spot_img
Senin, Februari 23, 2026
spot_img
BerandaNTBKOTA MATARAMSepuluh Titik Rawan Dipantau, 10 Anjal dan Gepeng Diamankan

Sepuluh Titik Rawan Dipantau, 10 Anjal dan Gepeng Diamankan

Mataram (suarantb.com) – Dinas Sosial (Dinsos) Kota Mataram memetakan sepuluh lokasi yang diidentifikasi sebagai titik kumpul potensial anak jalanan, gelandangan, dan pengemis (gepeng) selama bulan Ramadan. Langkah ini dilakukan sebagai upaya menjaga ketertiban umum serta menciptakan suasana yang aman dan nyaman bagi masyarakat dalam menjalankan ibadah.

Selama pekan pertama Ramadan, Dinsos Kota Mataram telah mengamankan 10 anak jalanan dan gepeng dari sejumlah titik di wilayah Kota Mataram. Mereka kemudian didata dan diberikan pembinaan awal oleh petugas.

Pekerja Sosial Ahli Muda Bidang Rehabilitasi Dinsos Kota Mataram, Lalu Muhammad Aulia Husnurrido, mengatakan sejumlah lokasi yang menjadi perhatian antara lain Kawasan Bisnis Cakranegara (KBC), Mataram Mall, My Style, Ruby, Apollo, serta Simpang Empat Tanak Aji. Titik-titik tersebut dinilai rawan karena merupakan pusat aktivitas masyarakat, terutama menjelang waktu berbuka puasa.

“Biasanya mereka mangkal di tempat-tempat keramaian, termasuk di depan Kantor PUPR NTB, Jalan Panjitilar, hingga kawasan eks Bandara Selaparang,” ujarnya, Senin (23/2/2026).

Menurut Rido, selain anak jalanan dan gepeng, lokasi-lokasi tersebut juga kerap menjadi tempat berkumpulnya manusia silver, badut jalanan, dan anak punk. Aktivitas mereka dinilai berpotensi mengganggu ketertiban lalu lintas maupun kenyamanan pengguna jalan.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, Dinsos Kota Mataram menyiagakan 42 personel yang disebar di sejumlah titik rawan. Petugas melakukan patroli rutin, terutama pada sore hari hingga malam hari, saat intensitas aktivitas masyarakat meningkat.

Ia menjelaskan, anak jalanan yang menjajakan risoles di persimpangan jalan umumnya berasal dari wilayah Pejeruk, Kota Mataram. Sementara itu, badut jalanan kebanyakan berasal dari Labuapi dan Lingsar, Kabupaten Lombok Barat.

“Untuk manusia silver dan anak punk, banyak yang berasal dari luar NTB. Ada juga anak-anak yang berjualan nanas hingga pisang, sebagian besar dari Kuripan, Lombok Barat,” tambahnya.

Rido menegaskan, setiap individu yang terjaring razia tidak serta-merta dikenai sanksi, melainkan diberikan pembinaan dan pendataan. Jika ditemukan masih berusia anak, pihaknya akan berkoordinasi dengan keluarga maupun instansi terkait untuk penanganan lebih lanjut.

Dinsos Kota Mataram memastikan penertiban akan dilakukan secara berkelanjutan selama Ramadan. Selain penindakan, pihaknya juga mengedepankan pendekatan persuasif dan edukatif guna menekan keberadaan anjal dan gepeng di ruang-ruang publik Kota Mataram. (pan)

IKLAN
RELATED ARTICLES
IKLAN




VIDEO