Sabtu, April 18, 2026

BerandaNTBMasakan Ibu yang Dirindukan Saat Lebaran: Dari Beberok, Singang, Ikan Palumara, hingga...

Masakan Ibu yang Dirindukan Saat Lebaran: Dari Beberok, Singang, Ikan Palumara, hingga Opor Ayam

Mataram (suarantb.com) – Bagi sebagian perantau yang bekerja atau belajar di tanah orang, mudik lebaran adalah momen yang mereka nantikan. Mudik lebaran tidak hanya berarti pulang ke rumah untuk bertemu sanak keluarga, tapi tentang melepas rindu pada masakan ibu yang lama tak dirasakan.

Seperti yang dirasakan Desianur (19) seorang mahasiswa Unram asal Desa Tambe, Kecamatan Bolo, Kabupaten Bima. Selama dua tahun Desy menetap di Mataram untuk berkuliah dan selama itu pula ia jarang mencicipi masakan rumah.

“Sebagai seorang perantau, hal yang sangat saya rindukan adalah masakan Mama. Entah itu saat sakit atau terlalu lama berada di tanah orang, masakan ibu menjadi nomor satu yang saya rindukan,” ungkapnya kepada Suara NTB, Jumat (20/3/2026).

Masakan rumah yang paling ia sukai adalah Ikan Palumara dan Semur Ayam buatan ibunya. Karena itu, bila rindu masakan rumah, Desy kerap menelepon ibunya untuk dikirimi. Cara lain, adalah dengan mencoba memasak sendiri di kos, meskipun lebih sering kecewa karena cita rasanya sama sekali tak sama.

“Saya rasa perbedaannya terletak pada cinta dan keringat ibu yang tidak bisa terganti,” tuturnya.

Melepas Rindu pada Masakan Ibu

Kini, ia telah pulang ke kampungnya di Bima. Selama dua tahun mengenyam pendidikan di Mataram, waktunya berkumpul dengan keluarga dan tentunya melepas rindu pada masakan Mama. Bagi Desy, lebaran bukan hanya perayaan setahun sekali, tapi lebih ke bagaimana introspeksi diri.

“Untuk saya, lebaran itu bukan cuma sekadar ajang silaturrahmi atau perayaan keagamaan, tapi untuk pulang ke rumah dan diri sendiri, bagaimana saya mereset tombol kehidupan,” pungkasnya.

Heni Ismayanti, Mahasiswa asal Praya Tengah, Lombok Tengah merasakan hal serupa. Meski hanya delapan bulan belajar di Yogyakarta, mudik ke kampung halaman tetap jadi momen yang ia nantikan.

Heni mengatakan, meski banyak hal indah dan menarik di Jogja, dengan beragam makanan daerah dari segala asal penjuru, kerinduan pada masakan ibu tetap tak tergantikan.

“Sebenarnya banyak makanan daerah di sana termasuk masakan Lombok, cuma cita rasanya tentu berbeda,” ujarnya.

Terlebih, karakter makanan Jogja yang menurutnya cenderung manis, sementara lidah Lombok-nya yang terbiasa pedas dan asin. Masakan rumah yang paling ia rindu cukup sederhana; terong bakar, ayam, tempe, tahu goreng, sayur-sayuran dari sawah. Lengkap dengan sambal goreng atau sambal beberok khas Lombok.

“Kadang ketika merindukan masakan ibu saya, ada sebuah warung makan bernama ayam dan bebek goreng Mas Budi di dekat UGM. Sambal gorengnya yang cukup mirip dengan masakan ibu saya cukup bisa mengobati kerinduan itu,” cerita Heni.

Di momen lebaran ini, ia berkesempatan pulang ke rumah dan merayakan hari besar Umat Islam itu bersama keluarga.

“Di rumah, kami merayakan lebaran seperti biasanya, merapikan rumah, dan memasak opor ayam serta lontong yang tidak pernah terlupakan,” imbuhnya.

Dias Agustian (21), Mahasiswa UNW Mataram asal Desa Sepayung, Kecematan Plampang, Sumbawa Besar, juga demikian. Selain orang tua, teman, dan keluarga, hal yang paling ia kangeni adalah masakan rumah.

Masakan Ibu Saat Lebaran Jadi Favorit Keluarga

Di antara banyaknya makanan, Sepat dan Singang atau Kuah Kuning buatan ibu merupakan favoritnya. Cita rasa Singang, dengan kuah yang berempah serta cenderung pedas-asam segar. Lalu, Sepat dengan kuah cenderung lebih cair dan beraroma khas; hasil perpaduan bahan-bahan yang dibakar, ditambah bumbu mentah atau asam muda lengkap dengan ikan bakar yang masih panas, membuatnya tak mampu menahan rindu.

“Kedua masakan itu harus dari tangan ibu saya,” kata Dias.

Begitu juga bagi Aril Amanda Kutajeng (28) seorang Sales Supervisor, yang telah merantau 11 tahun lamanya. Setelah menetap lama di Mataram, ia akhirnya kembali ke kampung halaman di Belitung, Sumatra.

“Yang paling aku rindukan itu kumpul keluarga. Sama makanan. Karena keluargaku rata-rata memang perantau dan tinggal berjauhan, lebaran itu jadi satu-satunya momen utama kita ngumpul bareng,” kata Aril.

Masakan ibu saat Lebaran yang jadi favoritnya adalah Opor Ayam. Saat rindu masakan rumah, menghubungi ibu adalah caranya melepas kangen. “Tapi, kalau di perantauan kangennya cuma bisa dipendam. Sampai nanti pulang, baru dipuas-puasin makan,” tuturnya.

Baginya, makna lebaran bukan hanya soal selebrasi keagamaan, tapi tentang merajut hubungan kekeluargaan. “Aku selalu memaknai lebaran itu sebagai tradisi sosial dan sarana nguatin silaturahmi dengan keluarga,” pungkasnya.

Mudik lebaran memang momen setahun sekali. Momen Lebaran bukan hanya soal merayakan hari besar agama, tapi juga tentang upaya merekam kembali momen-momen bersama keluarga, termasuk merasakan masakan ibu yang tiada duanya. (sib)

IKLAN

RELATED ARTICLES

IKLAN





VIDEO