Mataram (Suara NTB) – Hujan deras yang mengguyur wilayah Kota Mataram pada, Minggu, 6 Juli 2025 menyebabkan banjir di beberapa titik. Termasuk di Lingkungan Karang Bata, Kelurahan Abian Tubuh, Kecamatan Sandubaya.
Warga setempat membutuhkan bantuan sembako dan selimut. Banyak warga yang kehilangan perlengkapan rumah tangga akibat banjir.

Pantauan Suara NTB, sejumlah warga Lingkungan Karang Bata mengungsi di Masjid Jami Babulassalam Jalan Senopati Raya. Terlihat warga sedang merapikan barang dan tempat tidur di ruang Masjid. Bahkan ada juga yang membersihkan lumpur di rumahnya.
Salah satu warga pengungsi Lingkungan Karang Bata, Mala Hayati (39) menyampaikan, hujan deras yang terjadi pada Minggu, 6 Juli 2025 kemarin mengakibatkan puluhan rumah terendam banjir. Ketinggian air mencapai pinggangnya, sehingga memaksa ia mengungsi di Masjid Jami Babulassalam dengan warga lainnya.
“Kondisi seperti kita butuh sembako, makanan anak-anak, dan selimut, soalnya barang-barang di rumah sudah tidak bisa dipakai karena basah bercampur lumpur banjir,” ucapnya saat ditemui pada, Senin, 7 Juli 2025.
Ia menuturkan, pada hari Minggu, 6 Juli 2025 sekitar pukul 14.00 Wita hujan mulai turun dengan intensitas tinggi. Awalnya, hanya genangang air setinggi lutut. Namun, pada pukul 19.00 Wita airnya deras, ketinggian air mencapai pinggang orang dewasa. Meski demikian, ia sempat mengamankan barang berharga, seperti dokumen dan barang penting lainnya. “Kalau untuk kerugian paling barang dagangan kayak snack yang terendam dan hanyut,” sebutnya.
Menurutnya, banjir kali ini dinilai terbesar dan paling parah. Pasalnya, bencana banjir ini hampir semua wilayah di Kota Mataram terdampak. Oleh karena itu, ia membersihkan lumpur den sisa genangan air di dalam rumahnya secara mandiri. “Kita sedang bersih-bersih ini mumpung cuaca bagus,” ujar Mala sapaan akrabnya.
Sama seperti Mala, Umi Solatiah warga yang ikut mengungsi juga mengatakan, dengan kondisi cuaca hujan dari kemarin menyebabkan ia merasa kedinginan di pengungsian. Banyak perlengkapan dan fasilitas rumah, seperti pakaian, lemari es dan makanan hampir habis terendam banjir.
“Kami butuhkan makan, sembako dan selimut. Dari tadi malam saya kedinginan, karena tidak ada lagi yang bisa dipakai,” ucapnya.
Di sisi lain, panca kejadian, Solatiah mengalami gatal-gatal pada bagian kaki hingga tangan akibat banjir. Meski begitu, ia tetap beraktivitas membersihkan rumahnya dari tumpukan lumpur.
Terkait kapan ia pindah dari pengungsian ke tempat tinggalnya, ia belum bisa pastikan. Pasalnya, masih mengganggu kondisi membaik. “Sudah mulai gatal ini kulit kita, mungkin karena air banjir itu,” katanya.
Mala dan Solatiah, berharap dalam kondisi darurat seperti ini, agar pemerintah dapat segera menyalurkan bantuan logistik seperti sembako, air bersih, obat-obatan, dan selimut secara merata kepada seluruh warga terdampak tanpa terkecuali. (pan)

