BerandaHEADLINENTB Waspada Penyakit Influenza

NTB Waspada Penyakit Influenza


Mataram (Suara NTB) – Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) NTB, Lalu Hamzi Fikri mengimbau masyarakat untuk terus waspada terpapar penyakit Influenza dan ISPA. Hal ini menyusul cuaca yang sangat panas, mencapai 34 derajat setiap harinya.


Berdasarkan pemantauan Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) hingga September 2026, terdapat lima penyakit yang menunjukkan tren peningkatan dengan faktor risiko perubahan cuaca, kelembapan, kontaminasi air, serta sanitasi yang kurang baik, yakni Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), Diare Akut, Suspek Demam Tifoid, Influenza Like Illness (ILI), dan Pneumonia.


“Kondisi tersebut menjadi perhatian karena data nasional juga menunjukkan adanya peningkatan aktivitas influenza dalam beberapa pekan terakhir,” ujarnya, Rabu, 30 September 2026.


Meski begitu, berdasarkan situasi influenza Kementerian Kesehatan RI per 23 September 2026, secara keseluruhan tingkat aktivitas influenza nasional masih berada dalam kategori rendah, sehingga situasi influenza secara nasional masih dinilai terkendali. Kendati begitu, terjadi peningkatan dalam dua bulan terakhir.


“Untuk influenza, data Kementerian Kesehatan RI menunjukkan kasus influenza di Indonesia pada 2026 cenderung meningkat pada Agustus hingga awal September,” lanjutnya.


Untuk mengantisipasi persebaran influenza, masyarakat yang mengalami demam, batuk, pilek atau sakit tenggorokan dianjurkan menggunakan masker ketika berada di tempat umum atau bersama orang lain. Menerapkan etika batuk dan bersin, mencuci tangan secara rutin, serta menghindari kontak dekat dengan orang lain ketika sedang sakit.


“Masyarakat juga dianjurkan menjaga ventilasi udara, tidak berbagi alat makan, minum, handuk atau barang pribadi dengan orang yang sedang sakit, menerapkan pola hidup bersih dan sehat, serta melakukan vaksinasi influenza sesuai rekomendasi tenaga kesehatan, khususnya bagi kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi mengalami komplikasi,” imbaunya.


Di samping itu, Dinkes NTB juga terus memperkuat surveilans dan pengawasan penyakit secara berkelanjutan sebagai bagian dari deteksi dan respons dini terhadap potensi peningkatan kasus. Upaya juga diarahkan pada peningkatan kesadaran masyarakat mengenai kebersihan diri, lingkungan dan sanitasi, peningkatan akses terhadap air bersih dan sanitasi yang layak, penerapan perilaku hidup bersih dan sehat, serta penggunaan masker sesuai kondisi dan risiko penularan penyakit.


“Dinas Kesehatan Provinsi NTB mengajak masyarakat untuk tetap tenang namun waspada. Peningkatan beberapa penyakit termasuk penyakit influenza perlu menjadi perhatian bersama, tetapi data nasional hingga bulan September menunjukkan tingkat aktivitas influenza secara keseluruhan masih berada pada kategori rendah,” katanya.


Sementara itu, berdasarkan SKDR, Kabupaten Lombok Timur menjadi wilayah yang paling dominan dengan kasus lima penyakit tertinggi di NTB, di antaranya Diare Akut, Pneumonia, Suspek Demam Tifoid, ILI, dan ISPA. Yang paling menonjol terlihat pada Suspek Demam Tifoid dan ILI, dengan Lombok Timur masing-masing menyumbang sekitar 39,0 persen dan 37,1 persen dari seluruh kasus yang tercatat di NTB.


“Untuk ISPA, Lombok Timur mencatat 77.431 kasus atau sekitar 24,4 persen dari total kasus NTB, menjadikannya wilayah dengan beban absolut ISPA terbesar,” ungkapnya.


Sejumlah wilayah lain juga menunjukkan beban penyakit yang cukup besar. Lombok Barat mencatat 69.338 kasus ISPA dan 10.694 kasus Diare Akut, Lombok Tengah mencatat 39.180 kasus ISPA dan 8.919 kasus Diare Akut, sedangkan Kota Mataram mencatat 42.483 kasus ISPA dan 8.450 kasus Diare Akut. Kabupaten Sumbawa mencatat 20.626 kasus ISPA dan 7.193 kasus Diare Akut.


“Kemudian Kabupaten Bima mencatat 15.644 kasus ISPA, 5.864 kasus Diare Akut, dan 4.762 Suspek Demam Tifoid,” pungkasnya. (era)

IKLAN

spot_img
RELATED ARTICLES

IKLAN








VIDEO