Mataram (Suara NTB) – Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Mataram akan melaksanakan pembangunan ruang kelas baru dan rehabilitasi bangunan di tujuh sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP) pada 2026. Program tersebut didukung anggaran sekitar Rp2,2 miliar yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2026.
Tujuh sekolah yang masuk dalam program pembangunan dan rehabilitasi tersebut meliputi SDN 44 Cakranegara, SDN 30 Cakranegara, SDN Model Mataram, SDN 13 Ampenan, SMPN 8 Mataram, SMPN 17 Mataram, dan SMPN 19 Mataram.
Kepala Bidang Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan Kota Mataram, Syarafudin, mengatakan dari total tujuh sekolah tersebut, empat sekolah mendapat pembangunan ruang kelas baru, sedangkan tiga sekolah lainnya menjalani rehabilitasi bangunan.
“Pelaksanaannya sudah mulai dengan sistem pengadaan langsung (PL). Total anggarannya untuk SD dan SMP mencapai Rp2 miliar lebih,” ujarnya, Rabu (20/5).
Ia menjelaskan, pembangunan ruang kelas baru merupakan lanjutan dari proyek tahun 2025 yang sempat tertunda akibat pelaksanaan kontrak tender tidak sesuai target penyelesaian pada Desember tahun lalu. Salah satu proyek yang dilanjutkan berada di SMPN 17 Mataram.
Menurut Syarafudin, pembangunan tersebut dilakukan untuk mendukung kenyamanan dan kelancaran proses belajar mengajar, sekaligus memenuhi kebutuhan ruang kelas di sejumlah sekolah yang mengalami keterbatasan fasilitas.
Sementara itu, rehabilitasi bangunan dilakukan pada sekolah yang kondisi fisiknya dinilai memerlukan penanganan segera. Salah satunya di SDN 13 Ampenan yang mengalami kerusakan pada ruang kelas dan atap bangunan.
“Itu dua titik, rehab ruangan dan atap kelas karena bangunannya sudah lama. Jangan sampai terjadi seperti yang di SMAN 7 Mataram,” katanya.
Untuk rehabilitasi di SDN 13 Ampenan, Disdik mengalokasikan anggaran sekitar Rp300 juta. Perbaikan difokuskan pada ruang kelas yang mengalami kemiringan serta atap bangunan yang sudah lapuk dan dinilai berpotensi membahayakan keselamatan siswa maupun guru.
Syarafudin menyebutkan, besaran anggaran di masing-masing sekolah berbeda-beda, bergantung pada tingkat kerusakan dan kebutuhan pembangunan. “Ada yang Rp400 juta sampai Rp200 juta,” sebutnya.
Meski demikian, ia belum merinci secara detail alokasi anggaran untuk masing-masing sekolah, baik yang mendapat pembangunan ruang kelas baru maupun rehabilitasi bangunan.
Di sisi lain, terkait pengajuan bantuan anggaran pembangunan sekolah ke pemerintah pusat, Syarafuddin mengatakan hingga kini belum ada realisasi. Sebelumnya, Disdik Kota Mataram telah mengusulkan revitalisasi terhadap 15 SMP dan 30 SD.
Namun, menurutnya, sekolah-sekolah yang diajukan masih harus melalui proses seleksi kelayakan dari pemerintah pusat sebelum mendapatkan bantuan anggaran revitalisasi. (pan)

