Mataram (Suara NTB) –Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Mataram menargetkan proses normalisasi tumpukan sampah di Tempat Penampungan Sementara (TPS) Sandubaya rampung dalam waktu satu bulan. Langkah ini dilakukan sebagai bagian dari upaya penataan dan peningkatan pelayanan pengelolaan sampah di wilayah Kota Mataram.
Kepada Dinas Lingkungan Hidup Kota Mataram, H. Nizar Denny Cahyadi menyampaikan, normalisasi sampah di TPS Sandubaya masih berlangsung dilakukan petugas kebersihan. Selain itu, pembersihan ini juga bertujuan agar alat pembakaran sampah atau insinerator segera beroperasi. “Saya tidak berani menargetkan terlalu cepat, karena kita bergantung pada jam buang di TPA Kebon Kongok. Paling cepat satu bulan lah,” ujarnya pada Kamis, 10 Juli 2025.
Normalisasi sampah di TPS tersebut sebenarnya sudah mulai dilakukan pada awal bulan Juni. Awalnya, Denny menargetkan pembersihan selesai dalam waktu satu atau dua pekan. Akan tetapi, karena kendala pembatasan waktu dan ritase di Tempat Pembuangan Akhir Regional (TPAR) Kebon Kongok, Kabupaten Lombok Barat, mengakibatkan sampah sampai sekarang masih menumpuk.
“TPA Kebon Kongok itu tutup pukul 16.00 sore, sedangkan waktu kita terakhir sekitar pukul 14.00 siang. Kemudian kita hanya diberikan cuma satu ritase setiap hari, itu yang menyebabkan kendala kita,” kata Denny.
Ia menyebutkan, saat ini jatah Kota Mataram membuang sampah di TPA Regional Kebon Kongok per hari hanya empat ritase, tiga ritase untuk reguler dan tambahan satu ritase. Setelah itu, sisanya dialihkan ke TPS Sandubaya. Secara otomatis volume sampah di TPS tersebut tidak berkurang, akhirnya normalisasi cukup lama, karena waktu dan kuota yang terbatas. “Tapi Insyaallah secepatnya kita akan selesaikan,” ucapnya.
Di satu sisi, DLH Kota Mataram akan segera menerapkan sistem pengolahan sampah ramah lingkungan dengan menggunakan insinerator. Insinerator dengan kapasitas 5-10 ton dipasang di TPS Sandubaya. Sehingga pihaknya membangun landasan untuk insinerator dari RS Ruslan Mataram dan langsung dimanfaatkan.
Dengan demikian, adanya alat pembakaran ini diharapkan volume sampah yang dikirim ke TPA Kebon Kongok sebanyak empat ritase setiap hari bisa berkurang. Pasalnya, satu ritase 27 sampai 32 dam truk. Jika dikalkulasikan rata-rata 32 truk dalam satu ritase totalnya 128 truk.
Ia juga menegaskan, dalam proses pembakaran ini, kata Denny, tidak ada residu sampah, sebab sampah yang dibakar akan menjadi abu. Terkait dengan kualitas dari asap insinerator, pihaknya akan menyiapkan laboratorium pemantau kualitas udara yang dikeluarkan oleh insinerator. (pan)



