Mataram (Suara NTB) – Penulis asal Lombok Utara, Arianto Adipurwanto diganjar penghargaan Sitor Situmorang 2026 setelah berhasil menjadi 10 besar Emerging Writers (UWRF). Atas capaian tersebut, Arianto berhak tampil di ajang festival sastra internasional di Den Haag, Belanda, Januari tahun 2027.
Penghargaan ini diberikan oleh Yayasan Sitor Situmorang dan diinisiasi oleh Barbara, istri Sitor itu sendiri. Sebagai informasi, Sitor Situmorang merupakan sastrawan, penyair, esais, penulis cerita pendek, sekaligus wartawan terkemuka Indonesia.
Pemberian penghargaan ini baru pertama kali terselenggara. Yayasan bekerja sama dengan UWRF. Dengan demikian, Arianto menjadi satu-satunya penulis pertama yang menerima penghargaan tersebut.
Ari sapaan akrabnya, mengaku sebelumnya tidak mengetahui adanya penghargaan Sitor Situmorang. Namun pada Juli, pihak UWRF memberitahunya bahwa dirinya akan menerima penghargaan tersebut.
“Barangkali karena saya tahun ini sebagai Emerging Writers (UWRF),” kata Ari, Jumat (23/10).
Berdasarkan penjelasan dari pihak Yayasan, Ari menjelaskan, penghargaan itu digelar untuk melanjutkan semangat Sitor baik dari aspek menciptakan karya sastra maupun perjalanan hidupnya.
Dengan alasan itu pula, Arianto berhak mengikuti festival sastra internasional di Belanda Januari mendatang. Sebab semasa hidupnya, Sitor selalu menghadiri festival itu.
“Dan sejak Sitor meninggal tidak ada lagi penulis Indonesia yang hadir di sana,” ucapnya.
Adapun keikutsertaannya sebagai Emerging Writers pada UWRF 2026 merupakan buah dari usahanya selama ini mengirimkan karya sastra ke festival sastra tersebut.
“Saya mengirimkan satu cerpen waktu itu, berjudul ‘Perempuan Ular’, cerpen yang saya pikir kuat secara lokalitas. Ternyata terpilih,” ujar Ari.
Menurut Ari, penghargaan ini bukan sekadar wujud apresiasi semata, tetapi peluang yang mesti dimanfaatkan,terutama bagi karir kepenulisannya.
Arianto sendiri telah melahirkan berbagai karya dan mendapatkan sejumlah penghargaan. Kumpulan cerpennya Bugiali, yang diterbitkan oleh Pustaka Jaya pada 2018, masuk lima besar penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa 2019. Buku keduanya, Iblis Tanah Suci, terbit melalui Diva Press pada 2024 masuk daftar pendek Kusala Sastra Khatulistiwa 2025.
Ia juga finalis Hadiah Sastra Ayu Utami, serta masuk nominasi Penghargaan Sastra Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi 2024. Saat ini, Ari masih aktif di Komunitas Akarpohon, Mataram dan mengajar di MTsN 1 Kota Bima. (sib)



