PERNYATAAN Kepala Dinas Pariwisata Kota Mataram yang mengatakan bahwa Kota Mataram, masih membutuhkan tambahan kamar, ditanggapi oleh Wakil Ketua Komisi II DPRD Kota Mataram, Siti Fitriani Bakhreisyi.
Menurut dia, jumlah kamar hotel di Kota Mataram dari tahun 2022 ke tahun 2023, memang menurun. Dimana jumlah hotel sebanyak 24. ‘’Namun untuk penambahan jumlah kamar hotel perlu kita pikirkan,’’ katanya kepada Suara NTB melalui pesan WhatsApp, Rabu 2 oktober 2024 kemarin. Ini harus disesuaikan juga dengan jumlah wisatawan atau jumlah tamu serta kegiatan-kegiatan yang terlaksana di hotel tersebut. ‘’Termasuk operasional mereka juga,’’ cetusnya.
Sebab, lanjut Pipit, sapaan akrabnya, tidak sedikit hotel yang justru kosong saat event-event di daerah berlangsung,. Kondisi itu, menurut politisi Nasdem ini, berkaitan erat dengan pelayanan dan pemasaran masing-masing hotel. Karena, kata dia, pengunjung hotel membutuhkan kenyamanan serta harga yang terjangkau.
‘’Jangan sampai saat event tertentu, biaya akomodasi dan transportasi di up dengan harga high season yang tinggi melebihi standar aturan yang sudah di tetapkan. Ini mengakibatkan para pengunjung memilih lokasi penginapan yang nyaman dan lebih terjangkau,’’ terangnya.
Menyikapi fenomena, masih adanya hotel yang tidak kebagian tamu saat event bertaraf nasional dan internasional digelar di Lombok pada umumnya dan Kota Mataram khususnya, Pemerintah perlu melakukan evaluasi dan berdiskusi dengan Asosiasi perhotelan terkait dengan tidak merata nya kunjungan tamu hotel agar menemukan solusi.
Anggota dewan dari daerah pemilihan Selaparang ini memandang perlunya pembinaan dari pemerintah. ‘’Karena untuk mendapatkan lebih kita harus melakukan pembinaan,’’ imbuhnya. Pembinaan oleh Dispar yaitu memastikan pelaku usaha memenuhi standar usaha jasa, memastikan produk wisata yang kompetitif atau high branding, memastikan SDM yang berkompeten. ‘’Dan setiap pelaku usaha perhotelan harus menggunakan produk UMKM di wilayah kita sendiri,’’ demikian Pipit.
Seperti diketahui, berdasarkan evaluasi dan laporan dari Asosiasi Hotel Mataram menyebutkan, saat puncak MotoGP, 2.800 kamar hotel di Mataram terisi penuh hingga di atas 90 persen.
Sisanya sengaja tidak diisi sebagai antisipasi ketika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan pada kamar hotel lainnya. Misalnya, kerusakan listrik, AC, dan fasilitas-fasilitas lain yang dapat mengganggu keamanan dan kenyamanan tamu. Sementara, jika melihat permintaan kamar terutama saat kegiatan besar seperti MotoGP, Kota Mataram butuh lebih banyak kamar hotel. (fit)



