spot_img
Minggu, Februari 22, 2026
spot_img
BerandaHEADLINEDinkes NTB Lakukan Cek Kesehatan Pasca Banjir, ISPA Jadi Penyakit yang Dominan

Dinkes NTB Lakukan Cek Kesehatan Pasca Banjir, ISPA Jadi Penyakit yang Dominan

Mataram (Suara NTB) – Dinas Kesehatan melalui Faskes yang tersebar di seluruh wilayah Kota Mataram mencatat, ISPA menjadi penyakit dominan yang dialami masyarakat di Kota Mataram pasca-banjir pada, Minggu, 6 Juli 2025.

Sementara, penyakit-penyakit lain yang disebabkan aspek lingkungan seperti dermatitis dan diare menunjukkan tren peningkatan.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) NTB, dr.H.Lalu Hamzi Fikri ditemui di Mataram, Minggu, 13 Juli 2025  mengatakan, dari laporan yang masuk, ISPA menempati posisi pertama sebagai penyakit yang paling banyak diderita masyarakat pasca-banjir. “Kalau dari laporan yang masuk sebenarnya untuk penyakit-penyakit yang dominan saat ini dari mulai ISPA yang dominan. Kemudian ada penyakit yang terkait dengan nyeri otot,” katanya.

Berdasarkan data dari Dinkes NTB, ada 12 penyakit yang ditemukan perhari ini, di antaranya, ISPA dengan (123) kasus. Kemudian Myalgia (114) kasus, HT (102) kasus. Gejala pusing (94) kasus. Luka (63) kasus. Dermatitis (60) kasus. Batuk (49) kasus. Febris (37) kasus. Kutu air dan diare sama-sama (34) kasus. Gastritis (32) kasus, dan sakit mata (14) kasus.

Sementara itu, dermatitis yang juga merupakan penyakit yang disebabkan oleh aspek lingkungan yang kurang bersih juga terus menunjukkan tren peningkatan. Kemudian yang dominan malah sekarang trennya peningkatan untuk dermatitis. Penyakit yang terkait dengan penyakit kulit karena aspek lingkungan. “Jadi kita sudah sampaikan dalam rapat tadi malam kita tetap dalam masa-masa tanggap bencana ini tetap pembersihan lingkungan menjadi penting,” tuturnya.

Begitu juga dengan penyakit diare yang juga menunjukkan tren peningkatan. Peningkatan penyakit diare yang dialami masyakarat, kata Hamzi disebabkan tercemarnya air yang dikonsumsi masyarakat. Di beberapa tempat kami sudah cek. “Misalnya Karang Pule. Sampel airnya ada beberapa yang sudah cemaran dari tinja. Nah itu kemarin sudah kita intervensi pemberian kaporit itu juga dilakukan. Ini bagian penting untuk lebih kepada pencegahan tadi,” jelasnya.

Kendati demikian, Dinkes NTB sampai saat ini belum menemukan kasus luar biasa yang menyebabkan kematian. Namun, Dinkes NTB tetap melakukan antisipasi agar penyakit-penyakit berbahaya seperti DBD tidak menjangkiti masyarakat.

“Jadi memang aspek lingkungan sangat penting di sini. Dan alhamdulillahnya memang sampai saat ini mudah-mudahan tidak ada kejadian luar biasa. Nah itu kita antisipasikan. Alhamdulillah kemarin kan Faskes kita tidak ada yang terdampak secara sistem. Tetap dia berjalan seperti biasa,” terangnya.

Di masa pasaca banjir ini, Dinkes NTB menekankan agar masyarakat tetap menjaga kebersihan, terutama kebersihan diri dan lingkungan sekitar. Hal itu diperlukan agar masyarakat terhindar dari penyakit-penyakit yang ditimbulkan, khususnya pasca-banjir.

“Yang terpenting sekarang PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat). Artinya benar-benar walaupun dengan kondisi lingkungan kita ada bekas-bekas banjir ada risiko di situ ada penyakit di situ. Jadi pembersihan lingkungan menjadi utama di situ. Pembersihan diri menjadi penting di situ. Konsumsi makanan harus cukup juga. Sama istirahatnya cukup juga,” tutupnya. (sib).

IKLAN
RELATED ARTICLES
IKLAN




VIDEO