Oleh: Iwan Harsono
(Associate Professor Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mataram)
MotoGP Mandalika 2026 telah berakhir dengan catatan menggembirakan. Sebanyak 157.875 penonton hadir selama tiga hari penyelenggaraan, tertinggi sejak MotoGP pertama kali digelar di Mandalika pada 2022. Angka ini menunjukkan bahwa Mandalika semakin kuat sebagai destinasi sport tourism berkelas internasional.
Setelah lima kali penyelenggaraan, menurut saya sudah waktunya kita melihat MotoGP dari perspektif yang lebih maju.
Persoalannya bukan lagi sekadar apakah MotoGP memberi dampak ekonomi. Dampaknya jelas ada. Hotel terisi, restoran ramai, transportasi bergerak, UMKM memperoleh pasar, produk lokal terserap, dan tenaga kerja NTB semakin berpengalaman mengelola event internasional.
Pertanyaan yang lebih strategis adalah: apakah MotoGP mulai membentuk posisi baru NTB dalam peta ekonomi nasional dan internasional, dan apakah reputasi tersebut dapat dikonversi menjadi pertumbuhan yang lebih berkualitas?
Dari Event Menuju Modal Reputasi
Dalam ekonomi modern terdapat aset yang tidak selalu terlihat dalam neraca, tetapi mempunyai nilai sangat besar, yaitu reputasi suatu daerah.
Lima tahun lalu Mandalika masih harus diperkenalkan secara luas. Sekarang namanya secara rutin hadir dalam kalender MotoGP dunia dan menjadi bagian dari pemberitaan internasional.
Reuters, 11 Oktober 2026, memberitakan Indonesian Grand Prix di Mandalika sebagai bagian penting dari persaingan MotoGP dunia. Sementara MotoGP.com, 7 Oktober 2026, mengangkat Lombok bukan hanya sebagai lokasi balapan, tetapi juga sebagai destinasi wisata. Bagi saya, dua pemberitaan ini menunjukkan bahwa nilai MotoGP bagi NTB mulai bergeser dari sekadar event menuju pembentukan global visibility dan reputation capital.
Ketika nama Mandalika dan Lombok terus muncul di media internasional, NTB sedang mengakumulasi modal reputasi. Tantangannya adalah mengubah visibility menjadi credibility, lalu mengkonversinya menjadi kunjungan ulang, investasi, perdagangan dan lapangan kerja.
Arah ini sejalan dengan pernyataan Gubernur NTB Dr. Lalu Muhamad Iqbal yang diberitakan ANTARA Mataram, 11 Oktober 2026. Gubernur menegaskan bahwa momentum MotoGP harus dimanfaatkan untuk memperkuat pariwisata sekaligus memperpanjang dampak ekonomi bagi masyarakat. Ia juga menekankan bahwa road to MotoGP dan kegiatan setelah event perlu diperpanjang agar dampak ekonominya ikut semakin panjang. Saya sependapat. Namun dalam perspektif ekonomi regional, yang perlu diperpanjang bukan hanya durasi event, tetapi juga rantai ekonominya.
Global exposure harus dikonversi menjadi kunjungan. Kunjungan menjadi belanja. Belanja harus semakin tersambung dengan UMKM dan produksi lokal. Sementara reputasi internasional harus mulai dikonversi menjadi kepercayaan investor.
Bertemu dengan RPJMD dan Triple Agenda NTB
MotoGP akan semakin strategis jika ditempatkan dalam kerangka RPJMD NTB dan visi “NTB Makmur Mendunia”. Pemerintahan Gubernur Iqbal–Dinda menempatkan tiga agenda besar: pengentasan kemiskinan, penguatan ketahanan pangan/agromaritim, serta pariwisata berkualitas dan berkelanjutan.
Sekilas MotoGP tampak hanya berkaitan dengan agenda pariwisata. Menurut saya, pandangan itu terlalu sempit.
Jika ekosistemnya dibangun dengan tepat, MotoGP dapat berkontribusi pada ketiganya.
