spot_img
Senin, Februari 16, 2026
spot_img
BerandaNTBBerharap Perubahan Tol Laut

Berharap Perubahan Tol Laut

SELAMA ini pemasaran komoditi kebutuhan pokok dari NTB selalu berkiblat ke Pulau Jawa. Sementara komoditi asal NTB ini juga dibawa dari Pulau Jawa untuk mengisi kebutuhan pokok masyarakat yang ada di Indonesia Timur. Hal ini menyebabkan harga kebutuhan pokok di Indonesia Timur, seperti Papua cukup tinggi, karena distribusinya lewat Pulau Jawa.

Namun, belakangan ini, pengusaha dari NTB, khususnya di Bima sudah menemukan pasar baru di Pulau Kalimantan, Sulawesi hingga Papua. Selama ini, kebutuhan pokok seperti bawang merah, bawang putih, jagung, cabai yang dipasarkan di Pulau Kalimantan dan Sulawesi banyak berasal dari NTB yang sebelumnya harus singgah ke Pulau Jawa.

Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) Provinsi NTB Baiq Nelly Yuniarti, S.STP., mengharapkan adanya kebijakan perubahan jalur transportasi tol laut. Adanya perubahan jalur transportasi tol laut ini diharapkan mampu memberikan peluang kepada pengusaha asal NTB memenuhi kebutuhan pokok di Indonesia Timur.

“Sekarang ini tol laut itu rutenya Surabaya ke timur dulu, baru ke NTB. NTB baru ke Surabaya. Sekarang ingin kita balik dulu, dari Surabaya baru ke NTB baru ke timur. Komoditi kita diangkut dulu langsung memenuhi pasar Indonesia Timur. Otomatis harga yang akan dibeli oleh warga di Indonesia Timur lebih murah,” ujarnya saat dikonfirmasi di Kantor Gubernur NTB, kemarin.

Untuk itu, ujarnya, jalur-jalur transportasi sangat menentukan harga komoditi dari NTB. Sebagai contoh, harga komoditi barang merah di NTB Rp20 ribu per kilogram, sementara harga bawang merah di Papua sudah Rp40 ribu. Melihat besarnya peluang usaha ini, maka sudah sewajarnya pengusaha dari NTB yang mengisi komoditi kebutuhan pokok di kawasan Indonesia Timur.

“Kenapa tidak kita yang isi. Jangan lagi mereka mengambil bawang dari Jawa, padahal bawang dari Jawa dari NTB. Jadi kalau pengusaha dari Sulawesi dan Kalimantan mengandalkan komoditi dari Jawa. Dan sekarang teman teman pelaku usaha kita, terutama di Bima sudah bisa langsung membawa ke Kalimantan dan Sulawesi. Artinya dengan ditemukannya pasar pasar baru, maka komoditi NTB menjadi penentu untuk Indonesia Timur,” terangnya .

Sementara mengenai harga bawang merah, ungkapnya masih bisa dijangkau masyarakat. Harga per kilogram masih di angka Rp 40 ribu dan Rp 45.000 per kilogram. Masih tingginya harga bawang merah ini, karena masa panen 2 sampai 3 bulan ke depan. “Nah ini, artinya ketersediaan yang mempengaruhi harga,” tambahnya.

Tidak hanya itu, pihaknya juga menganjurkan pada petani bawang merah dan bawang putih untuk melihat penanaman di daerah lain, khususnya Brebes, Jawa Tengah. Kabupaten Brebes, merupakan daerah sentra bawang merah dan bawang putih seperti di Bima, sehingga saat petani menanam di NTB mesti “mengintip” petani di Brebes, sehingga saat panen tidak samaan.

” Apakah saling intip bahasa kita, supaya jangan samaan, sehingga meluber nanti di lapangan. Selama ini harga bawang belum pernah anjlok. Terakhir dua tahun yang lalu, karena kita menemukan pasar pasar baru,” terangnya. (ham)

IKLAN

spot_img
RELATED ARTICLES
IKLAN



VIDEO