Selong (suarantb.com) – Tahun 2025, PT Energi Selaparang diberikan penyertaan modal sebesar Rp 5 miliar. Setelah dapat suntikan dana tersebut, salah satu perusahaan milik Pemkab Lotim ini diklaim sudah mulai membaik. Sudah bisa diselamatkan dari ancaman pailit. Bahkan tahun ini diklaim sudah bisa mendatangkan keuntungan Rp19 juta.
Hal tersebut dikemukakan Pelaksana Tugas Direktur PT Selaparang Energi, Joyo Supeno, kepada Suara NTB, Rabu 11 Maret 2026. Dia mengklaim bahwa pihaknya mulai mencatatkan keuntungan pada tahun 2026 dan bisa menjadi sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) bagi Lotim
Joyo Supeno memberikan klarifikasi resmi terkait kondisi riil perusahaan pascapenyertaan modal daerah (PMD) tahun anggaran 2025.
Dalam pernyataannya, manajemen memaparkan bahwa perusahaan mendapat support modal sebesar Rp5 miliar yang dicairkan bertahap sejak Juli 2025.
“Kami akan menjawab harapan Bapak Bupati bahwa PT Energi tidak boleh merugi dengan kinerja nyata. Perkembangan terus membaik, dan saat ini kita sudah mencatatkan keuntungan sebesar Rp19 juta,” ungkap Joyo Supeno.
Menurutnya, meskipun keuntungan yang diraih masih kecil, capaian ini merupakan awal positif pasca revitalisasi besar-besaran yang dilakukan manajemen baru. “Efektivitas usaha kita baru berjalan sejak November lalu. Kami optimis pada triwulan berikutnya akan mendapat keuntungan lebih besar dan bisa memberikan dividen untuk Pendapatan Asli Daerah (PAD) Lombok Timur,” pungkasnya.
Dijelaskan lebih lanjut, sejak dana PMD cair, manajemen langsung melakukan rekayasa ulang dan pembenahan menyeluruh pada dua unit usaha, yaitu unit Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) dan unit Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN) atau Energin. Hasil temuan di lapangan menunjukkan kedua unit usaha berada dalam kondisi sangat memprihatinkan.
Untuk unit AMDK, seluruh sarana dan prasarana produksi, termasuk bangunan pabrik, harus direnovasi total karena telah mangkrak lebih dari dua tahun. Sementara unit SPBN selama kurang lebih 20 tahun nyaris tidak mendapat perhatian, dengan seluruh administrasi perizinan mati dan harus diurus dari awal.
Kondisi warisan inilah yang menjadi penyebab laporan keuangan tahun 2025 masih mencatatkan kerugian. Salah satu kontributor terbesar adalah pemusnahan bahan baku warisan yang sudah kedaluwarsa dan lapuk, dengan nilai mencapai lebih dari Rp200 juta.
“Pemusnahan ini otomatis menambah jumlah kerugian dalam laporan tahunan 2025. Kami juga mewarisi skema kerja sama dengan pihak ketiga yang membawa bunga cukup memberatkan keuangan perusahaan,” jelas Sekretaris Perusahaan atau Direktur Utama PT Energi Selaparang.
Namun, dengan petunjuk dan arahan Bupati serta Wakil Bupati Lombok Timur, kondisi mulai berbalik. Untuk unit AMDK, sejak November 2025 perusahaan mulai ekspansi pasar dengan membentuk agen-agen di seluruh kecamatan. Sementara untuk SPBN, perusahaan berupaya melakukan penambahan kuota bahan bakar untuk melayani nelayan secara maksimal.
Manajemen menegaskan bahwa setelah melalui asistensi pembukuan dengan pihak terkait, PT Energi Selaparang saat ini sudah masuk dalam kategori perusahaan yang menguntungkan. (rus)

