Mataram (suarantb.com) – Pemerintah Kota Mataram menyiapkan anggaran sebesar Rp400 juta untuk membangun kolam retensi seluas 20 are yang dilengkapi dengan taman. Lokasinya berada di sisi selatan kantor baru Wali Kota Mataram di Jalan Gajah Mada.
Pembangunan kolam retensi ini menjadi salah satu langkah strategis untuk mengatasi persoalan genangan yang kerap terjadi setiap tahun di kawasan selatan Kota Mataram. Selama ini, luapan air saluran drainase sering menyebabkan genangan di sejumlah ruas Jalan Dr. Soedjono, mulai dari Gedung DPRD Kota Mataram hingga Kantor Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN).
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Mataram, Lale Widiahning, mengatakan rencana pembangunan kolam retensi tersebut telah mendapat persetujuan Wali Kota Mataram. Namun, realisasi anggarannya masih menyesuaikan dengan kemampuan keuangan daerah.
“Kemungkinan akan kami usulkan melalui Anggaran Biaya Tambahan (ABT). Mudah-mudahan juga ada anggaran lain yang bisa mendukung sehingga tahap awal bisa kami siapkan sekitar Rp400 juta dulu,” ujarnya, pekan kemarin.
Ia menjelaskan, anggaran Rp400 juta tersebut akan difokuskan untuk penataan tahap awal, meliputi pembangunan dinding kolam, pembuatan bendungan kecil sebagai pintu air, serta penambahan elemen air mancur. Konsep tersebut dirancang agar kolam tidak hanya berfungsi sebagai pengendali genangan, tetapi juga menjadi bagian dari penataan estetika kota.
“Kolam retensi ini bukan yang biasa. Desainnya akan sedikit berbeda karena sekaligus kita konsepkan sebagai view kota, mengingat lokasinya berada dekat kantor Wali Kota,” kata Lale.
Menurutnya, pembangunan akan dilakukan secara bertahap. Setelah tahap awal rampung, pihaknya akan kembali menghitung kebutuhan anggaran lanjutan untuk penyempurnaan fasilitas dan penataan kawasan taman di sekitarnya.
Sebelumnya, lokasi kolam retensi sempat direncanakan di area Bale Mentaram. Tujuan utamanya adalah memperlambat laju arus air dari arah timur (hulu) sebelum mencapai wilayah pantai, sehingga volume air yang masuk ke kawasan selatan dapat dikendalikan.
Lale menilai pembuatan saluran yang langsung mengarah ke pantai kurang efektif dan berpotensi memperparah kondisi saat terjadi fenomena rob atau air pasang tinggi. Karena itu, strategi yang dipilih adalah menahan dan mengurangi volume air terlebih dahulu melalui kolam retensi sebelum dialirkan lebih lanjut.
Dengan pembangunan kolam retensi tersebut, Pemkot Mataram berharap genangan yang selama ini mengganggu aktivitas lalu lintas dan kegiatan masyarakat di kawasan selatan dapat diminimalisasi secara bertahap. (pan)