Pertama, pariwisata dapat menjadi salah satu instrumen pengurangan kemiskinan. Tetapi MotoGP tentu tidak otomatis menurunkan angka kemiskinan. Harus ada mekanisme transmisinya: penciptaan lapangan kerja, peningkatan omzet UMKM, kenaikan pendapatan rumah tangga, dan keterlibatan masyarakat desa dalam rantai ekonomi pariwisata.
MotoGP menciptakan pasar. Tugas kebijakan adalah memastikan masyarakat lokal memiliki akses terhadap pasar tersebut.
Di sinilah program seperti Desa Berdaya dapat dikaitkan dengan pertumbuhan pariwisata. Produk pertanian, pangan olahan, kerajinan dan jasa dari desa-desa perlu semakin mudah masuk ke pasar Mandalika.
Pariwisata dan Agromaritim Harus Bertemu
Agenda kedua adalah ketahanan pangan dan penguatan agromaritim.
Hubungannya dengan MotoGP sangat konkret. Tambahan wisatawan berarti tambahan permintaan terhadap ikan, telur, daging, sayuran, buah, kopi, makanan olahan dan berbagai produk lokal.
Karena itu saya melihat dorongan Gubernur Iqbal agar hotel dan restoran semakin banyak menggunakan produk NTB sebagai langkah yang tepat. Tantangan berikutnya adalah menjadikannya hubungan rantai pasok yang permanen, bukan sekadar mobilisasi menjelang event.
Bayangkan jika hotel, restoran, katering dan kawasan wisata terhubung secara konsisten dengan petani, peternak, nelayan, koperasi dan UMKM NTB.
Mandalika kemudian bukan hanya destinasi wisata, tetapi juga pasar hilir bagi ekonomi agromaritim NTB.
Sederhananya: Pariwisata menciptakan pasar. Agromaritim mengisi pasar tersebut. Masyarakat memperoleh pendapatan dari hubungan keduanya.
Di situlah Triple Agenda mulai bertemu dalam satu mekanisme ekonomi.
Dari Tourism Multiplier ke Development Multiplier
Dalam tulisan saya sebelumnya, saya banyak menekankan pentingnya development impact. Setelah melihat perkembangan 2026, saya ingin mendorong gagasan itu satu tahap lebih jauh.
Yang dibutuhkan sekarang bukan hanya tourism multiplier, tetapi development multiplier.
Tourism multiplier terjadi ketika belanja wisatawan meningkatkan pendapatan hotel, restoran, transportasi dan UMKM.
Development multiplier lebih luas. Ia terjadi ketika permintaan pariwisata meningkatkan produksi petani, memberi pasar lebih stabil bagi nelayan, memperkuat industri pengolahan, meningkatkan keterampilan tenaga kerja, dan mendorong investasi.
ITDC English, 24 Agustus 2026, mengutip kajian Bappenas yang memperkirakan MotoGP Mandalika 2025 menghasilkan tambahan gross value added sekitar Rp 0,88–1,21 triliun bagi ekonomi NTB, setara sekitar 0,47–0,63 persen PDRB NTB.
Menurut saya, indikator seperti ini jauh lebih bermakna daripada sekadar jumlah penonton karena mulai menjawab pertanyaan: berapa nilai tambah yang benar-benar tercipta bagi ekonomi regional?
Sementara ANTARA English, 8 Oktober 2026, melaporkan target dampak ekonomi MotoGP Mandalika 2026 mendekati Rp5 triliun. Angka ini tentu positif, tetapi tetap perlu dibedakan antara dampak ekonomi nasional dan nilai tambah yang benar-benar tinggal di NTB.
Dari Global Exposure Menuju Investment After-Effect
Di sinilah perspektif berikutnya menjadi penting.
Ribuan orang yang datang ke Mandalika bukan semuanya hanya wisatawan. Di antara mereka terdapat pengusaha, eksekutif perusahaan, media, komunitas otomotif dan jaringan bisnis internasional.
