Dompu (Suara NTB) – Kepala Balai Taman Nasional (BTN) Tambora, Abdul Azis Bakry mengungkapkan Kawasan Wisata Gunung Tambora hingga saat ini masih ditutup. Hal ini akibat peningkatan status gunung merapi tersebut, menjadi level waspda.
“Namun ada masyarakat yang masih ketergantungan dengan kawasan dan sering ke kawasan untuk ambil madu,” ungkap Abdul Azis Bakry.
Abdul Azis mengaku, pasca peningkatan status dari level 1 atau normal ke level 2 atau waspada pada Selasa (10/2), pihaknya langsung meminta kepada kepala resort untuk koordinasi dengan pihak kecamatan dan kepala desa, kepolisian dan lain sebagainya, guna meminta masyarakat tidak masuk ke kawasan Gunung Tambora. Langkah antisipasi dilakukan agar tidak menimbulkan korban jiwa. “Kita minta menghimbau ke masyarakat untuk tidak masuk kawasan sampai dinyatakan aman dari pihak yang berwenang,” katanya.
Selain itu, pihaknya juga sudah mengeluarkan surat imbauan kepada masyarakat untuk tetap hati – hati dan waspada. Sebelumnya, Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menaikan status Gunung Tambora dari level normal menjadi waspada. Kenaikan status ini dipicu terjadinya peningkatan aktivitas vulkanik Doro Afi Toi yang ada di kawah puncak Gunung Tambora sejak periode Februari 2026 hingga peningkatan status ditetapkan pada Selasa (10/3) sekitar pukul 10.00 WITA.
Dengan status ini, masyarakat dan pengunjung diminta untuk tidak memasuki atau melakukan aktivitas di dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas Gunung Tambora. “Radius 3 km ini berada di kawah gunung Tambora. Peningkatan aktivitas vulanik ini terjadi pada Doro Afi Toi dan Doro Afi Bou yang berada dalam kaldera Tambora,” ungkap pengamat Pos Pengamatan Gunungapi Tambora di Desa Doro Peti, Kecamatan Pekat, Kabupaten Dompu, Rasyidin.
Masyarakat maupun wisatawan dilarang turun ke dasar kaldera dan mendekati kerucut parasit Doro Afi Toi maupun Doro Afi Bou. Larangan juga mendekati lubang – lubang tembusan gas yang terdapat di dasar kaldera Gunung Tambora. Dengan peningkatan aktivitas ini, berpotensi adanya bahaya guguran atau longsoran batuan pada tebing dan dinding kaldera, yang sewaktu-waktu dapat terjadi akibat ketidakstabilan lereng. (ula)

