Sumbawa Besar (Suara NTB) – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Sumbawa, menyebutkan salah satu Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang berada di kecamatan Sumbawa tercatat baru memiliki delapan orang siswa di tahun ajaran baru 2025-2026.
“Tetap masih di SMP 5 yang sepi peminat dan ini merupakan tahun ketiga. Tahun 2023 hanya sembilan orang, tahun 2024 tujuh orang siswa dan tahun ini hanya delapan orang siswa,” kata Sekretaris Dikbud, Sudarli kepada wartawan, Senin, 7 Juli 2025.
Pemerintah sebenarnya sangat menyambut baik dengan aturan baru dalam penerimaan peserta didik dengan diberlakukannya SPMB. Namun hal itu belum memberikan dampak yang signifikan karena masih ada saja sekolah yang sangat kurang siswanya seperti di SMP 5.
“Memang di aturan baru itu dikedepankan dalam hal domisili dengan harapan sebaran siswa bisa lebih merata. Tetapi khusus di SMP 5 itu tidak terjadi karena peserta didiknya tetap sedikit,” ujarnya.
Dia melanjutkan, salah satu yang menjadi faktor utama sehingga ada sekolah yang tidak “kebagian” siswa yakni meningkatnya kuota jalur prestasi. Hal tersebut memungkinkan ruang domisili digunakan untuk bersekolah dari siswa yang berada di kecamatan lain ke salah satu sekolah tertentu.
“Jadi, ruang prestasi ini yang dimanfaatkan, sehingga tidak heran ada sekolah yang memiliki sedikit peserta didiknya dan ada yang menumpuk,” ucapnya.
Selain persoalan tersebut, banyaknya opsi lain untuk menempuh pendidikan salah satunya sekolah swasta seperti SMP IT, MTs, dan juga pondok pesantren. Padahal pemerintah sudah menyiapkan seluruh fasilitas pendukung termasuk guru khususnya di SMP 5 tetapi tetap saja peserta didiknya sedikit.
“Kita sudah lakukan segala upaya di SMP 5 dengan mengganti kepala sekolah termasuk guru dan melengkapi sarana pembelajaran seperti sekolah lainnya untuk mendongkrak jumlah peserta didik, tetapi hasilnya masih belum optimal,” jelasnya.
Darli pun meyakinkan, secara keseluruhan tahapan pelaksanaan SPMB di Sumbawa sangat berjalan baik cukup merata akibat pemberlakuan jalur domisili. Hanya saja persoalan terjadi di sekolah- sekolah yang berdekatan dalam satu kecamatan sehingga ada yang full dan ada juga yang tidak terisi optimal.
“Rata-rata lokasi sekolah yang tidak banyak pilihan sudah terisi semua sesuai dengan rombongan belajar (Rombel) yang dibutuhkan, tetapi lokasi sekolah yang banyak pilihan salah satunya di dalam kota Sumbawa yang menjadi persoalan,” terangnya. (ils)


