Selong (Suara NTB) – Setelah melalui proses pencarian empat hari pasca menghilangnya bocah 2,5 tahun akhirnya ditemukan secara tidak sengaja oleh warga di Bendungan Kekoro Desa Sembalun Timba Gading. Bocah yang dilaporkan hilang misterius saat bermain pada Minggu (8/3/2026) ditemukan dalam kondisi meninggal pada Rabu (21/3/2026) sore.
Warga yang menemukan merupakan empat orang remaja desa setempat, yakni Hekal (17), Figal (16), Agun (15), dan Dimas (17), hendak mandi di sungai sekitar pukul 15.30 Wita. Saat tiba di lokasi, mereka melihat sebuah objek yang awalnya dikira boneka karena kondisinya sudah membengkak. “Kami kira itu boneka yang hanyut,” kata Hekal.
Hekal bersama teman-temannya ini mengakui takut melihat kondisi jasad korban yang sudah terlihat membengkak .”Kami takut setelah melihat itu adalah jasad anak kecil yang membengkak,” tuturnya.
Amaq Merli, ayah korban yang sejak empat hari terakhir terus mencari putranya, langsung bergegas menuju lokasi setelah menerima kabar tersebut. Dengan tangan gemetar, ia mengevakuasi sendiri jasad anaknya dan membawanya ke rumah duka di Dusun Dasan Kodarat.
Kepala Kantor SAR Mataram melalui Koordinator Pos SAR Kayangan, M. Darwis, A.Md., menjelaskan bahwa lokasi penemuan menunjukkan betapa jauh korban terseret arus sungai. “Jasad korban ditemukan sekitar 3 kilometer ke arah barat dari titik awal perkiraan hilangnya korban. Ini menunjukkan kuatnya arus sungai saat kejadian,” jelas Darwis.
Selama empat hari, tim gabungan yang terdiri dari Tim Rescue Kantor SAR Mataram, TNI/Polri, BPBD, Satpol PP, Damkarmat, Tagana, serta ratusan relawan dan warga, bahu-membahu menyisir sungai hingga radius empat kilometer. “Dengan ditemukannya korban, operasi SAR secara resmi dinyatakan ditutup. Doa kami menyertai keluarga yang ditinggalkan,” tutup Darwis.
Jenazah korban dimakamkan pada Rabu sore di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Desa Sembalun Lawang. Kini, suasana duka menyelimuti Dusun Dasan Kodarat. Peristiwa ini menjadi pengingat pahit bagi para orang tua akan pentingnya pengawasan ekstra terhadap anak-anak, terutama saat beraktivitas di dekat area yang berpotensi berbahaya seperti sungai.
Pihak Kepolisian Sektor Sembalun bersama tim medis yang tiba di lokasi menawarkan prosedur pemeriksaan lebih lanjut. Namun, keluarga korban dengan tegas menolak dan memilih untuk segera memakamkan jenazah.
Kapolsek Sembalun, IPTU Lalu Subadri, menyampaikan belasungkawa mendalam atas musibah tersebut. “Keluarga korban menolak dilakukan tindakan visum maupun autopsi. Mereka telah mengikhlaskan kejadian ini dan menganggapnya sebagai musibah murni. Kami menghormati keputusan keluarga di tengah masa sulit ini,” ujar IPTU Lalu Subadri saat dikonfirmasi.
Ia juga menjelaskan bahwa medan pencarian yang berat menjadi tantangan utama selama proses pencarian berlangsung.
Peristiwa nahas ini bermula pada Minggu (8/3) pagi. Saat itu, Muhammad Rapip sedang bermain di depan rumahnya yang hanya berjarak 10 meter dari bibir sungai. Ibu korban sempat meninggalkan anaknya sekitar tujuh menit, namun saat kembali, sang buah hati sudah tidak ada. (rus)

