Selong (Suara NTB) – Kemitraan antara Monash University, pemerintah Australia, dan Indonesia bersama Knowledge Partnership Platform Australia Indonesia (Koneksi) dan kemitraan lainnya mendorong peningkatan minat baca siswa Sekolah Dasar Negeri (SDN) 3 Pringgabaya, Kabupaten Lombok Timur (Lotim).
Salah satu bentuk kegiatan tersebut dilakukan melalui pembagian buku cerita kepada siswa SDN 3 Pringgabaya, Rabu (23/9/2026). Kegiatan ini diharapkan dapat mendorong anak-anak kembali gemar membaca, sehingga wawasan dan pengetahuan mereka semakin bertambah.
Kepala SDN 3 Pringgabaya, Maturiadi mengatakan, kegiatan tersebut sebelumnya telah dikomunikasikan dengan pihak sekolah. Ia berharap buku yang diberikan dapat menjadi sarana bagi siswa untuk membangun kebiasaan membaca sejak dini.
“Harapannya anak-anak bisa gemar membaca. Dengan membaca, wawasan dan pengetahuan bertambah. Kalau pengetahuan bertambah, maka mimpi bisa tercapai,” ujarnya.
Menurut Maturiadi, rendahnya minat baca masih menjadi tantangan, terutama pada siswa kelas rendah seperti kelas satu dan dua. Persoalan tersebut, kata dia, juga kerap disampaikan guru maupun orang tua dalam berbagai pertemuan.
Ia menilai penggunaan telepon seluler sejak usia dini turut menjadi tantangan dalam membangun kebiasaan membaca anak. Kondisi tersebut semakin menjadi tantangan karena keterbatasan ruang belajar di sekolah. SDN 3 Pringgabaya saat ini memiliki 16 rombongan belajar dengan jumlah siswa sekitar 452 orang, sementara ruang kelas yang tersedia secara resmi hanya 12 ruang.
Akibat keterbatasan tersebut, sejumlah fasilitas sekolah, termasuk perpustakaan dan musala, sempat dimanfaatkan sebagai ruang kelas. Kondisi itu membuat fungsi perpustakaan sebagai ruang membaca belum dapat berjalan secara optimal.
Maturiadi berharap setelah adanya revitalisasi dan dukungan berbagai pihak, kebiasaan membaca siswa dapat kembali ditumbuhkan. Ia ingin siswa tidak hanya menghabiskan waktu dengan telepon seluler, tetapi juga memiliki kegiatan positif lain yang mendukung perkembangan pendidikan mereka.
Dosen Antropologi Monash University, Sharyn menjelaskan, buku yang dibagikan merupakan salah satu hasil dari program penelitian mengenai perubahan iklim dan dampaknya terhadap masyarakat.
Program tersebut merupakan bagian dari kemitraan pemerintah Australia dan Indonesia. Penelitian dilakukan selama sekitar dua tahun di sejumlah wilayah, yakni Lombok Timur, Kupang, dan Makassar.
Salah satu hasil penelitian itu kemudian dikembangkan menjadi buku cerita anak yang mengangkat kehidupan dan persoalan yang dekat dengan lingkungan mereka.
“Buku ini tentang seorang anak bernama Faris dan kaitannya dengan perubahan iklim,” jelas Sharyn.
Salah satu cerita yang diberikan kepada siswa SDN 3 Pringgabaya mengisahkan Faris yang menanam tomat. Dalam cerita tersebut, Faris menghadapi persoalan karena terdapat banyak lubang sehingga harus mencari solusi agar tanaman tomatnya tetap dapat tumbuh.
Menurut Sharyn, cerita yang dekat dengan kehidupan anak-anak di daerah masing-masing diharapkan membuat mereka lebih mudah merasa akrab dengan isi buku.
Buku-buku tersebut tidak hanya diberikan kepada SDN 3 Pringgabaya. Program serupa juga dilakukan di sekolah-sekolah di Kupang dan Makassar.
“Harapannya di masa depan kita bisa menulis lebih banyak buku lagi tentang perubahan iklim,” ujarnya.
Sharyn menambahkan, buku cerita dipilih sebagai salah satu sarana untuk meningkatkan minat baca anak. Menurutnya, membaca dapat membantu anak mengenal dunia sekaligus memperoleh pengetahuan baru melalui cerita yang menarik.
Di tengah perkembangan teknologi digital dan penggunaan telepon seluler yang semakin luas, ia menilai buku fisik tetap memiliki peran penting dalam membangun kebiasaan membaca.
“Kami merasa sangat kuat bahwa buku yang bisa dipegang itu penting, supaya anak bisa duduk dengan santai dan membaca,” katanya.
Kegiatan tersebut turut dihadiri perwakilan Monash University, tim Knowledge Partnership Platform Australia Indonesia (Koneksi), Yayasan Tunas Aksara, Bappeda serta Islami Center.
Melalui kolaborasi tersebut, sekolah berharap pembagian buku tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi dapat menjadi awal dari berbagai kegiatan literasi yang berkelanjutan dan berdampak positif terhadap pembangunan pendidikan di Lotim. (rus)



