Catatan Kecil dari halaman SLBN 1 Sumbawa untuk Hardiknas 2026. Tentang partisipasi semesta yang kami rasa, Pembelajaran Mendalam yang kami lihat dan NTB Makmur Mendunia yang kami tulis melalui canting-canting batik Remis Len Rua.
Oleh: Sri Wahyuningsih, M.Pd. (Kepala SLBN 1 Sumbawa)
Setiap 2 Mei bangsa Indonesia mengenangnya sebagai Hari Pendidkan Nasional. Tema Hardiknas tahun ini “Menguatkan Partisipasi Semesta, Mewujudkan PendidIkan Bermutu untuk Semua”. Kata ‘semua’ menjadi ujian kemanusiaan ketika kita berdiri di depan ruang kelas yang isinya anak-anak tunanetra, tunagrahita, tunarungu, tunadaksa, dan autis.
Apakah ‘bermutu untuk semua’ termasuk untuk Ayu yang IQ-nya 65? Apakah ‘partisipasi semesta’ juga mau mengajak Malik yang jalannya terseok-seok? Di SLBN 1 Sumbawa, kami tidak punya teori besar untuk menjawab. Kami hanya punya halaman sekolah seluas kurang dari 1 hektar yang kami tata serapi dan seasri mungkin untuk menegaskan bahwa anak-anak kami layak berada di lingkungan yang bersih, sehat, indah dan nyaman. Kami hanya punya 3 wajan di Kantin Sehat Len Rasa yang selalu panas saat jam sekolah, 4 canting di ruang Batik Remis Len Rua yang tidak pernah berhenti menetes, 3 rak jamur tiram yang kami rawat dan kami panen setiap pagi. Dari halaman itulah kami belajar: mutu tidak selalu soal nilai rapor. Mutu adalah ketika seorang anak yang kemarin disembunyikan orang tuanya, hari ini berani menatap mata orang dan berkata, “Ini gantungan kunci buatan saya, Bu.”

Partisipasi Semesta pertama yang harus kami menangkan adalah kepercayaan orang tua yang putus asa dan enggan menyekolahkan anak-anak mereka, saat kami mengenalkan SLBN 1 Sumbawa ke pelosok-pelosok desa. Kepercayaan orang tua yang pesimis dengan masa depan anak-anaknya yang menganggap bahwa anak-anak mereka tidak perlu mendapat pendidikan, karena akan sia-sia sehingga tidak perlu repot-repot menghabiskan biaya menyekolahkan mereka. Namun, sosialisasi kami perlahan membuahkan hasil. Kami masih ingat suatu pagi 3 tahun lalu, seorang ibu datang ke sekolah menggandeng Isti, anaknya yang tunagrahita sedang. Dengan suara pelan, ia berkata “Saya ikhlas Bu, Isti tidak usah pintar, asal tidak menyusahkan orang kalau saya sudah tidak ada”. Kalimat itu menampar kami. Ternyata tugas kami, guru-guru SLB bukan hanya mengajar tetapi juga berkewajiban mengembalikan mimpi orang tua yang sudah mereka kubur sejak pertama menyadari bahwa anak-anak mereka berbeda dari yang lain.
Maka kami mencoba merintis 8 kelas vokasi: Tata Boga, Batik, Tata Busana, Kecantikan, Hidroponik, Sablon, Kriya Kayu, IT dan Masase tunanetra. Tujuannya satu: memberi bukti, bukan janji.
Pelan-pelan, bukti itu datang. Ibu Lita, Ibu Eni dan Ibu Putri guru Tata Boga, menghabiskan waktu lebih banyak di dapur, agar produk-produk tata boga dengan nama Len Rasa lolos Sertifikat Laik Higiene Dinas Kesehatan tahun 2023. Lulur Loto Motong ber-BPOM di tahun yang sama, sehingga bisa diedarkan secara luas di masyarakat. Ibu Ria, guru Tata Busana, tiap hari menemani Tara yang dulu tidak betah duduk 5 menit. Sekarang Tara bisa membuat kristik di totebag yang dijahit oleh Yoga. Sepanjang hari, Ibu Tami, Ibu Lila dan Ibu Puja menemani Syifa membuat pola, Melisa mencanting lalu dilanjutkan Beni mewarnai, Maulida yang meremis dan jadilah batik remis Len Rua. Batiknya sudah mencapai kurang lebih 500 lembar. Dipesan Pak Bupati, Wakil Bupati, Sekda, Wakil Ketua DPRD, dipakai seragam beberapa sekolah, puskesmas dan beberapa instansi.