Mereka seharusnya tidak hanya diperlakukan sebagai penonton.
Momentum MotoGP dapat dipadukan dengan NTB Investment Forum, business matching, promosi proyek, perdagangan produk unggulan, ekonomi kreatif, pariwisata, energi dan agromaritim.
Jika itu dilakukan secara sistematis, kita dapat menciptakan apa yang saya sebut investment after-effect.
Pertanyaannya kemudian bukan lagi hanya berapa tiket yang terjual, tetapi: Berapa investasi baru yang masuk karena investor pertama kali mengenal NTB melalui Mandalika?
Itulah konversi terpenting dari global media exposure menuju pertumbuhan ekonomi.
Prediksi 2027–2030
Saya melihat periode 2027–2030 akan menjadi fase penting bagi Mandalika dan ekonomi NTB.
Pertama, pariwisata dan sektor jasa berpotensi semakin kuat menjadi penyangga pertumbuhan non-tambang. Ini penting karena ekonomi NTB selama ini masih cukup dipengaruhi volatilitas sektor pertambangan.
Kedua, hubungan antara pariwisata dan ekonomi pedesaan akan semakin penting. Jika rantai pasok Mandalika benar-benar tersambung dengan produksi lokal, pertumbuhan wisata dapat menjadi pasar baru bagi pertanian, peternakan, perikanan dan industri rumah tangga.
Ketiga, Mandalika dapat berkembang dari destinasi wisata menjadi platform investasi dan reputasi ekonomi NTB. Namun semuanya tidak terjadi secara otomatis.
Mandalika jangan sampai menjadi enclave economy: kawasan yang tumbuh cepat tetapi memiliki keterkaitan lemah dengan masyarakat di sekitarnya. Keberhasilan event juga harus tetap proporsional dengan kapasitas fiskal daerah
Bagi saya, dukungan terhadap MotoGP dan kehati-hatian fiskal bukan dua posisi yang bertentangan. Event yang semakin matang justru seharusnya menghasilkan manfaat semakin besar dengan beban fiskal daerah yang semakin efisien.
Dengan demikian, tantangan MotoGP ke depan bukan hanya menghasilkan multiplier selama event, tetapi bagaimana reputasi Mandalika dikonversi menjadi capaian yang terukur dalam RPJMD: investasi, produktivitas sektor non-tambang, kesempatan kerja, peningkatan pendapatan masyarakat, penguatan agromaritim, dan penurunan kemiskinan.
Setelah rekor 157.875 penonton pada 2026, target berikutnya tidak perlu hanya mengejar rekor penonton baru.
Kita perlu mengejar rekor yang lebih bermakna: lebih banyak tenaga kerja lokal, lebih banyak produk petani dan nelayan masuk ke rantai pariwisata, lebih banyak UMKM naik kelas, wisatawan tinggal lebih lama, dan semakin banyak investasi masuk.
Gubernur Iqbal tepat ketika mengatakan bahwa MotoGP menciptakan momentum dan dampaknya perlu diperpanjang. Dalam perspektif ekonomi regional, momentum itu selanjutnya harus dikonversi menjadi investasi, produktivitas, kesempatan kerja, pendapatan masyarakat dan pencapaian target RPJMD NTB.
Media internasional telah membawa Mandalika ke panggung dunia. MotoGP telah membantu Lombok membangun reputasi global.
Sekarang tugas kita adalah melakukan konversinya.
Global exposure harus menjadi reputation capital. Reputation capital harus menjadi investasi dan pariwisata bernilai tinggi. Dan pada akhirnya semuanya harus bermuara pada kesejahteraan masyarakat NTB.
Itulah, menurut saya, makna ekonomi paling substantif dari visi NTB Makmur Mendunia.
MotoGP telah membantu NTB semakin dikenal dunia.
Tantangan berikutnya adalah memastikan dunia yang datang ke NTB ikut membuat masyarakat NTB semakin makmur.



