spot_img
Senin, Februari 23, 2026
spot_img
BerandaNTBLOMBOK BARATDPRD Temukan Bantuan Salah Sasaran, Data Tak Valid Diduga Pemicu Kemiskinan Meningkat...

DPRD Temukan Bantuan Salah Sasaran, Data Tak Valid Diduga Pemicu Kemiskinan Meningkat di Lobar

Giri Menang (Suara NTB) – Kalangan DPRD menyoroti data sasaran bantuan di Lombok Barat, menyusul temuan di lapangan masih banyak yang tidak tepat atau salah sasaran. Warga yang layak tidak masuk penerima bantuan, sedangkan yang tak berhak menerima bantuan justru diberikan.

Data yang tidak Valid ini diduga memicu masih tingginya angka kemiskinan, sebab program penanganan yang terindikasi tidak tepat sasaran.

Kalangan Komisi IV DPRD Lombok Barat melakukan rapat dengan OPD terkait membahas rancangan APBD perubahan tahun 2025. Beberapa persoalan menjadi sorotan, di antaranya data, PBI JKN, sektor pendidikan, program bantuan penanganan kemiskinan.

Ketua Komisi IV DPRD Lobar Muhali menyampaikan pada pembahasan dengan OPD, beberapa hal yang menjadi fokusnya. Di antaranya, terkait data kemiskinan mengacu BPS. Yang dipertanyakan, apa dasar masuk kategori miskin, desil 1, 2 dan 3. Sementara pihaknya menemukan banyak di tengah masyarakat penerima bantuan itu tidak layak. “Ini kan banyak seharusnya meneruskan bantuan itu tapi tiba-tiba di cek itu dia sudah didesil 4 (mampu), sudah sejahtera,” jelasnya kemarin.

Data yang tumpang tindih ini yang diminta pihaknya untuk dibenahi. Ia pun mempertanyakan dasar Pemkab memberikan program jika data di bawah saja masih terjadi tumpang tindih. Jangan-jangan, kata dia, jumlah kemiskinan tidak turun di Lobar bahkan naik akibat masalah data ini. “Ya bisa jadi indikasinya seperti itu,” tegasnya. Sebab ratusan miliar digelontorkan Pemkab untuk penanganan kemiskinan tapi daya ungkitnya kecil.

Untuk itu, pihaknya nanti bersama OPD berkordinasi dengan BPS terkait temuan-temuan di lapangan. “Ada juga laporan itu-itu saja laporannya (data), beberapa kali perbaikan tapi tetap saja datanya. Makanya itu kami mau tahu di mana masalahnya,” imbuhnya.

Karena itu, perlu dilakukan komparasi atau perpaduan data antar Pemkab dengan BPS. Ia juga mendorong Pemkab memberikan insentif bagi guru ngaji, parisade, marbot masjid.

Sebab menurutnya, keberadaan mereka ini ikhlas membina, mengajarkan generasi di tengah masyarakat. Artinya mereka berkontribusi bagi masyarakat maupun daerah dalam pembangunan SDM, tapi mereka tidak diperhatikan berupa pemberian insentif. “Jangan sampai satu hal kecil keliatannya, tapi dampaknya besar tapi itu kita sepelekan,” imbuhnya.

Selain itu di sektor kesehatan, ada dianggarkan insentif bagi para Nakes yang bertugas di daerah-daerah terjauh. Pihak Dikes memastikan insentif itu telah dialokasikan pada APBD perubahan ini. Pihaknya juga mendorong fasilitas kesehatan di daerah-daerah yang dimaksimalkan.

Kemudian Dikbud diminta untuk menyediakan layanan internet di sekolah-sekolah untuk memudahkan warga sekolah, terutama murid mengakses internet. Fasilitas ini harus difikirkan. “Sekolah ini perlu dikoneksikan dengan Internet, sebab jangan sampai anak-anak dan guru ada yang gaptek,” imbuhnya.

Anggota komisi IV DPRD Lobar M Munib menerangkan bahwa beberapa persoalan yang dibahas bersama OPD, diantaranya menyangkut data penonaktifan puluhan ribu 39 ribu warga Lobar dari PBI.

Saat ini sedang dalam proses pendataan verifikasi dan validasi data warga yang dinonaktifkan tersebut. Dimana semua data ini terpusat melalui DTSN, Program ini dinilai bagus. “Tapi saya sampaikan, dari dulu kami sampaikan soal data yang jadi persoalan perlu dibenahi,” tegasnya.

Kemudian Dikbud dievaluasi terjadi proses PPDB yang berlangsung kemarin. OPD ini hanya dianggarkan Rp200 juta pada APBD perubahan ini sehingga itu akan diarahkan untuk penataan kantor.

Sementara itu, Wabup Lobar Hj Nurul Adha menerangkan bahwa dalam penanganan kemiskinan memang sedang membenahi data. “Kami selesaikan data dulu, kalau datanya selesai semua harus mengacu pada data itu, jadi tepat sasaran,” imbuhnya.

Termasuk pihaknya memverifikasi warga yang dinonaktifkan dari PBI JKN. Pihaknya akan mengusulkan tambahan bagi yang behak atau layak untuk diaktivasi. Hal ini harus dilakukan sebab jika hampir 45 ribu warga yang dinonaktifkan itu ditanggung pembiayaan dari APBD melalui UHC maka akan sangat membebani, karena membutuhkan anggaran besar mencapai belasan miliar. (her)

IKLAN
RELATED ARTICLES
IKLAN




VIDEO