Giri Menang (Suara NTB) – Pemkab Lombok Barat (Lobar) melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lobar mengantisipasi cuaca ekstrem dampak dua bibit siklon di Samudra Hindia yang diprakirakan BMKG. Musim kemarau bakal terjadi lebih awal, sehingga musim kemarau lebih panjang dikhawatirkan memicu kekeringan di wilayah Lobar.
BPBD mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan ekstra dalam beberapa hari ke depan. “Memang informasi dari BMKG dampak siklon diperkirakan akan terjadi kemarau lebih panjang. Tentu kalau kemarau itu apa-apa yang harus kita butuhkan, kita inventarisasi dan siapkan untuk antisipasi,” kata Kepala BPBD Lobar sekaligus Pj Sekda Lobar, H. Akhmad Saikhu, Senin, 9 Maret 2026.
Pihaknya pun telah melakukan inventarisasi berbagai potensi bencana yang terjadi pada musim kemarau panjang. Mulai dari kekeringan, kebakaran dan gagal panen petani. Bencana kekeringan di Lobar sendiri hampir semua dareah rawan. Mulai daerah Sekotong, Lembar, Gerung, Kuripan, Gunungsari dan Batulayar.
Termasuk mengidentifikasi hal-hal yang dibutuhkan dalam penanganan kemarau panjang nantinya. Sebab kata dia, kejadian kemarau semacam ini tiap tahun dihadapi, tetapi kali ini berbeda diperkirakan lebih paniang sehingga langkah atispasi pun dilalukan melalui OPD teknis.
Pihaknya memastikan kebutuhan logistik air bersih untuk dareah terdampak bencana tersedia nantinya. Masing-masing OPD yang bisa mengintervensi penanganan air bersih harus lebih awal berkoordinasi untuk langkah-langkah antisipasi. Termasuk penggunaan BTT dikoordinir oleh BPBD, OPD lainnya nanti mengusulkan kebutuhan sesuai kewenangan masing-masing.
Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi NTB mengeluarkan peringatan dini terkait potensi cuaca ekstrem dan fenomena angin kencang yang diprediksi akan melanda wilayah tersebut akibat dinamika atmosfer yang cukup signifikan.
Kondisi cuaca yang tidak menentu ini dipicu oleh kemunculan dua bibit siklon tropis yang berada di posisi strategis di sekitar perairan Indonesia. Fenomena ini menyebabkan perubahan pola cuaca yang drastis, terutama pada peningkatan kecepatan angin dan pembentukan awan hujan yang masif di wilayah NTB dan sekitarnya.
Ketua Tim Data dan Analisis Stasiun Klimatologi NTB, Bastian Andarino, menjelaskan bahwa saat ini atmosfer di sekitar wilayah NTB sedang menunjukkan aktivitas yang sangat aktif. Menurutnya, terdapat beberapa indikator utama yang menjadi penyebab meningkatnya potensi cuaca buruk ini, di antaranya adalah keberadaan dua bibit siklon di Samudra Hindia.
“Saat ini dinamika atmosfer menunjukkan aktivitas yang signifikan di sekitar wilayah NTB. Beberapa indikator utama penyebab peningkatan potensi cuaca ekstrem ini antara lain adalah adanya bibit Siklon Tropis ‘90s’ di Samudra Hindia sebelah selatan Pulau Jawa dan Bibit Siklon Tropis ‘93s’ di Samudra Hindia sebelah barat Australia,” ujar Bastian Andarino saat dikonfirmasi melalui pesan singkat.
Selain faktor bibit siklon, aktifnya berbagai gelombang atmosfer seperti Madden Julian Oscillation (MJO), gelombang Low Frequency, dan gelombang Kelvin turut memperparah kondisi. Kombinasi fenomena ini menyebabkan terjadinya perlambatan kecepatan angin di sekitar NTB serta labilitas atmosfer yang kuat, sehingga uap air terkumpul dan membentuk awan hujan secara besar-besaran dengan kelembapan udara yang sangat basah.
Satu hal yang paling dirasakan masyarakat saat ini adalah terjangan angin kencang. Bastian memaparkan bahwa fenomena angin kencang ini merupakan dampak langsung dari tarikan massa udara oleh bibit siklon ’90s’ dan ’93s’. Jika pada kondisi normal kecepatan angin rata-rata di NTB hanya berkisar antara 30 hingga 35 km/jam, saat ini kekuatannya meningkat hampir dua kali lipat.
BMKG memprediksi bahwa kondisi ini tidak akan mereda dalam waktu singkat. Selama bibit siklon tersebut masih aktif dan berada di jalur yang memengaruhi wilayah NTB, potensi cuaca ekstrem masih akan menghantui. Bastian menegaskan bahwa setidaknya dalam tiga hari ke depan, fenomena ini masih perlu diwaspadai sebelum bibit siklon tersebut meluruh atau menjauh.
Mengingat risiko yang ditimbulkan cukup besar, masyarakat diimbau untuk lebih berhati-hati, terutama saat beraktivitas di luar ruangan. Angin kencang dengan kecepatan hingga 60 km/jam berpotensi merusak struktur bangunan yang tidak kokoh atau menerbangkan material ringan. “Terkait fenomena angin kencang, perlu diwaspadai potensi atap-atap yang terbang tertiup angin, serta pohon-pohon tua dan baliho yang bisa saja rubuh. Masyarakat agar memperhatikan tempat-tempat tersebut,” pesannya.
Selain ancaman di daratan, BMKG juga memberikan peringatan khusus bagi masyarakat yang tinggal di kawasan pesisir dan para nelayan. Peningkatan kecepatan angin di laut dapat memicu gelombang tinggi yang berisiko menyebabkan banjir ROB (pasang air laut ke daratan). Para nelayan diminta untuk tidak memaksakan diri melaut jika kondisi gelombang tidak memungkinkan, guna menghindari kecelakaan laut yang tidak diinginkan. (her)

