spot_img
Sabtu, Februari 21, 2026
spot_img
BerandaPENDIDIKANPeningkatan Minat Baca Terkendala Minimnya Peran Orang Tua

Peningkatan Minat Baca Terkendala Minimnya Peran Orang Tua

Mataram (Suara NTB) – Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Pemprov NTB melalui DInas Perpustakaan dan Kearsipan dan Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram menggelar Bincang-bincang Duta Baca Indonesia di Auditorium UIN Mataram, Kamis, 24 Oktober 2024. Agenda ini menghadirkan langsung Duta Baca Indonesia Gol A Gong, Pustakawan Utama Perpustakaan Nasional Drs. Deni Kurniadi, M.Hum., Pelaksana Tugas Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi NTB H. Amir, SPd., M.Pd., dan pegiat literasi dari Universitas Mataram Ahmad Junaidi, PhD.

Agenda ini dibuka langsung Rektor UIN Mataram Prof. Dr. H. Masnun Tahir, MAg., dihadiri ratusan peserta, baik dari UIN Mataram hingga pegiat literasi.

Plt Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi NTB H. Amir menyampaikan jika pemerintah terus meningkatkan minat baca masyarakat. Pihaknya juga terus menambah koleksi buku yang disesuaikan dengan anggaran yang dimiliki.

Meski demikian, ungkapnya, dalam hal peningkatan minat baca ada beberapa kendala yang dihadapi. ‘’Pertama, adalah peran orang tua. Jadi kurang terlibatnya orang tua dalam mendampingi anak-anaknya dalam rangka menanamkan kebiasaan membaca dan menulis,’’ ujar Sekretaris Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi NTB ini.

Menurutnya, orang tua semestinya menjadi contoh dan teladan bagi anak-anak dalam meningkatkan minat baca. Saat ini orang tua lebih banyak bermain dengan gadgetnya, sehingga minim dalam membaca buku. Selain itu, saat meminta anak untuk membaca, tidak memberikan contoh, sehingga anak-anak memiliki minat yang rendah pada buku.

Hal lain, tambahnya, ketersediaan perpustakaan untuk mengakses bahan atau pengetahuan juga masih minim. Amir mengakui, jika perpustakaan di NTB cukup banyak, khususnya di sekolah-sekolah, tetapi bahan bacaan yang disediakan adalah tidak sesuai dengan kebutuhan di sekolah.

‘’Buku yang tersedia itu adalah buku-buku pelajaran. Yang kita butuhkan di banyak sekolah itu adalah buku karya umum, bacaan umum sebagai penunjang dalam proses pembelajaran,’’ tambahnya.

Tidak hanya itu, pemanfaatan perpustakaan sekolah harus dimaksimalkan oleh para guru dalam meningkatkan pengetahuan siswa. Semestinya, ketika guru memberikan penugasan kepada siswa semestinya rujukannya adalah bahan pustaka atau buku yang tersedia di perpustakaan, sehingga nanti akan berbondong-bondong datang ke perpustakaan.

Sementara di luar sekolah, ungkapnya, ketersediaan akses untuk mendapatkan buku juga masih banyak di perpustakaan umum. Menurutnya, saat ini juga dari data yang tersedia yang ada di sini baru kita 6-7% perpustakaan yang memenuhi syarat standar minimal. Paling tidak baru memiliki 1.000 koleksi judul buku. ‘’Kalau di sekolah tadi lebih dari itu. Namun, semua lebih banyak buku pelajaran,’’ terangnya.

Selain itu, harga buku yang mahal sering menjadi pertimbangan. Namun, sering kali harga membeli buku kalah untuk membeli pulsa. Selain itu, pengaruh terhadap perkembangan teknologi informasi cenderung membuat kunjungan perpustakaan menurun. ‘’Dulu hampir 1.000 pengunjung sehari, sekarang 300 bersyukur,’’ ungkapnya.

Harapan senada disampaikan Pustakawan Utama pada Perpustakaan Nasional Deni Kurniadi. Pihaknya siap mendukung berbagai macam kebijakan pemerintah daerah dan juga institusi dalam mengembangkan perpustakaan atau literasi. Perpustakaan nasional juga membantu pemerintah daerah dari sisi pembangunan gedung layanan hingga koleksi dengan harapan mampu meningkatkan minat baca di daerah ini. (ham)

IKLAN

IKLAN

spot_img
RELATED ARTICLES
IKLAN




VIDEO