kendaraan. Pihaknya berharap agar Pemkab yang membangun infrastruktur tersebut, sebab ia tak ingin warganya menjadi penonton tamu kapal pesiar yang singgah di Pelabuhan Gilimas. Pihaknya ingin warganya mendapatkan dampak dari sisi ekonomi.
Sementara itu, Manajer Operasional Pelindo Lembar Wawan Abiono, mengatakan pihaknya berkolaborasi dengan Pemkab, dan Dekranasda dalam mengakomodir pelaku UMKM berjualan di areal pelabuhan sehingga memiliki efek ekonomi bagi masyarakat.
Terkait dengan tujuan wisata yang diharapkan bisa menyasar daerah sekitar, pihaknya akan koordinasikan lagi dengan travel agen terkait apa saja yang diperlihatkan para tamu Kapal Pesiar sehingga bisa disiapkan oleh pihak pemerintah. Tamu kapal pesiar sejauh ini memang belum banyak berkunjung ke daerah sekitar seperti Cemare, Lembar, dan lokasi lainya. Namun demikian pihaknya telah mendapatkan informasi bahwa di daerah itu dikembangkan penangkaran penyu dan trek mangrove.
Ia berharap potensi ini bisa dieksplorasi, sehingga bisa dikunjungi. Sambil pihaknya sosialisasi kepada travel agen ketika ada turis butuh berwisata dalam waktu singkat, maka pilihan utamanya ke Lembar.
Terkait sampah yang masih berserakan di jalur kawasan kapal pesiar, Wawan akan mengoordinasikan dengan pihak terkait dalam hal ini Pemkab agar tidak terulang penumpukan sampah tersebut.
Sementara itu, Bupati Lombok Barat, Lalu Ahmad Zaini (LAZ) bakal membenahi sektor wisata kerajinan di Lombok Barat untuk menangkap peluang kunjungan dari wisatawan atau turis kapal pesiar. Menurut LAZ, sektor wisata kerajinan tangan dan suvenir tersebut ternyata menjadi favorit turis Kapal Pesiar ketika berkunjung ke Lombok Barat.
“Kan begini, kita harus pelajari sebenarnya. Pengunjung ini ketertarikannya apa. Tapi, tadi saya tanya justru kerajinan tangan sama kain tenun itu yang lebih dominan membuat mereka tertarik. Itu yang akan kita optimalkan,” ujar LAZ berpandangan bahwa para wisatawan Kapal pesiar lebih memilih sektor tersebut karena waktu kunjungannya yang singkat.
Karena itu, wisata alam dan ajang budaya dirasa kurang laku dengan waktu sandar tersebut. “Kalau makanan, kurang. Karena mereka di Kapal pesiar ini kan sensitif terhadap makanan. Sangat dijaga betul higienisnya,” imbuh LAZ.
Meski demikian, LAZ tidak menutup mata dengan sektor wisata lainnya di Lombok Barat yang membutuhkan perhatian. Ia mengaku akan membenahi semuanya, agar wisatawan dari kapal pesiar betah dan waktu kunjungannya lebih lama.
“Supaya mereka betah, objek-objek wisata yang menjadi paket tur itu harus kita siapkan. Nah ini kan gak pernah kita garap sebelumnya. Itu menjadi catatan kita,” tegasnya.
Di sisi lain, LAZ juga melihat beberapa persoalan yang ada di Pelabuhan Gili Mas dan sekitarnya. Seperti masalah lokasi parkir mobil truk yang hendak menyeberang, serta mobil atau bus travel yang akan membawa para wisatawan. “Ada dua solusinya, perbaikan Terminal Segenter atau kita cari lahan buat terminal baru di sekitar Pelabuahn Gili Mas,” pungkasnya.
Selain itu persoalan sampah menjadi salah satu yang menjadi catatan untuk ditangani pihaknya. Kepala Dinas Lingkungan Hidup Lobar M. Busyairi mengatakan bahwa pihaknya segera mengangkut sampah tersebut. Diakui di daerah itu sudah ada kendaraan untuk tempat pembuangan sampah, tetapi itu belum cukup. Meski demikian, pihaknya mengoptimalkan penanganan sampah di jalur wisata tersebut. (her)



