Praya (Suara NTB) – Ajang MotoGP Mandalika 2026 yang berlangsung pada 9-11 Oktober 2026 tercatat menghasilkan sampah hingga 47,4 ton lebih. Namun dari total sampah tersebut hanya sekitar 8 persen di antaranya yang berakhir di landfill atau Tempat Pemrosesan Akhir (TPA). Sisanya, sukses diolah oleh InJourney Tourism Developmen Corporation (ITDC) melalui pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular berkolaborasi dengan warga lingkar Kawasan The Mandalika.
Penerapan sistem pengolahan sampah berbasis ekonomi sirkular sendiri sebagai wujud komitmen ITDC dalam menerapkan prinsip keberlanjutan dalam penyelenggaraan event di Kawasan The Mandalika, khususnya ajang olahraga internasional.
“Pengelolaan sampah merupakan salah satu aspek penting dalam mewujudkan penyelenggaraan event internasional yang bertanggung jawab terhadap lingkungan,” sebut Direktur Operasi ITDC Troy R. Warokka, dalam keteranganya, Jumat (6/11/2026).
Ia mengungkapkan, selama ajang MotoGP Mandalika ada 51 persen sampah organik dan 49 sampah anorganik yang berhasil dikumpulkan. Dari keseluruhan sampah tersebut hanya 8 persen yang dikirim ke TPA. Jumlah tersebut menurun dibandingkan pada penyelenggaraan MotoGP tahun 2025 sebesar 14 persen. Di mana secara keseluruhan jumlah sampah yang dihasilkan berhasil ditekan sebesar 15 persen.
Meskipun jumlah penonton yang dating pada gelaran MotoGP Mandalika tahun ini lebih tinggi dari MotoGP tahun 2025 lalu. Karena rasio timbulan sampah berhasil ditekan menjadi 0,3 kilogram per pengunjung jika dibandingkan pada tahun sebelumnya yang mencapai 0,4 kilogram per pengunjung. Hal itu menunjukkan adanya peningkatan efektivitas pengelolaan sampah. Mulai dari pemilahan hingga pemanfaatan kembali selama penyelenggaraan event.
Salah satu upaya yang dilakukan dalam sistem ekonomi sirkular yakni dengan menerapkan food surplus management guna mengoptimalkan pengelolaan makanan berlebih selama event berlangsung. Di mana makanan yang masih layak konsumsi didistribusikan melalui sistem takeaway.
Sedangkan sisa makanan yang tidak layak konsumsi diolah menggunakan metode Black Soldier Fly (BSF) atau maggot untuk dimanfaatkan menjadi kompos. Dalam sistem ini ITDC melibatkan komunitas bank sampah dari desa-desa penyangga kawasan The Mandalika. Sebagai bagian dari kolaborasi ekonomi sirkular yang memberikan manfaat bagi lingkungan sekaligus masyarakat sekitar. (kir)



