Giri Menang (Suara NTB) – Para petani di Dusun Sambi Ratik, Desa Banyu Urip, Kecamatan Gerung, Kabupaten Lombok Barat (Lobar) rata-rata hidup dalam kondisi miskin ektrem. Kondisi ini dipicu, lahan pertanian mereka tergolong tadah hujan, sehingga sering kali gagal panen akibat tidak ada air irigasi.
Hampir 50 tahun lamanya para petani bergantung dari air hujan untuk mengairi sawahnya. Tak terhitung berapa kerugian yang mereka alami. Namun, itu cerita dulu. Sekarang, mereka tidak lagi mengalami krisis air irigasi, setelah bantuan program Irigasi Perpompaan atau Optimasi Lahan (Oplah) dari Kementerian Pertanian.
Irpom ini sudah bisa dirasakan dampaknya oleh para petani di wilayah itu. Para petani di daerah itu mengaku tidak lagi kesulitan air untuk irigasi ketika membutuhkan air untuk tanaman padi. Air tampungan di embung yang disedot dari sungai sekitar tersedia berlimpah.
Dibanding sebelum ada bantuan ini, petani di wilayah itu selalu mengalami dua masalah. Masalahnya adalah gagal panen dan gagal tanam karena kekurangan air. “Alhamdulillah dengan adanya program Oplah ini, masyarakat petani kami bisa menanam dua bahkan sampai tiga kali. Ini merupakan satu anugerah bagi kami masyarakat Dusun Sambik Ratik khususnya dan desa Banyu Urip umumnya,” kata Ketua Gapoktan Berkah Subur Dusun Sambi Ratik, H. Zulhakim.
Luas lahan yang diairi dari Oplah di daerah tersebut seluas 130 hektare dari total keseluruhan areal pertanian di dusun tersebut mencapai 252 hektare. Secara bertahap, lahan ini ditangani melalui program ini. Jumlah Poktan yang disasar mencapai 11 kelompok. Total Petani mencapai 800 orang.
Dengan ketersediaan air ini, bisa meningkatkan hasil produksi padi petani setempat hingga 5-6,5 ton per hektare, dari sebelumnya 3-3,5 ton per hektare. Jika dihitung harga gabah satu kwintal Rp650-700 rbu, maka petani bisa memperoleh hasil jual puluhan juta rupiah per hektar.
Kepala Desa Banyu Urip, H. Slamet Riyadi menyampaikan bahwa dulu kondisi petani di Dusun Sambi Ratik kesulitan menanam padi, bahkan mereka hanya bisa bercocok setahun sekali akibat tidak ada air irigasi. “Bahkan mereka sering gagal panen, tapi alhamdulillah sudah dua kali (tanam),” sebut Slamet.
Semenjak bantuan program Irpom dari Kementan tahun lalu, petani tidak lagi kesusahan air irigasi. Justru mereka sekarang bisa menanam dua kali, seperti petani pada umumnya di daerah itu.
Saat ini pun petani di wilayah itu sudah masuk dua kali tanam. Hasil panennya pun bagus. Rata-rata per hektare, hasil panennya bisa mencapai 5-6 ton. Dibanding sebelum bantuan itu, petani di daerah itu hanya bisa memperoleh hasil panen 1-3 ton per hektare. “Kadang gagal panen, kalau sekarang meningkat drastis,” imbuhnya.
Ia memperkirakan peningkatan penghasilan mereka hingga 75 persen dibanding sebelumnya. Pihaknya berharap dengan peningkatan hasil panen dan penghasilan ini mereka bisa keluar dari miskin ekstrem. Artinya taraf ekonomi mereka bisa terangkat.
Para petani sangat bersyukur dengan bantuan program Irpom ini, karena bisa meningkatkan hasil panen dan penghasilan mereka. Ia berharap program irpom ini diperluas, karena saat ini yang disasar 150 hektare, masih ada areal yang belum dijangkau karena dataran cukup tinggi.
“Mudahan Irpom ini dilanjutkan lagi untuk menyentuh areal yang belum digarap,” harapnya.
Sebab diakuinya, kondisi petani di daerah itu rata-rata miskin ekstrem dengan penghasilan tak seberapa. (her)


