Mataram (Suara NTB) – Kinerja ekspor Nusa Tenggara Barat (NTB) sepanjang Januari–September 2026 masih sangat bergantung pada komoditas tembaga. Dari total nilai ekspor sebesar US$200,78 juta, komoditas tersebut menyumbang US$187,85 juta atau sekitar 93,56 persen.
Data realisasi ekspor Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) NTB menunjukkan, selama sembilan bulan pertama 2026, total volume ekspor daerah mencapai 35.716,79 ton. Namun, besarnya kontribusi tembaga memperlihatkan bahwa struktur ekspor NTB masih terkonsentrasi pada satu komoditas utama.
Kepala Bidang Pengembangan Perdagangan Luar Negeri Disperindag NTB, Dr. Hj. Aryanti Dewiyani mengatakan, menjadi salah satu pihak yang berperan dalam pengembangan perdagangan luar negeri daerah.
Selain tembaga, ekspor NTB ditopang berbagai komoditas non-tambang, mulai dari hasil perikanan dan kelautan, produk industri, hasil pertanian dan perkebunan, produk makanan, hingga kerajinan.
Hasil perikanan dan kelautan mencatat nilai ekspor US$10,47 juta atau sekitar 5,21 persen dari total ekspor. Komoditas yang masuk kelompok ini antara lain mutiara, ikan segar, lobster, dan mop shell atau cangkang kerang tertentu.
Mutiara menjadi salah satu komoditas bernilai tinggi dengan total ekspor sekitar US$7,74 juta. Pengirimannya menjangkau sejumlah pasar, antara lain China, Australia, Hong Kong, dan Jepang.
Sementara itu, produk industri berupa anode mencatat nilai ekspor sekitar US$759.673. Adapun kelompok pertanian dan perkebunan, yang meliputi kapuk, kemiri, tembakau, dan biji kopi, menghasilkan nilai ekspor sekitar US$649.755.
Produk makanan berupa stroopwafel dan kerajinan berupa tas tenun juga tercatat dalam daftar ekspor NTB, meskipun nilai kontribusinya masih relatif kecil.
Berdasarkan negara tujuan, China menjadi pasar terbesar bagi ekspor NTB, dengan nilai sekitar US$101,56 juta atau 50,58 persen dari total ekspor. Tembaga menjadi komoditas utama yang dikirim ke negara tersebut, dengan nilai mencapai US$98,71 juta.
Korea Selatan berada di posisi berikutnya sebagai pasar penting bagi tembaga NTB, dengan nilai pengiriman sekitar US$73,18 juta. Malaysia juga menjadi tujuan ekspor tembaga dengan nilai sekitar US$10,43 juta.
Di sisi lain, pasar ekspor non-tambang memiliki sebaran yang lebih beragam. Ikan segar, misalnya, dikirim ke Amerika Serikat dengan nilai sekitar US$2,62 juta. Mutiara juga menjangkau Australia, China, Hong Kong, dan sejumlah negara lainnya.
Keragaman pasar ini menjadi modal bagi NTB untuk terus memperluas perdagangan produk lokal. Namun, peningkatan nilai ekspor non-tambang membutuhkan penguatan produksi, konsistensi kualitas, akses pasar, dan kemampuan pelaku usaha memenuhi permintaan pembeli luar negeri.
Data tersebut menunjukkan dua sisi perdagangan luar negeri NTB. Di satu sisi, tembaga memberikan kontribusi besar terhadap nilai ekspor daerah. Di sisi lain, tingginya konsentrasi pada satu komoditas membuat pergerakan total ekspor sangat dipengaruhi oleh realisasi pengiriman tembaga.
Karena itu, pengembangan ekspor produk non-tambang menjadi salah satu ruang yang dapat diperkuat, terutama untuk komoditas perikanan, hasil perkebunan, makanan olahan, dan kerajinan.
NTB memiliki beragam produk yang berpotensi menembus pasar internasional. Akan tetapi, potensi tersebut perlu didukung peningkatan nilai tambah, pengolahan produk, standardisasi mutu, serta promosi perdagangan yang berkelanjutan. (bul)



