Mataram (Suara NTB) – Pascabencana banjir yang melanda Kota Mataram pada Minggu, 6 Juli 2025, Pemerintah Kota Mataram berencana merelokasi warga terdampak, terutama mereka yang tinggal di sempadan Sungai Ancar, ke Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) Bintaro. Namun, rencana tersebut mendapat penolakan dari sebagian warga yang memilih tetap bertahan di lokasi semula.
Salah satu warga Lingkungan Karang Jero, Kelurahan Karang Taliwang, Ida Bagus Yuniarta, mengungkapkan bahwa secara pribadi ia bersedia dipindahkan ke rusunawa, namun keberadaan rusunawa yang cukup jauh dari tempat tinggal dan aktivitas sehari-hari menjadi kendala utama.
“Bisa saja pindah, tapi saya dan warga lainnya tidak memiliki kendaraan. Jaraknya jauh, dan anak-anak kami sekolah di sini,” ujarnya saat ditemui pada Jumat, 11 Juli 2025.
Bagus menambahkan bahwa dirinya dan keluarga sudah puluhan tahun tinggal di sempadan sungai, sehingga memiliki rasa nyaman dan ikatan sosial yang kuat dengan lingkungan sekitar. Saat ini, ia masih tinggal di tenda darurat yang didirikan di lokasi rumahnya yang rusak akibat banjir.
“Kami sudah terbiasa tinggal di sini, meskipun sekarang tinggal di tenda. Tempat ini sudah seperti rumah bagi kami,” tambahnya.
Saat banjir terjadi, Bagus kehilangan seluruh barang miliknya, termasuk perlengkapan rumah tangga, peralatan kerja seperti mesin pertukangan dan sistem suara, serta dokumen pribadi. Ia memperkirakan kerugian mencapai puluhan juta rupiah.
“Karena panik, saya tidak sempat menyelamatkan apa pun selain handphone. Semua hanyut,” ujarnya.
Senada dengan Bagus, Masni, warga lain di Karang Jero, juga menyatakan keberatannya dipindah ke Rusunawa karena jaraknya jauh dan ia tinggal bersama anak-cucunya. Ia memilih tetap bertahan di hunian darurat yang dibangun dekat sungai.
“Nanti malah repot kalau jauh dari keluarga. Lebih baik tetap di sini untuk sementara,” katanya.
Baik Bagus maupun Masni berharap pemerintah segera menyediakan hunian yang layak bagi mereka dan keluarga. Saat ini, mereka masih tinggal di tenda darurat dengan kondisi seadanya.
Lurah Karang Taliwang, Lalu Halid Wisnu Jati, menjelaskan bahwa pihak kelurahan bersama BPBD Kota Mataram dan sejumlah donatur telah menyalurkan bantuan stimulan kepada warga terdampak banjir.
“Bantuan sudah kami salurkan dari berbagai pihak,” ujarnya pada Rabu, 9 Juli 2025.
Ia menyebutkan bahwa wilayah terdampak paling parah berada di RT 04 dan RT 05 Lingkungan Karang Jero, dengan total 13 Kepala Keluarga (KK) dan 37 jiwa. Dari jumlah tersebut, tujuh KK atau 27 jiwa telah diungsikan ke SDN 24 Cakranegara.
“Ada satu rumah yang hanyut dan empat rumah lainnya mengalami kerusakan parah, sehingga tidak bisa ditempati,” ujarnya.
Menanggapi kondisi tersebut, pihak kelurahan telah berkoordinasi dengan Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Disperkim) Kota Mataram agar segera membangun hunian sementara (huntara) bagi warga.
“Alhamdulillah, Disperkim sudah turun langsung mengecek kondisi rumah warga,” tutup Halid. (pan)



