Catatan: Agus Talino
SAYA sudah menulis beberapa tulisan tentang kepemimpinan Iqbal-Dinda sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur NTB. “Tone” tulisan saya hampir sama. Meletakkan harapan yang besar pada kepemimpinan Iqbal-Dinda.
Sampai tulisan ini Anda baca. Saya masih sangat percaya dengan pernyataan Pak Iqbal di beberapa tempat. Tentang meritokrasi, tata kelola keuangan, selesai dengan diri sendiri. Dan beberapa pernyataan yang lainnya.
Tak semua orang setuju dengan tulisan saya. Ada yang menilai tulisan saya terlampau ideal. Padahal jabatan Gubernur dan Wakil Gubernur itu adalah jabatan politik. Kecil kemungkinannya tak ada “kepentingan” di dalamnya. Apalagi Pilkada tidak murah. Biayanya mahal. Orang-orang yang terlibat untuk memenangkan Gubernur dan Wakil Gubernur tak sedikit. Kalau pun orientasinya tak cari “untung”. Paling tidak, menggantikan “keringat” yang sudah tumpah pada saat Pilkada. Bahkan ada yang mengatakan, pada politik tak ada yang gratis. Semua ada kalkulasinya. Semua ada hitungannya. “Tak ada makan siang gratis”.
Saya dianggap terlampau “polos” memahami praktik-praktik politik. Padahal saya dinilai relatif sering bersentuhan dan bersinggungan dengan peristiwa politik. Artinya, seharusnya saya punya cukup pengalaman bergaul dengan pelaku politik yang memegang “kendali” kekuasaan setelah menang Pilkada. Setidaknya, pengetahuan saya tentang politik. Tidak sesederhana yang saya pahami dan saya tulis. Artinya, terjadinya peristiwa beberapa kepala daerah yang berurusan dengan aparat penegak hukum. Salah satu sebabnya, boleh jadi karena di politik tidak ada yang gratis. Orang-orang yang bersedia “berjuang” untuk memenangkan Pilkada. Tidak semuanya, berorientasi untuk menyelamatkan masyarakat, memajukan daerah dan banyak janji-janji manis lainnya. Bisa saja banyak “gombal” dan “omong kosong”-nya.
Saya tak menolak mereka yang tak setuju dengan tulisan saya. Pendapat kita tak selalu sama. Saya masih melihat kepentingan Iqbal-Dinda sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur adalah semata-mata untuk mengantarkan NTB sebagai daerah yang makmur dan mundunia. Seperti yang pernah dikatakan Pak Iqbal pada sebuah kesempatan. Potensi NTB besar. Seharusnya NTB menjadi daerah yang hebat dan kaya raya. Persoalannya, NTB belum menjadi daerah hebat dan kaya raya. Boleh jadi karena selama ini salah urus saja. Iqbla-Dinda datang dengan gagasan besar. Memimpin dan mengurus NTB dengan cara baru. Cara yang hebat dan sesuai dengan kebutuhan NTB. Sesuai dengan tuntutan dan selera zaman.
Saya tidak mau berdebat tentang banyak pernyataan Pak Iqbal yang dinilai terlampau tinggi. “Melangit” dan tak membumi. Seperti pernyataan, Pak Iqbal akan memastikan bahwa setiap sen uang pemerintah yang keluar adalah untuk kemakmuran rakyat. Dan tentang Pak Iqbal yang sudah “selesai dengan diri sendiri”.
Saya percaya. Semua yang disampaikan Pak Iqbal. Bukan asal diucapkan. Tetapi sudah melalui pemikiran dan pertimbangan yang matang. Sebagai pemimpin. Tak mungkin Pak Iqbal mengatakan sesuatu yang tidak sanggup dilaksanakan. Yang paling penting dari pemimpin itu adalah kejujuran. Omongannya bisa dipercaya.
Kepemimpinan Iqbal-Dinda belum genap enam bulan. Perjalanan yang sesungguhnya baru dimulai. Dinamika mulai menyapa dan terasa. Ada pejabat yang ditahan aparat penegak hukum. Ada politisi yang dipanggil kejaksaan untuk diminta keterangan terkait dugaan korupsi.
Saya melihat semua dinamika itu adalah pelajaran. Khususnya bagi pemimpin. Untuk bersungguh-sungguh. Dengan kelapangan dada dan kerendahan hati belajar. Tidak semua peristiwa dianggap remeh saja.
Pemimpin yang tidak mau belajar. Semua orang dianggap enteng. Apalagi, sikapnya angkuh. Sombong. Petantang-petenteng. Suka-suka. Karena punya kekuasaan dan otoritas. Anggaran diatur sesuka hatinya. Diatur untuk orangnya sendiri. Secara tak langsung, pemimpin tersebut sedang membuat “lubang” untuk dirinya sendiri.
Saya percaya. Iqbal-Dinda adalah pemimpin yang sangat rendah hati. Hatinya lapang untuk menerima saran dan kritik. Pemimpin yang sangat menjaga reputasi dan nama baiknya. Pemimpin yang punya cita-cita luhur untuk membangun daerah. Mau belajar.Terus melakukan evaluasi terhadap keputusannya. Tak terkecuali terhadap keberadaan lingkaran dan mesin birokrasi yang ada. Apa pun yang saya tulis. Apa pun harapan saya. Fakta yang akan bicara. Waktu yang akan menjawab. Semoga kita semua baik-baik saja. NTB Makmur dan Mendunia. Aamiin. (***)



