spot_img
Selasa, Februari 24, 2026
spot_img
BerandaNTBKOTA BIMARamadan Minim Sampah

Ramadan Minim Sampah

Kota Bima (Suara NTB) – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bima, mengajak masyarakat menerapkan gaya hidup minim sampah selama bulan suci Ramadan. Tujuannya menekan peningkatan volume sampah rumah tangga, terutama dari aktivitas berburu takjil, buka puasa bersama, dan sahur.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Bima, Syahrial Nuryadin mengatakan, produksi sampah biasanya meningkat signifikan selama Ramadan. Sampah didominasi plastik sekali pakai dan sisa makanan. Kondisi ini dinilai perlu diantisipasi melalui perubahan kebiasaan masyarakat sejak awal bulan puasa.

“Ramadan adalah momentum memperkuat ibadah sekaligus menjaga lingkungan. Kami mengajak masyarakat mengurangi sampah, agar nilai ibadah berjalan seiring dengan tanggung jawab terhadap kebersihan kota,” ujarnya, Senin, 23 Februari 2026.

Menurutnya, peningkatan aktivitas konsumsi selama Ramadan berpotensi menambah beban pengelolaan sampah, sehingga perlu diimbangi dengan kesadaran masyarakat. Ia menilai langkah sederhana di tingkat rumah tangga dapat memberi dampak signifikan terhadap pengurangan timbulan sampah harian.

Oleh karena itu, pihaknya mendorong masyarakat membiasakan membawa wadah makanan dan tas belanja, saat membeli takjil maupun minuman. Langkah tersebut dinilai efektif mengurangi penggunaan kemasan plastik sekali pakai yang sulit terurai.

“Kami mengimbau warga membawa wadah sendiri ketika membeli makanan berbuka. Kebiasaan kecil ini dapat menekan sampah kemasan yang selama Ramadan jumlahnya meningkat,” kata Syahrial.

Selain itu, masyarakat juga diminta mengurangi pengambilan makanan berlebih. Sisa makanan menjadi salah satu penyumbang sampah organik terbesar selama bulan puasa. Pengambilan makanan secukupnya sekaligus dinilai sejalan dengan nilai keagamaan yang menghindari pemborosan.

Ia juga mengajak pelaku usaha kuliner memilih kemasan ramah lingkungan, seperti daun atau kertas, serta mengurangi penggunaan styrofoam. Material tersebut dinilai sulit terurai dan berpotensi mencemari lingkungan dalam jangka panjang.

“Kami berharap pedagang turut berpartisipasi dengan menggunakan kemasan yang lebih ramah lingkungan. Upaya ini membutuhkan dukungan bersama antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat,” ujarnya.

Selain pengurangan sampah, ia mendorong masyarakat menyalurkan kelebihan makanan melalui sedekah atau donasi kepada warga yang membutuhkan. Langkah ini dinilai dapat menekan pemborosan sekaligus meningkatkan nilai sosial Ramadan.

Kampanye ramadan minim sampah merupakan bagian dari edukasi berkelanjutan, untuk membangun kesadaran lingkungan di masyarakat. Pemerintah daerah berharap kebiasaan ramah lingkungan tidak hanya diterapkan selama Ramadan, tetapi menjadi pola hidup sehari-hari.

“Menjaga kebersihan lingkungan adalah bagian dari iman dan tanggung jawab bersama. Kami ingin Ramadan menjadi momentum perubahan perilaku menuju kota yang lebih bersih dan sehat,” pungkasnya.

Ia menargetkan penurunan volume sampah selama Ramadan sekaligus meningkatkan partisipasi masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan secara kolektif. Pemerintah berharap gerakan tersebut dapat memperkuat kesadaran publik bahwa ibadah dan kepedulian lingkungan merupakan satu kesatuan nilai yang tidak terpisahkan. (hir)

IKLAN
RELATED ARTICLES
IKLAN




VIDEO