Kamis, April 9, 2026

BerandaEKONOMIProduksi Vanili Organik NTB Anjlok Diserang Penyakit

Produksi Vanili Organik NTB Anjlok Diserang Penyakit

Mataram (Suara NTB) – Produksi vanili organik di NTB mengalami penurunan signifikan hingga 40 persen akibat serangan penyakit busuk batang. Kondisi ini menjadi tantangan serius bagi eksportir, di tengah upaya menjaga eksistensi pasar ekspor yang masih terbuka, terutama ke Amerika Serikat.

Eksportir vanili, H. Mohir Ali, mengungkapkan bahwa meskipun produksi menurun, aktivitas ekspor tetap berjalan. Bahkan pada awal bulan lalu, pihaknya masih melakukan pengiriman ke pasar Amerika, meski dalam volume terbatas.

“Kalau perkembangan pasar, kita masih eksis. Tanggal 1 kemarin kita ada ekspor ke Amerika, walaupun tidak banyak. Sekarang ini kita juga sedang mempersiapkan ekspor tahun 2026, termasuk proses audit standar organik untuk pasar Amerika,” ujarnya, Kamis, 9 April 2026.

Ia menjelaskan, saat ini pihaknya tengah melakukan audit terhadap petani vanili, khususnya untuk memastikan standar organik sesuai dengan ketentuan pasar internasional. Upaya ini penting agar produk vanili NTB tetap memiliki daya saing di pasar global.

Dari sisi permintaan, Mohir mengakui adanya sedikit perlambatan, terutama akibat kondisi geopolitik global yang berdampak pada industri hilir. Namun, untuk produk vanili organik, permintaan justru cenderung stabil bahkan meningkat.

“Memang ada pengaruh situasi global, mungkin dari perang, sehingga produk turunan vanili di sana agak melambat. Tapi kebutuhan tetap ada. Bahkan untuk organik, permintaan tidak turun, justru lebih tinggi,” jelasnya.
Berbeda dengan vanili konvensional yang mengalami tekanan harga, harga vanili organik relatif stabil. Hal ini menjadi peluang tersendiri bagi pelaku usaha yang mampu mempertahankan standar organik.

Untuk tahun 2026, Mohir menargetkan ekspor vanili organik mencapai sekitar 4 ton, dengan total produksi diperkirakan sebesar 6 ton yang seluruhnya diarahkan ke pasar Amerika Serikat.

Namun demikian, tantangan terbesar saat ini justru berasal dari sisi produksi. Ia mengungkapkan, luas lahan vanili organik mengalami penyusutan dari sebelumnya 180 hektar menjadi sekitar 120 hektar yang tersebar di Kabupaten Lombok Utara dan Lombok Timur.

Penurunan ini dipicu oleh serangan penyakit busuk batang (fusarium) yang merusak tanaman vanili. Akibatnya, banyak petani terpaksa meninggalkan lahan lama dan harus mencari lahan baru untuk penanaman.

“Kalau sudah kena penyakit ini, tidak bisa dipertahankan. Harus pindah lahan. Ini bukan ekspansi, tapi penggantian lahan,” katanya.

Selain itu, kendala regulasi juga menjadi hambatan dalam pengembangan vanili organik. Untuk mendapatkan sertifikasi organik, petani membutuhkan rekomendasi dari dinas kehutanan terkait status lahan yang bebas dari penggunaan bahan kimia.

Saat ini, meskipun terdapat lebih dari 50 petani vanili di Lombok Timur, tidak semuanya dapat diklaim sebagai produsen organik karena belum memenuhi persyaratan administrasi tersebut.

“Kita butuh rekomendasi dari dinas kehutanan. Tanpa itu, kita tidak bisa klaim produk sebagai organik, karena itu syarat utama,” tegasnya.

Ia berharap adanya dukungan dalam hal regulasi dan fasilitasi lahan, agar produksi vanili organik dapat kembali meningkat dan memenuhi permintaan pasar global yang masih terbuka lebar. (bul)

IKLAN

RELATED ARTICLES

IKLAN




VIDEO