Bapak Gubernur NTB datang menengok kami, melihat Melisa yang asyik mencanting, memegang kotak bekal karya Aan sambil mendengar keluhan salah satu wali murid yang sering kesulitan dan tidak mampu jika anaknya ke sekolah tiap hari, karena terkendala transportasi. Tiga minggu kemudian, 1 unit bus sekolah terparkir di halaman. Supirnya bilang “Titipan Bapak untuk Dovan dan teman-teman” Pak Gubernur juga membeli 10 kotak bekal karya Aan dan menjadikannya souvenir tamu-tamu provinsi. Kemudian, Ibu Wakil Gubernur membeli banyak talenan karya Nugrah.
Selain dari pemerintah, partisipasi semesta juga berwajah dunia usaha yang membuka pintu. Dan di sinilah letak perubahan paling menggetarkan kami. Kami tidak akan lupa. Beberapa tahun lalu, lulusan kami pulang membawa cerita yang sama: kerja serabutan, angkut-angkut, tukang parkir, apa saja yang penting halal. Pekerjaan-pekerjaan yang hanya memerlukan tenaga, bukan keterampilan. Sebagai guru yang telah mendidik mereka selama 12 tahun kami hanya bisa menunduk “Apa kami kurang pandai mendidik mereka?”.
Tapi Allah membolak-balikkan keadaan. Hari ini dengan mata berair dan segala kerendahan hati, kami menyaksikan mereka bekerja di sektor-sektor yang menuntut keterampilan, ketelitian dan tanggungjawab. Ada Rizki yang serius dari balik gudang Alfamart sebagai admin mencatat barang-barang masuk dan keluar, ada Dani yang telaten di mesin jahit Manna Konveksi, ada Erik yang bekerja di Percetakan Pajenang.
Apa yang berubah? Bukan anaknya. Anaknya sama. Yang berubah adalah ekosistemnya, sekolah yang lingkungannya kini asri dan rapi dengan ruang-ruang sederhana namun produktif tempat anak-anak praktek vokasi. Guru-guru yang arah pembelajarannya jelas lalu mengeksekusi di kelas dengan telaten, sabar dan ikhlas. Masyarakat yang lebih membuka pintu, pemerintah yang hadir dengan kebijakan. Inilah partisipasi semesta yang nyata. Di NTB, ada lebih kurang 21.000 lebih penyandang disabilitas. Mereka adalah salah satu dari semesta yang dimaksud Hardiknas. Tugas kita memastikan mereka tidak hanya dihitung, tetapi diajak bertumbuh dari ‘hanya tenaga’ menjadi ‘punya karya’.
Ketika Pembelajaran Mendalam menargetkan 8 profil lulusan, kami menerjemahkannya menjadi 1 pertanyaan: “Setelah lulus, anak ini bisa hidup dari apa” Jawabannya tidak bisa ditulis di LKS,harus dirasakan. Nalar kritis lahir ketika Kinanti bilang, “Bu, kalau terigu naik, kita rugi. Kita ganti ukuran kue saja,”
Kreatif muncul saat Melisa usul motif batik baru, agar lebih beragam pilihan pembeli.
Mandiri adalah ketika Beni, Melisa, Maulida dan Syifa lembur mengerjakan pesanan batik lalu David dan Yoga menjahit batik-batik tersebut menjadi kemeja dan blouse siap pakai. Mereka tidak bisa mendengar tepuk tangan, tetapi ia bisa melihat karyanya dipakai orang banyak.
Gotong royong adalah napas kebun jamur: Wahyu dan Septa yang yang tunagrahita bertugas menata baglog, temannya Dika bertugas menyiram. Guntur yang downsyndrom memberi makan ikan-ikan di kolam yang di atasnya berdiri hidroponik dengan sawi pakcoy yang tumbuh subur karena dirawat oleh Iqbal. Tahun 2024, kebun ini menyumbang nilai banyak saat lomba sekolah sehat. Juara 1 saat itu.
