Tanjung (suarantb.com) – Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTB, Hario K. Pamungkas, bersama Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKP3) Kabupaten Lombok Utara, Tresnahadi, mewakili Bupati Lombok Utara, menghadiri panen cabai rawit di Desa Akar-Akar, Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara, Sabtu, 28 Februari 2026.
Panen dilakukan di lahan seluas 5,5 hektare dari total sekitar 40 hektare areal tanam cabai yang dikelola, salah satunya oleh Kelompok Tani (Poktan) Beriuk Geger. Dengan produktivitas rata-rata 2–3 ton per hektare, hasil panen ini diharapkan mampu memperkuat pasokan cabai rawit di NTB saat ini.
Hario menegaskan, cabai rawit merupakan salah satu komoditas pangan yang memiliki andil besar terhadap inflasi di NTB. Pada periode hari besar keagamaan, tekanan harga kerap terjadi akibat lonjakan permintaan dan belum selarasnya waktu panen antarwilayah.
“Kesinambungan produksi dan kelancaran distribusi menjadi kunci untuk menjaga stabilitas harga serta melindungi daya beli masyarakat,” ujarnya.
Ia menjelaskan, BI terus memetakan klaster-klaster pertanian binaan untuk memastikan dukungan yang tepat sasaran. Poktan Beriuk Geger menjadi salah satu klaster binaan baru. Ke depan, BI akan memperluas pembinaan kepada kelompok tani lain di NTB yang dinilai potensial meningkatkan produktivitas hortikultura.
Bentuk dukungan yang diberikan antara lain bantuan sarana produksi pertanian, alat pertanian, serta pelatihan manajemen dan teknik budidaya. BI juga bekerjasama dengan champion cabai di NTB guna meningkatkan kapasitas petani dalam menghasilkan produktivitas yang lebih tinggi.
Hario menyebut dalam beberapa hari terakhir harga cabai rawit mulai berangsur turun. Penurunan harga ini menurutnya akan terus berlangsung , dipengaruhi tambahan pasokan dari luar daerah serta masih berlangsungnya panen di sejumlah sentra produksi di NTB.
Sementara itu, Kepala DKP3 Kabupaten Lombok Utara, Tresnahadi, menyatakanPemda KLU mendorong petani lebih masif membudidayakan cabai, terutama di lahan kering yang banyak terdapat di Kecamatan Bayan dan Kayangan.
“Selain jagung, lahan kering saat musim hujan juga sangat potensial untuk cabai. Ini yang terus kami dorong agar produksi meningkat,” katanya.
Ia mengakui harga cabai di Pasar Tanjung sempat menyentuh Rp90.000 per kilogram. Namun, pemerintah daerah terus berupaya menstabilkan harga melalui peningkatan produksi, penyaluran benih, serta pendampingan teknis kepada petani.
Pemda juga mengembangkan program Pekarangan Pangan Lestari (P2L) di tiap desa untuk mendorong masyarakat menanam cabai di pekarangan rumah. Selain memenuhi kebutuhan rumah tangga, komoditas ini dinilai mampu menjadi sumber pendapatan tambahan keluarga.
Menurutnya, pengendalian inflasi dari cabai ini memang tak bisa dilakukan masing-masing, melainkan, harus bersinergi dengan seluruh stakeholder, salah satunya Bank Indonesia.
Kepala Desa Akar-Akar, Budi Priyo Santoso, mengungkapkan hingga saat ini luas budidaya cabai di desanya mencapai sekitar 11 hektare, dengan 5,5 hektare di antaranya telah siap panen. Ia menyampaikan apresiasi atas pembinaan dan pemberdayaan yang dilakukan BI.
Menurutnya, desa memanfaatkan minimal 20 persen dana desa melalui BUMDes untuk mendukung budidaya cabai karena dinilai sesuai dengan potensi wilayah dan kualitas sumber daya manusia setempat.
“Kami siap mendukung pengendalian harga dari desa. Ke depan, kami pastikan luas tanam cabai akan lebih besar lagi,” tegasnya. (bul)


