Mataram (Suara NTB) —Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 1 Pemenang,terus berupaya memastikan lingkungan sekolah menjadi ruang yang aman dan nyaman bagi peserta didik. Upaya pencegahan perundungan dilakukan dengan menyediakan kotak fisik serta kode batang (barcode) untuk pengaduan.
Kepala SMAN 1 Pemenang, Yusron Hadi mengatakan bahwa penyediaan layanan pengaduan ini merupakan salah satu metode yang diambil sekolah untuk memberikan pelayanan terbaik kepada para siswa.
Pihak sekolah telah memasang kotak pengaduan fisik di depan ruang Bimbingan Konseling (BK). Selain itu, juga menyediakan layanan pengaduan daring menggunakan kode batang yang dipasang di setiap kelas.
“Ini memang bentuk antisipasi dan kampanye untuk terus mencegah bullying di sekolah. Kalau ada link pengaduan seperti ini anak-anak jadi tahu bahwa siapapun bisa melaporkan,” ujarnya, Selasa (6/10).
Penyediaan layanan pengaduan ini mendapat respons positif dari para siswa, meskipun fasilitas tersebut baru diluncurkan pada hari Selasa (6/10). “Kami baru launching hari ini. Kami belum dapatkan respon dalam bentuk aduan. Tapi rata-rata siswa menyambut baik saat barcode ini dipasang di masing-masing kelas,” terangnya.
Yusron menegaskan komitmennya untuk mencegah segala bentuk kekerasan maupun perundungan di lingkungan sekolah. Pihak sekolah memastikan setiap laporan akan ditindaklanjuti sesuai dengan prosedur yang berlaku.
SMAN 1 Pemenang sendiri telah membentuk Satuan Tugas (Satgas) anti-bullying yang terdiri dari unsur wakil kepala sekolah bidang kesiswaan, guru BK, serta beberapa guru pembina lainnya. Satgas tersebut, tegas Yusron, akan berkoordinasi sesuai tugas masing-masing, serta merespons setiap laporan dengan serius melalui proses identifikasi, klarifikasi, hingga investigasi untuk menjaring fakta.
“Guru BK akan melakukan pendampingan kepada siswa yang menjadi korban, hingga melakukan pemantauan dan pembinaan bagi pelaku agar memahami dan tidak mengulangi kembali perbuatannya. Jika tergolong berat dan melibatkan instansi tertentu, satgas akan melakukan koordinasi agar persoalan tidak merugikan siswa,” tegasnya.
Layanan pengaduan ini diharapkan para siswa tidak lagi takut untuk menyuarakan persoalan yang menyangkut diri mereka maupun teman-temannya.
“Harapannya anak-anak tidak takut untuk speak-up, dan terutama sekali anak-anak bisa saling menjaga satu sama lain,” pungkasnya. (sib)



