spot_img
Minggu, Februari 22, 2026
spot_img
BerandaHEADLINEFokus pada Nasib Guru Madrasah

Fokus pada Nasib Guru Madrasah

KEMENTERIAN Agama (Kemenag) RI, saat ini fokus untuk memperhatikan nasib guru madrasah. Baik yang ada di dalam maupun luar pondok pesantren. Dimana saat ini masih banyak guru madrasah belum mengikuti program Pendidikan Profesi Guru (PPG).

Hal ini dikemukakan Wakil Menteri Agama (Wamenag) Dr. Romo H. R. Muhammad Syafii menjawab media usai silaturahmi di Pondok Pesantren Syaikh Zainuddin NW di Anjani Lombok Timur (Lotim), Minggu, 15 Desember 2024.

Dia menjelaskan, perhatian kepada guru madrasah karena saat ini terdapat lebih dari 600 ribu orang yang belum tersertifikasi. Untuk bisa mendapatkan sertifikasi harus ikuti program PPG.

Kegiatan PPG ini berlangsung selama empat bulan. Biaya PPG Rp 800 ribu. Soal ini sudah dipertanyakan ke Direktur Keguruan Kemenag dan telah dianggarkan PPG untuk 45 ribu setahun. Sementara, ketika dikalkukasi, untuk menghabiskan ratusan ribu guru bisa ikut PPG, dibutuhkan waktu 12 tahun.

Kemenag kemudian mengambil langkah strategis untuk mendorong percepatan sertifikasi guru. Meski belum ada dana, namun masalah itu dicarikan solusinya. Diyakini, ketika fakta itu diketahui Presiden Prabowo Subianto maka akan cepat diatensi. “Setidaknya kalau tidak bisa selesai dalam satu tahun, maka ratusan ribu guru yang belum sertifikasi itu tuntas dalam waktu 2 tahun,” paparnya.

Guru yang belum sertifikasi ini harus ikuti PPG. Sehingga tahun depan bisa meningkat pendapatannya dan lebih sejahtera. Dimana komitmen Presiden RI, Prabowo Subianto, gaji guru sertifikasi sebelumnya Rp 1,5 juta meningkat menjadi Rp 2 juta perbulan.

Karena fokus masih ke guru madrasah, urusan guru ngaji memang diakui masih belum jadi perhatian Kemenag. Katanya, selama ini untuk guru ngaji merupakan perhatiannya masing-masing pemerintah daerah setempat.

“Tapi kalau ada masalah soal guru ngaji, saya akan silaturahmi dengan kepala daerah sehingga guru ngaji bisa diberikan perhatian juga,” katanya.

Pendidikan Karakter

Selanjutnya Romo Syafi’i ini menyebutkan menurut Imam Gazali, pendidikan itu 90 persen merupakan transformasi karakter. Sedangkan transfer knowledge hanya 10 persen. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Romo Syafi’i, transformasi karakter itu sebagian besar dilakukan di lingkungan pondok pesantren.

Santri yang sekolah di Ponpes sangat bersyukur. Karena dalam lingkungan Ponpes paling banyak diajarkan langsung soal pendidikan karakter. Dilihat karakter para gurunya. Karena itu diingatkan kepada para guru agar terus meningkatkan kualitas belajar dengan memberikan teladan kepada para siswa.

Ditambahkan, masa depan pendidikan, terutama Ponpes ke depan akan tambah cerah. Semenjak Presiden Prabowo ini, perhatian pada dunia pendidikan lebih ditingkatkan. Kementerian lembaga yang mengurus pendidikan lebih banyak. Selain Kemenag, ada Kementerian Pendidikan Tinggi Riset dan Teknologi, Kementerian Kebudayaan, Kementerian Dasar dan Menengah.

Diperbanyaknya lembaga pemerintah yang mengurus pendidikan itu karena pendidikan itu penting karena menentukan masa depan bangsa. “Untuk apa bangun jalan tol kalau rakyatnya bolot,” ucapnya.

Bangun bangsa lewat pendidikan sangat penting karena lewat pendidikan bisa mencetak anak generasi penerus bangsa yang cerdas. Presiden juga telah mencanangkan di setiap kabupaten kota didirikan satu sekolah unggulan terakreditasi. Baik itu sekolah umum maupun Ponpes.

Ketua Umum Pengurus Besar NW, Dr. TGKH Lalu Muhammad Zaenudin Atsani mengakui masih banyak guru di lingkungan madrasah NW sendiri yang belum ikuti PPG. Ia berharap guru madrasah ini bisa ikut PPG agar bisa lebih sejahtera.

NW sendiri saat ini memilki 2.400 madrasah se Indonesia. Dari jumlah itu, ribuan guru ada di dalamnya. Sebagian besar guru-guru madrasah tersebut belum sertifikasi. Ia pun menyambut baik program Kemenag untuk mempercepat sertifikasj guru melalui proses PPG. (rus)

IKLAN

IKLAN

spot_img
RELATED ARTICLES
IKLAN




VIDEO