Senin, April 6, 2026

BerandaNTBDOMPUGabah Petani Tidak Terserap, Puluhan Petani Spontan Blokir Jalan di Kandai Dua

Gabah Petani Tidak Terserap, Puluhan Petani Spontan Blokir Jalan di Kandai Dua

Dompu (Suara NTB) – Puluhan petani padi di Kelurahan Kandai Dua, Kecamatan Woja spontan melakukan aksi blokir jalan pada, Sabtu, 4 April 2026 sekitar pukul 21.30 WITA. Aksi itu dipicu oleh tidak adanya pembeli gabah sejak Lebaran Idulfitri,sehingga memicu penumpukan gabah.

Massa membakar ban bekas di jalan depan Masjid Qusurul Jannah, Kelurahan Kandai Dua dan menutup jalan dengan sepeda motor, agar tidak bisa dilewati kendaraan. Mobil truk yang mengangkut gabah dan hendak melintas, juga nyaris jadi sasaran amukan warga.

Aksi ini akhirnya bisa kendalikan dan tidak sampai menimbulkan tindakan anarkis. Ketiga truk itupun terpaksa disuruh putar balik ke arah Terminal Ginte dan menuju arah Sumbawa melalui Jalan Ompu Biko. Padi itu dikabarkan hendak dibawa ke Sumbawa oleh pemiliknya, karena gudang–gudang di Dompu tidak mampu dengan cepat menampung gabah petani. Kondisi ini menyebabkan antrian panjang kendaraan truk pengangkut gabah di sejumlah gudang.

Pj. Sekda Dompu, H. Khairul Insyan, SE., MM pun menemui massa aksi bersama Ketua Komisi III DPRD Dompu, H. Muhammad Ikhsan, S.Sos bersama tokoh masyarakat Kandai Dua. Ia berjanji akan segera merapatkan bersama BULOG dan mitra bisnisnya di Dompu membahas soal penyerapan gabah.

“Pak Sekda sudah janji, besok pagi bersama DPRD perwakilan kita akan mengadakan rapat dengan Bulog dan mitranya terkait penyerapan gabah. Setelah itu mereka akan turun ke lapangan,” ungkap Supratman, tokoh masyarakat Kandai Dua di hadapan massa aksi dan didampingi Pj. Sekda dan Ketua Komisi III DPRD Dompu.

Aksi blokir jalan yang dilakukan warga Kandai Dua itu sendiri, kata Supratman, sebagai bentuk kekecewaan mereka, karena tidak ada pembeli gabah baik dari Bulog maupun tengkulak. Kalau pun ada tengkulak yang beli, harganya jauh di bawah HPP yang ditetapkan sebesar Rp6.500 per kg.

“Kami sebagai petani, tidak menuntut sesuai harga HET sesuai yang dibeli Bulog. Tapi mengharapkan lancar membeli di tengah–tengah sawah, walaupun harga Rp6.200-6.300 per kilogram. Petani menerima dengan hati yang lapang. Yang penting penyerapan gabah setiap hari berjalan lancar. Ini tidak ada yang mengambil (serap) padi,” jelasnya.

Kondisi ini mulai terjadi sejak lebaran Idulfitri, gudang – gudang pengusaha tutup selama sepekan dan tidak ada penyerapan gabah. Ketika gudang mulai menyerap, gabah petani membludak dan menyebabkan over kapasitas, sehingga beberapa gudang menutup penyerapan sementara.

Petani pun tidak bisa lagi menunda panen, karena gabahnya sudah lewat masa panen dan dikhawatirkan akan rontok. Panen serentak dan terbatasnya kapasitas pembelian Bulog menyebabkan adanya dugaan permainan ini.

“Dengan spontanitas, masyarakat Kandai Dua (melakukan aksi blokir jalan). Karena gabah – gabah yang baru dipanen satu dua hari itu masih menumpuk di pinggir jalan. Karena pembeli tidak ada. Kedua, saya konfirmasi Babinsa, jadwal di Kecamatan Woja, khusus di Kelurahan Kandai Dua tidak pernah diambil (diserap) oleh Bulog,” ungkap Suptratman.

Sementara itu, Bulog Cabang Bima yang membawahi wilayah Kabupaten Dompu langsung merespon tuntutan petani di Kelurahan Kandai Dua setelah digelar rapat bersama pemerintah daerah pada Minggu (5/4) siang.

Pinca Bulog Bima, Alfan yang dihubungi mengaku, Bulog tetap melakukan penyerapan gabah petani di Dompu. Karena kondisi panen raya hampir bersamaan di semua lokasi, membuat penyerapan tidak merata. “Kondisi panen raya hampir semua lokasi panen bersamaan. Untuk penyerapannya dilihat kapasitas dryer dari mitra pengolahannya,” ungkap Alfan.

Ia pun mengaku, telah merespon tuntutan petani di Kelurahan Kandai Dua dengan turun langsung bersama Ketua DPRD Dompu, Ir. Muttakun dan Pj Sekda Dompu, H Khairul Insyan, SE., MM di kawasan pertanian warga. “Ini masih dalam proses penyerapan gabah petani,” jawabnya melalui pesan WA. (ula)

IKLAN

RELATED ARTICLES

IKLAN




VIDEO