spot_img
Rabu, Februari 18, 2026
spot_img
BerandaNTBLOMBOK TIMURInfratruktur Dapur Jadi Tantangan Terberat Program MBG

Infratruktur Dapur Jadi Tantangan Terberat Program MBG

Selong (Suara NTB) – Pemerintah menargetkan 30 ribu dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan 8,2 juta sasaran. Khusus di NTB, 678 dapur dengan 1,9 juta sasaran. Khusus Lombok Timur (Lotm) 166 dapur dengan 487 ribu sasaran. Hanya saja, khusus NTB saja jumlah dapur yang sudah terbangun baru 60 unit. Infratruktur dapur ini ini diakui memang menjadi tantangan terberat dalam melaksanakan program MBG.

Demikian diakui Tenaga Ahli Badan Gizi Nasional (BGN), Florencio Mario Vieira, saat dikonfirmasi usai melakukan verifikasi dan sosialisasi MBG di gedung Persiapan Dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) NTB di Desa Lenek Lauq, Kecamatan Lenek, Kabupaten Lotim, Senin, 7 Juli 2025.

Tenaga Ahli Badan Gizi Nasional mendorong seluruh daerah termasuk para kepala daerah untuk mempercepat pembangunan dapur. Dia menyampaikan program MBG sangat mulia dan berupaya tidak ada satu anak pun yang tidak terlayani dengan MBG.

Dijelaskannya, tujuan MBG tak hanya gizi, tapi juga meningkatkan partisipasi pendidikan. Menurunkan angka kemiskinan dengan menggerakkan sektor ekonomi hingga di tingkat bawah. Diyakini, akan terjadi sirkulasi ekonomi. Ekonomi semua masyakarat bergerak. Sasaran penerima manfaat, ibu hamil, anak bawah dua tahun, balita, anak PAUD, SD, SMP dan SMA sederajat.

Pola pendistribusian makanan bergizi gratis ini dibuat seperti ini dengan harapan agar tidak dikuasai oleh konglomerasi. Masyarakat di bawah membangun sendiri secara mandiri dapur-dapur MBG.

Ditambahkan, keyakinan akan terjadi sirkulasi ekonomi di bawah terlihat dari kebutuhan bahan baku di dapur. Satu dapur MBG engan 3 ribu penerima manfaat per bulan membutuhkan beras rata rata 2,5 ton, 160 kg kentang, mie 52 bal, 2,6 ton ayam. 1.300 bungkus tempe. 26.400 butir telur. 1.257 ikat kangkung, 611 buncis dan 200 kg gula pasir. Bawang putih 59 kg dan kunyit 28 kg.  “Ini menjadi potensi besar buat petani, hal ini jelas  akan dapat manfaat ekonomi besar,” urainya.

Aspek tenaga kerja juga akan meningkat. Satu dapur butuhkan 47 karyawan. Awalnya, selain Infratruktur tantangan terbesar lainnya bagi BGN, belum ada penempatan tenaga gizi. Namun, Akhir Juli 30 ribu pendamping gizi sedang didiklat. “Sebentar lagi akan penempatan,” imbuhnya.

Kepada seluruh pengelola dapur tidak perlu khawatirkan soal dana. Dikatakan, pemerintah sudah siapkan dana besar. Berapapun kebutuhan dana akan dialokasikan karena MBG merupakan program prioritas presiden. “Anggaran di kementerian/lembaga lain bisa ditunda, tapi MBG akan terus ditambah, jadi tak usah ragu,” pesannya.

Bupati Lotim, H. Haerul Warisin meyakinkan akan turut mengawal pembentukan 166 dapur MBG di Lotim. Pemkab Lotim siap menyediakan tiga dapur.

MBG diyakini Bupati bisa menjadi salah satu program strategis untuk mempercepat penurunan prevalensi stunting. Penurunan stunting menjadi prioritas juga di Kabupaten Lotim. Selain itu, angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) di Lotim juga masih tinggi. Melalui program  MBG ini, AKI dan AKB juga diharapkan bisa diminimalisir.

Bicara potensi bahan baku untuk MBG, Lotim kata Bupati memiliki stok melimpah, seperti udang dan ikan. Lotim terdapat 54 tambak udang seluas 892 hektare terbentang dari Sambelia sampai Batunampar Selatan Jerowaru. Hasil produksi udang dan ikan Lotim juga selama ini banyak memenuhi kebutuhan pasar di Jawa Timur dan Jakarta. Begitupun kebutuhan cabai dan sayuran. Cabai dari Lotim ini mengisi pasar di Keramat Jati Jakarta dan Batam. “Kebutuhan untuk 166 dapur MBG se Lotim ini clear,” ungkap Bupati.

 Sementara itu, Ketua DPD HKTI NTB, H. Wilgo Zainar, MBA mengemukakan siap mensukseskan program MBG sampai ke daerah.  Program prioritas Presiden Prabowo Subianto yang diluncurkan 6 Januari 2025 merupakan produk luar biasa.

Menurutnya, salah satu tujuannya adalah melahirkan generasi unggul 2045. Pembangunan dapur MBG katanya merupakan investasi. Investasi sejak dini. Melalui MBG ini diharapkan bisa mengurangi stunting, menggerakkan ekonomi desa. “HKTI jadi off taker produk pertanian,” imbuhnya.

HKTI berkomitmen untuk mensukseskan MBG dengan menyiapkan beberapa titik lokasi pembangunan dapur. Harapannya, ada eskalasi percepatan, sehingga memberikan azas manfaat langsung kepada masyarakat.

Apalagi pemerintah pusat telah menyiapkan dana Rp 17,1 triliun. Kepada seluruh dapur MBG akan diberikan uang muka, sehingga tak perlu takut untuk tidak bisa beroperasi. (rus)

IKLAN

spot_img
RELATED ARTICLES
IKLAN



VIDEO