Selong (Suara NTB) – Jumlah lelaki yang berhubungan seksual dengan lelaki atau Lelaki Seks dengan Lelaki (LSL) di Kabupaten Lombok Timur (Lotim) menunjukkan peningkatan signifikan. Berdasarkan data yang disampaikan Dinas Kesehatan (Dikes) Lotim, jumlah kelompok LSL yang terdata mencapai sekitar 900 orang, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang tercatat sekitar 700 orang.
Peningkatan tersebut menjadi perhatian serius dalam upaya pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS di daerah berjuluk Bumi Patuh Karya itu.
Kepala Bidang P3KL Dikes Lombok Timur, H. Syahid Ramdlan, menyampaikan, pemerintah daerah terus mengintensifkan pemeriksaan atau testing HIV sebagai bagian dari upaya mencapai target eliminasi HIV pada 2030.
Upaya tersebut dilakukan melalui pemeriksaan terhadap kelompok kunci dan kelompok masyarakat yang memiliki risiko terpapar HIV. Sasaran pemeriksaan meliputi ibu hamil, penderita tuberkulosis (TBC), serta kelompok kunci lainnya.
Pemeriksaan secara masif dinilai penting untuk mendeteksi infeksi HIV sedini mungkin sehingga orang yang terdiagnosis positif dapat segera memperoleh penanganan medis.
Berdasarkan data yang disampaikan, jumlah orang dengan HIV di Lotim tercatat sebanyak 314 orang. Dari keseluruhan kasus tersebut, sekitar 65 persen disebut berasal dari kelompok LSL.
Angka ini menunjukkan perlunya penguatan strategi pencegahan, pemeriksaan, dan pendampingan terhadap kelompok yang dinilai memiliki kerentanan lebih tinggi terhadap penularan HIV.
Dalam pelaksanaan program pencegahan, Dikes Lotim tidak hanya mengandalkan pelayanan di puskesmas. Pemerintah daerah juga membangun kerja sama dengan organisasi perangkat daerah (OPD) terkait serta lembaga non-pemerintah atau non-governmental organization (NGO).
Kolaborasi tersebut dilakukan untuk memperluas jangkauan edukasi dan pemeriksaan HIV, terutama terhadap kelompok masyarakat yang sulit dijangkau melalui pelayanan kesehatan konvensional.
Petugas puskesmas bersama petugas penjangkau lapangan secara rutin memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai HIV, cara penularan, pentingnya pemeriksaan dini, serta langkah-langkah pencegahannya.
Dikes juga bekerja sama dengan lembaga swadaya masyarakat, termasuk Inset, untuk membantu menjangkau kelompok tertentu yang membutuhkan pendekatan khusus.
Keberadaan petugas lapangan atau peer outreach menjadi bagian penting dalam strategi tersebut. Mereka diharapkan mampu membangun komunikasi dan kepercayaan dengan kelompok sasaran sehingga masyarakat tidak ragu menjalani pemeriksaan maupun mengakses layanan kesehatan.
Pemetaan kelompok berisiko juga terus menjadi perhatian agar upaya pencegahan dapat dilakukan secara lebih terarah dan efektif.
Selain memperluas pemeriksaan, Dikes Lotim menekankan pentingnya penanganan lanjutan bagi orang yang dinyatakan positif HIV.
Pasien yang terdiagnosis HIV akan diarahkan untuk memperoleh terapi antiretroviral (ARV) sesuai prosedur medis. Terapi ini berfungsi menekan perkembangbiakan virus di dalam tubuh sehingga kondisi kesehatan pasien tetap terjaga dan risiko penularan dapat dikurangi secara signifikan.
Pengobatan ARV perlu dijalani secara teratur sesuai petunjuk tenaga kesehatan. Dengan pengobatan yang tepat dan pemantauan berkala, orang dengan HIV tetap memiliki kesempatan menjalani kehidupan yang produktif.
Di sisi lain, edukasi kepada masyarakat perlu terus diperkuat untuk menghilangkan stigma dan diskriminasi terhadap orang dengan HIV. Pemeriksaan HIV harus dipandang sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan, bukan sebagai alasan untuk menghakimi seseorang.
Target eliminasi HIV pada 2030 menjadi tantangan tersendiri bagi Lotim. Peningkatan jumlah kelompok LSL yang terdata, ditambah kebutuhan memperluas pemeriksaan dan memastikan keberlanjutan pengobatan, menuntut kerja sama berbagai pihak.
Pemerintah daerah, tenaga kesehatan, organisasi masyarakat, dan masyarakat luas memiliki peran dalam memutus mata rantai penularan HIV.
Penguatan edukasi, pemeriksaan secara sukarela, deteksi dini, akses pengobatan ARV, serta perlindungan terhadap kerahasiaan pasien menjadi langkah penting yang perlu dijalankan secara berkelanjutan.
Dengan strategi yang terarah dan kolaborasi lintas sektor, upaya mencapai target eliminasi HIV pada 2030 di Lotim diharapkan semakin terukur.
Namun, keberhasilan program tersebut tidak cukup hanya diukur dari jumlah kelompok yang terdata atau banyaknya pemeriksaan yang dilakukan. Konsistensi pengobatan, perluasan akses layanan, serta penurunan infeksi baru juga menjadi bagian penting dalam menilai keberhasilan penanggulangan HIV. (rus)



