BerandaNTBKOTA BIMAKampung Hijau Kelurahan Na’e, Sampah Ditukar Paket Data Internet

Kampung Hijau Kelurahan Na’e, Sampah Ditukar Paket Data Internet

Kota Bima (Suara NTB) – Kelurahan Na’e mulai merintis Kampung Hijau dengan melibatkan 20 kepala keluarga (KK) di satu rukun tetangga (RT). Program ini menggabungkan pemilahan sampah dari rumah tangga, pengolahan sampah organik, dan penanaman sayuran. Sampah dapat ditukar dengan paket data internet melalui dukungan provider.

Lurah Na’e, Fazhurrahman, S.STP., M.AP., mengatakan, gagasan Kampung Hijau mulai dirancang sekitar Mei hingga Juni 2026 atau beberapa bulan setelah dilantik pada Februari 2026. Program ini berangkat dari upaya menerjemahkan konsep pembangunan Kota Bima dengan jargon Bima Bisa (Bersih, Indah, Sehat, dan Asri) melalui pengelolaan lingkungan dan sampah di tingkat masyarakat.

“Walaupun masih berskala kecil, kami sudah mulai melaksanakan pemilahan sampah dari rumah. Sampah organik dan nonorganik kami pisahkan,” ujarnya saat dikonfirmasi pada, Senin (2/11).

Warga memilah sampah dari rumah masing-masing. Sampah organik diolah menggunakan komposter atau biopori. Sedangkan, sampah anorganik dipisahkan untuk penanganan lebih lanjut. Sampah yang ditimbang juga dapat ditukar dengan paket data internet melalui kerjasama dengan provider.

Fazhurrahman mengatakan, program tersebut belum menjangkau seluruh masyarakat Kelurahan Na’e. Pada tahap awal, pelaksanaannya berfokus pada satu RT dengan 20 KK sebagai sasaran.

“Setelah tiga atau empat bulan kami jalankan, sambutan masyarakat juga cukup tinggi. Hal ini memungkinkan kami menambah jumlah sasaran rumah tangga,” katanya.

Selain memilah sampah, warga mulai memanfaatkan halaman rumah untuk menanam sayuran seperti sawi, pakcoy, cabai, dan seledri. Penanaman ini menjadi bagian dari konsep Kampung Hijau yang juga diarahkan untuk mendukung ketahanan pangan keluarga.

Fazhurrahman menyebut perubahan kebiasaan masyarakat sebagai tantangan utama. Selama ini, pengelolaan sampah cenderung dilakukan dengan pola kumpul, angkut, dan buang. Keterbatasan anggaran untuk menyediakan fasilitas pengelolaan sampah di tingkat rumah tangga juga menjadi kendala.

“Selama ini sistem kita hanya kumpul, angkut, dan buang. Tantangan kita ke depan adalah bagaimana membiasakan masyarakat dengan gaya hidup baru ini,” ujarnya.

Fazhurrahman berharap Kampung Hijau dapat berkembang menjadi kawasan ekowisata sekaligus menjadi contoh pengelolaan lingkungan yang bisa diterapkan di wilayah lain.

 Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bima, Syahrial Nuryadin mengapresiasi, inisiatif pengelolaan sampah berbasis masyarakat di Kelurahan Na’e. Menurutnya, pemilahan sampah sejak dari rumah tangga dapat membantu mengurangi sampah yang dibuang ke tempat pemrosesan akhir (TPA) Oi Mbo.

“Kami memberikan apresiasi kepada Lurah Na’e beserta masyarakatnya. Ini adalah langkah nyata dan patut menjadi inspirasi bagi kelurahan-kelurahan lain di Kota Bima,” kata Syahrial.

Ia berharap praktik serupa dapat dikembangkan di kelurahan lain sesuai kondisi wilayah masing-masing. Pihaknya juga siap memberikan pendampingan melalui edukasi, sosialisasi pemilahan sampah, dan penguatan pengelolaan sampah berbasis masyarakat.

Syahrial menegaskan, pengurangan sampah perlu dimulai dari rumah tangga agar tidak seluruhnya berakhir di TPA.

“Kita ingin gerakan Kampung Hijau tidak berhenti sebagai kegiatan penataan lingkungan semata, tetapi menjadi gerakan perubahan perilaku masyarakat,” ujarnya. (hir)

IKLAN

spot_img
RELATED ARTICLES

IKLAN












VIDEO