DALAM kurun waktu tiga bulan terjadi 82 kasus rabies di NTB. Berdasarkan data Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakkeswan) NTB menunjukkan kasus rabies didominasi di wilayah Sumbawa dengan total 78 kasus. Dengan rincian Januari 21 kasus, Februari 29 kasus, Maret 28 kasus. Dan di Bima ditemukan 4 kasus.
Kepala Disnakkeswan NTB, Muhamad Riadi mengatakan meski wilayah lain di Pulau Sumbawa belum melaporkan kasus rabies, namun ia mengaku kondisi ini belum tentu aman, mengingat potensi penyebaran yang cepat.
“Tapi alhamdulillahnya kita sampai saat ini di Lombok belum ada rabies. Dipastikan nihil rabies kita ya di Lombok,” ujarnya.
Di Pulau Lombok, kurang dari sepekan telah terjadi dua insiden serangan anjing liar terhadap anak-anak di kecamatan berbeda, dengan satu kasus berujung kematian. Peristiwa pertama terjadi pada Senin, 13 April 2026 lalu di Dusun Presak, Desa Semaya, Kecamatan Sikur, Lombok Timur. Korban, Riadil Jinan (11), siswa kelas IV MI Darul Fikri Gelogor Semaya, diserang empat ekor anjing liar saat bermain layang-layang di area persawahan sekitar 600 meter dari rumahnya.
Belum genap sepekan, insiden serupa kembali terjadi. Pada Senin, 20 April 2026, seorang siswa berusia 10 tahun diserang anjing liar saat bermain di halaman rumahnya di Desa Sakra Selatan, Kecamatan Sakra, Lombok Timur. Hingga kini, anjing yang menggigit masih dalam proses pencarian untuk dilakukan pengambilan sampel otak guna diuji di laboratorium Denpasar, apakah mengandung virus rabies.
“Langkah-langkah pemerintah berkoordinasi dengan desa menuju tempat kejadian untuk dilakukan pemeriksaan dan pemantauan terhadap anjing yang menggigit. Melakukan tindakan penangkapan untuk pengambilan sampel,” beber Riadi.
Upayakan Pengadaan Vaksin Rabies
Untuk penanganan, pemerintah provinsi berupaya mengadakan vaksin rabies meskipun jumlahnya masih terbatas. Vaksin tersebut nantinya akan didistribusikan kepada masyarakat dan layanan vaksinasi akan dilakukan setelah proses pengadaan selesai.
Rabies banyak menyerang hewan liar seperti anjing, kucing, dan monyet. Kasus gigitan hewan di NTB dikatakan sudah sering terjadi. Namun, berdasarkan fenomena yang ada, anjing yang baru melahirkan memang cenderung lebih agresif.
“Namun demikian, terkait informasi adanya korban meninggal dunia pada kasus pertama, hal ini masih perlu ditelusuri lebih lanjut. Perlu dilakukan koordinasi dengan Dinas Pertanian Kabupaten Lombok Timur untuk memastikan kebenaran laporan tersebut, karena hingga saat ini belum ada laporan resmi yang masuk dalam sistem,” ungkapnya.
Sejak beberapa tahun lalu, Pemprov NTB berupaya mengendalikan populasi hewan liar demi mengurangi kasus rabies. Namun, penertiban anjing liar menghadapi berbagai tantangan. Misalnya adanya penolakan dari kelompok pecinta hewan. Meski demikian, pihaknya memastikan hingga saat ini wilayah Lombok masih bebas dari rabies. Dugaan kasus yang ada masih dalam tahap investigasi dan kepastian hanya dapat diperoleh setelah hasil uji laboratorium keluar.
“Sebagai tambahan, perlu dibedakan antara kasus gigitan hewan dan kasus rabies. Tidak semua gigitan berarti rabies. Data resmi terkait kasus rabies akan diverifikasi melalui sistem iSIKHNAS untuk memastikan keakuratan informasi,” pungkasnya. (era)

