Mataram (Suara NTB) – Kasus penganiayaan anak di daycare atau tempat penitipan anak “Little Aresha”, Yogyakarta, yang terungkap pada Jumat (24/6) lalu, memicu keprihatinan mendalam sekaligus menjadi alarm keras bagi pengelola tempat penitipan anak di berbagai daerah. Kejadian itu menjadi pembelajaran, sehingga pengelola Daycare di Kota Mataram berkomitmen untuk memastikan ruang yang aman, nyaman, dan ramah bagi tumbuhkembang anak.
Kepala Sekolah PAUD Al-Wahida Mataram, Suresmi Yulianti mengungkapkan kegeramannya atas insiden yang menimpa puluhan anak di Yogyakarta tersebut. Menurutnya, peristiwa naas itu harus menjadi pelajaran berharga bagi seluruh pengasuh untuk selalu mengedepankan etika dan kesabaran ekstra.
“Karena kalau kita berhadapan sama anak-anak itu harus besar-besar sabarnya. Jadi kita kerjanya itu pakai hati, bukan pakai otak saja,” ujarnya kepada Suara NTB, Rabu (29/4).
Sebagai bentuk keseriusan dalam memberikan pelayanan, Al-Wahida telah menerapkan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang ketat dan tertulis, mulai dari proses anak datang hingga dijemput kembali oleh orang tua.
Selain sistem operasional, kualitas sumber daya manusia (SDM) menjadi kunci utama. Pihaknya sangat selektif dalam merekrut tenaga pengasuh melalui serangkaian tes mental dan kemampuan praktis.
“Jadi dari awal wawancara itu saya biasanya melihat bagaimana dia berbicara, bagaimana dia merespons pertanyaan-pertanyaan saya ketika interview. Saya biasanya kasih studi kasus. Kami juga ada training tiga bulan. Kalau dinyatakan bagus, ya kami lanjut dengan gaji yang dinaikkan juga,” jelasnya.
Senada dengan Suresmi, Kepala Sekolah TPA & Rumah Tahfidz Balita Qurrotaa’yun Mataram, Eri Yulianti menegaskan bahwa operasional daycare wajib berlandaskan prosedur yang berlaku. Salah satu poin krusial adalah menjaga keseimbangan rasio antara jumlah pengasuh dan anak, agar pengawasan tetap maksimal.
“Kami di sini bertujuh dengan anak-anak 25 dan itu usia kelompok bermain yang banyak. Kalau bayi cuma tiga,” tutur Eri.
Meski tantangan dalam pengelolaan daycare tidaklah mudah, Eri menekankan bahwa rasa sayang kepada anak adalah syarat mutlak bagi setiap staf. Ia terus membangun komunikasi intensif dengan para pengasuh dan orang tua untuk menjaga integritas lembaga.
“Kalau penggajian mungkin nggak sebanyak tempat lain, standar lah sesuai dengan jumlah siswa kita. Yang penting mereka itu sayang sama anak-anak yang pertama,” tambahnya.
Eri berharap kasus di Yogyakarta menjadi momentum bagi seluruh pengasuh anak untuk terus berefleksi. “Kasus ini jadi pelajaran. Sama teman-teman juga kita WhatsApp orang tua do’ain kita semoga tetap sabar,” pungkasnya.
Sementara di Kabupaten Dompu, tempat penitipan anak dinilai sangat dibutuhkan bagi keluarga muda yang sibuk dengan pekerjaan.
Kepala Dinas Dikpora Kabupaten Dompu, Drs. H. Rifaid, M.Pd., mengatakan, konsep tempat penitipan anak atau daycare sebagai wadah untuk orang tua menitipkan anaknya. Sebagai wadah tidak hanya ada ibu pengasuh yang menyiapkan kebutuhan anak, tetapi juga harus ada dokter yang memeriksa kesehatan dan psikolog yang melihat tumbuh kembang anak.
“TPA itu amat sangat dibutuhkan terutama di kota. Apalagi suami istri sama–sama bekerja. Kenapa dibutuhkan, karena disamping mengasuh, dokternya memeriksa kesehatan, psikolognya mendidik psikolog anak. Ada juga pembelajaran diberikan,” jelas H. Rifaid.
Ia menjelaskan, tempat penitipan anak biasanya orang tua menitipa anak berusia 0-2 tahun. Khusus di Kabupaten Dompu, belum ada tempat penitipan anak sehingga dinilai tidak perlu dikhawatirkan. “Yang ada hanya tempat menitip anak, atau ada PAUD yang kebetulan ada tenaga yang bisa membantu orang tua menitipkan anaknya di situ,” ungkapnya.
Berdasarkan data bahwa tidak ada daycare yang resmi atau berizin. Rata-rata orang tua mengangkat pengasuh dari kalangan ibu-ibu serta kerabat dekat untuk merawat bayinya.
Rifaid mengingatkan orang tua untuk lebih berhati-hati menitipkan anaknya kepada orang lain.Tempat penitipan anak itu sebuah wadah, maka harus memiliki izin resmi dan memperhatikan keamanan di lokasi penitipan serta reputasi yang baik. (sib/ula)