Sehat bukan hanya fisik. Sehat adalah ketika anak-anak tunarungu yang dulu tidak percaya diri dan hanya bergaul dengan sesama tunarungu saja, sekarang dengan penuh percaya diri PKL berbaur dengan anak-anak SMK di Percetakan Pajenang, di Salon Rasta, di Catering Ar-Rahmah. Saat PKL tahun pertama berjalan, Owner Pajenang mengirim pesan melalui What’sApp “Awan bekerja sangat rapi, teliti, tekun dan rajin Bu”. Ibu Isna membaca What’sApp itu sambil menghapus air mata. “Saya tidak ngajar apa-apa Pak, Awan yang mau belajar.”
Iman dan takwa kami semai paling pelan, sebelum panen jamur, sebelum buka wajan, anak-anak diminta diam sejenak. Bukan untuk doa yang panjang. Hanya untuk berbisik, “Terima kasih, ya Allah,”.
Lalu suatu sore di awal bulan April 2026, pukul 15.12 WITA, HP di ruang guru bergetar. Pesan What’sApp dari Neli, siswi tunarungu. Isinya tangkapan layar: “Selamat! Anda lulus SNBP 2026 Universitas Negeri Malang, Prodi Pendidikan Luar Biasa.” Ruang guru senyap. Lalu pecah. Ibu Lita sesenggukan. Pak Ragil istighfar berulang-ulang. Ibu Cana yang selalu mendampingi Neli menyiapkan berkas-berkas SNBP, langsung sujud di lantai. Sepanjang sejarah inilah pertama kali lulusan kami diterima di Universitas Negeri. Kami tidak berani bilang ini karena kami hebat. Kami hanya tukang tanam. Yang menumbuhkan tetap Allah, lewat tangan banyak orang.
Visi NTB Makmur Mendunia bagi kami sangat sederhana. Makmur itu ketika ibunya David tidak lagi pinjam uang ke rentenir untuk membeli bibit padi saat mulai musim tanam, karena David dengan bangga dan senang hati memberi Ibunya uang yang dia kumpulkan dari hasil menjahit baju-baju batik pesanan di Len Galeri. Makmur itu ketika bapaknya Dani mengabari bahwa tabungannya Dani sudah banyak dari gajinya bekerja selama 2 tahun di Manna Konveksi. Makmur itu ketika dagangan jamur dan sayuran Zaldi hasil dari kebun sekolah selalu habis diborong oleh pegawai-pegawai kantor tetangga sekolah, lalu dia pulang membawa uang keuntungannya untuk ibunya membeli beras. Makmur adalah ketika ratusan lembar batik Remis Len Rua karya Melisa dkk, dipakai oleh ASN-ASN dari berbagai instansi dan sekolah sebagai seragam, ketika Flash Card karya Erik dibeli oleh guru-guru sekolah reguler sebagai media pembelajaran di kelas. Itulah makmur versi kami.
“Mendunia”-nya? Ketika orang dari luar Sumbawa melihat film dokumenter tentang pelaksanaan sekolah penggerak pada September 2024 lalu. 12 orang dari Kemdikbudristek RI datang ke seokolah untuk meliput yang belakangan kami tahu bahwa kami satu-satunya SLB di Indonesia yang diajak berperan. Ketika film itu diputar lalu orang-orang dari luar NTB berkomentar “Oh, di NTB SLB-SLBnya punya lulusan yang bisa kerja, bisa kuliah, bisa berkarya.
Usaha kami masih jauh dari berhasil. Jalan masih panjang. Stigma masih tebal. Tapi setiap pagi, ketika melihat Angga dan seokolahyapa pembeli di kantin, David dan Yoga mengayuh mesin jahit, Awan menatap layar desainnya, Melisa menjalankan cantingnya dengan telaten, dan Neli mengepak koper ke Malang, kami tahu: pendidikan itu bekerja. Sekolah ini, dan kami yakin semua sekolah, sedang belajar menjadi jembatan. Jembatan antara anak-anak dengan masa depannya. Kepada para guru-guru SLB, pekerjaan kita mungkin tidak banyak tepuk tangan. Tapi setiap sendok mie ayam dan soto yang disantap lahap dan nikmat oleh tamu-tamu kantin, setiap lembar batik yang terjual, setiap sentuhan jari-jari lembut Andin yang memijit kepala pelanggan salon, setiap “Assalamualaikum” dari Putri yang selalu mengambil tangan kita lalu menciumnya, itulah sorak sorai yang tidak terdengar dunia, tapi dicatat langit. Selamat Hari Pendidikan Nasional 2026.

