BerandaNTBLOMBOK TIMURRealisasi PMAAS Lotim Terkendala Anomali Iklim

Realisasi PMAAS Lotim Terkendala Anomali Iklim

Selong (Suara NTB) – Program Pertanian Modern Adventure Agriculture System (PMAAS) yang digencarkan pemerintah pusat di Kabupaten Lombok Timur (Lotim) masih menghadapi tantangan dalam mencapai target perluasan areal tanam. Dari target 5.000 hektare, realisasi program tersebut saat ini baru menyentuh sekitar 200 hektare. Anomali iklim disebut menjadi kendala utama sehingga capaian program masih jauh dari target.

Kepala Dinas Pertanian Lotim, Lalu Fathul Kasturi, menjelaskan PMAAS merupakan inovasi di sektor pertanian yang menitikberatkan pada pemadatan populasi tanaman dalam satu petakan lahan dengan dukungan teknologi dan penerapan sistem pertanian modern.

Melalui metode tersebut, satu hektare lahan ditargetkan mampu menampung hingga satu juta tanaman. Sementara dari sisi produktivitas, program ini diharapkan dapat menghasilkan 10 hingga 12 ton.

“Target PMAAS Lotim sebenarnya 5.000 hektare. Namun kondisi sekarang baru sekitar 200 hektare. Memang masih jauh dari target,” jelasnya, menjawab Suara NTB, Kamis (5/11/2026).

Secara keseluruhan, target pengembangan PMAAS di NTB mencapai 28 ribu hektare. Dari jumlah tersebut, Lotim mendapatkan alokasi target sekitar 5.000 hektare.

Fathul mengatakan, pelaksanaan program ini diarahkan ke seluruh kecamatan dan desa di Lotim yang memiliki potensi tanaman padi. Hanya Kecamatan Sembalun yang tidak menjadi sasaran karena tidak memiliki areal persawahan untuk tanaman padi.

Untuk memastikan program berjalan, Dinas Pertanian melibatkan penyuluh pertanian dan petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) dalam melakukan pendampingan kepada petani.

Dari sisi dukungan pemerintah, intervensi program mencakup penyediaan benih unggul padi, bahan pengendali organisme pengganggu tanaman serta pupuk organik. Dengan dukungan tersebut, petani diharapkan dapat lebih fokus pada kegiatan penanaman.

“Petani tinggal tanam. Intervensi pemerintah kita siapkan, mulai dari benih unggul, bahan pengendali POPT sampai pupuk organik,” terangnya.

Program tersebut juga melibatkan ribuan petani di berbagai wilayah. Selain dukungan sarana produksi, kepastian pemasaran hasil panen menjadi salah satu daya tarik bagi petani. Hasil produksi nantinya diarahkan untuk diserap Bulog dengan mengacu pada Harga Pembelian Pemerintah (HPP).

Meski demikian, Fathul mengakui kondisi cuaca dan anomali musim menjadi salah satu kendala terbesar dalam mengejar target program. Ketidakpastian turunnya hujan berpengaruh langsung terhadap ketersediaan air dan jadwal tanam petani.

Karena itu, pihaknya menyarankan agar pelaksanaan PMAAS saat ini dikoordinasikan secara intensif dengan para pengamat pengairan untuk memastikan ketersediaan air sebelum penanaman dilakukan.

Menurutnya, apabila hujan mulai turun secara merata, peluang untuk mengejar target tanam masih terbuka, terutama pada masa peralihan musim.

“Kalau hujan turun, kita yakin bisa. Pada musim peralihan ini masih ada peluang untuk mencapai target. Hanya saja, berdasarkan prediksi BMKG, awal hujan diperkirakan turun pada awal Januari,” ungkapnya.

Sebagai langkah antisipasi terhadap keterbatasan air, pemerintah juga menyiapkan pemanfaatan pompa air yang ditempatkan pada titik-titik yang memiliki sumber air. (rus)

KERING – Bendungan Batu Nampar, Desa Batu Nampar, Kecamatan Jerowaru, Lotim mengering.

IKLAN

spot_img
RELATED ARTICLES

IKLAN












VIDEO