spot_img
Jumat, Februari 27, 2026
spot_img
BerandaNTBJaga Keragaman Budaya, ECCO Foundation-Desa Genggelang-Scholas Sukses Buat Film “Kesindungan” dalam Dokumenter...

Jaga Keragaman Budaya, ECCO Foundation-Desa Genggelang-Scholas Sukses Buat Film “Kesindungan” dalam Dokumenter “Aldeas”

Mataram (Suara NTB) – Aldeas Scholas Films-ECCO Foundation, dan Desa Genggelang, Kecamatan Gangga, KLU berhasil menayangkan film Kesindungan dalam dokumenter Aldeas – New Story di Parkiran Air Terjun Gangga, pada Rabu, 16 Juli 2025). Dokumenter Aldeas sendiri bertujuan untuk merawat keragaman budaya, cerita, kesenian masyarakat dengan menyoroti dan menampilkan kehidupan warga Desa Genggelang.

SAMBUTAN – Mari Elka Pangestu (kiri) didampingi MC Iqbal (tengah) dan Dara (kanan) memberikan sambutan sebelum penayangan film, Rabu, 16 Juli 2025. (Suara NTB/ist)

Namun, untuk sampai pada titik tersebut, terbilang tidak cukup mudah dan melewati waktu yang cukup panjang. Desa Genggelang sendiri bekerja sama dengan ECCO Foundation sejak tahun 2021. Di mana kerja sama awalnya adalah untuk membangun Eco-tourism di desa yang sempat lumpuh karena gempa. Melalui kerjasama Desa Genggelang-ECCO, atensi Desa genggelang sebagai desa berkelanjutan mulai tergaung. Sehingga, pada September 2024 desa mendapatkan undangan untuk datang ke Jakarta pada saat penyambutan Paus Fransiskus.

Nia Dinata bersama kru film berfoto bersama saat proses pengambilan film, di Air Terjun Gangga, beberapa waktu lalu. (Suara NTB/ist)

Dalam momentum itu juga inisiasi awal proyek Aldeas dilaksanakan. Utamanya untuk promosi desa wisata berkelanjutan yang mengedepankan aspek perlindungan alam dan mendapat support dari Paus pada saat itu. Meskipun Paus sudah berpulang, namun projek tetap berjalan.

Diketahui ada tiga negara yang terpilih dalam proyek ini yakni Sisilia, Gambia, dan Indonesia. Untuk di Indonesia sendiri yang terpilih kemudian adalah Desa Genggelang, gangga, KLU.

Sebagai informasi, ada dua karya dalam proyek ini yang digarap pada waktu yang bersamaan. Yakni dokumenter Aldeas – New Story dan film Kesindungan. Dokumenter Aldeas sendiri berupaya mendokumentasikan kehidupan masyarakat Desa Genggelang berikut upaya masyarakat menceritakan kisahnya melalui sebuah film. Dokumenter Aldeas diinisiasi oleh Aldeas Scholas Films di bawah naungan Scholas Occurrentes (Yayasan Paus Fransiskus) dan diproduseri oleh Martin Scorsese.

Sementara Film Kesindungan merupakan film yang dibuat oleh warga Desa Genggelang sendiri. Dengan pemilihan cerita yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, didukung akting warga yang natural, ditambah peran Happy Salma yang memukau, film ini sukses membuat penonton tersihir oleh keindahannya.

Founder ECCO Foundation, Walissa Tanaya Pramanasari atau yang akrab disapa Naya itu mengungkapkan rasa bahagianya atas suksesnya penayangan film Aldeas dan Kesindungan tersebut. Menurutnya, peran warga Desa Genggelang patut diberi apresiasi atas kontribusi dan usaha mereka selama proses penggarapan project ini.

“Tentunya saya pertama terharu dengan pencapaian dari warga dari mereka mengikuti workshop sampai mengaplikasikan ilmu beserta keterampilan yang mereka dapatkan dari workshop tersebut untuk menjadi sebuah film yang sangat luar biasa menurut saya,” ujarnya.

Menurut Naya, di tengah kesibukan yang padat untuk bekerja, masyarakat Desa Genggelang masih dapat membagi waktu untuk terlibat dan menyukseskan project ini. Usaha mereka itulah yang menurut Naya sesuatu yang luar biasa.

“Karena biasanya untuk mengerjakan sesuatu yang ekstra itu mereka biasanya tidak ada waktu karena sangat-sangat sibuk. Namun dengan prospek bahwa ini akan ditampilkan di depan orang-orang lain mereka sanggup untuk berkumpul, sharing ide bareng dan akhirnya menampilkan ini dalam sebuah karya,” jelasnya.

Untuk waktu penggarapan yang terbilang pendek yakni dua minggu, secara teknik film ini tak kalah bagusnya dengan dengan film-film nasional. Naya juga turut senang masyarakat Genggelang mendapatkan kesempatan untuk menampilkan cerita dan kehidupan mereka kepada dunia melalui sebuah film.

“Seperti harapan dan mimpi mereka dari awal. Jadi di sini klimaksnya. Namun, dari sini tentunya ke depan saya tahu bahwa ini hanya permulaan sebenarnya buat mereka. Dan, itu doa dan harapannya agar mereka tetap bisa terus melanjutkan ini ke depan,” tuturnya.

Meski demikian, di balik suksesnya proyek ini, tidak terlepas dari tantangan dan rintangan seperti cuaca, jarak, juga bahasa. Sebab, dalam proyek ini ada kerja sama dengan kru film dari luar negeri. Meskipun kru film luar tidak terlibat di dalam pembuatan film, tetapi di satu sisi mereka juga tengah diambil gambar dalam proses mereka itu.

“Jadi mereka harus berinteraksi. Jadi ada pekerjaan di dalam film, ada pekerjaan di luar film. Jadi buat tim produser itu tidak hanya buat film, tetapi buat pihak luar yang datang. Jadi mereka ber kepanitiaan. Ada namanya Inan Paon, yang mengurus konsumsi. Jadi mereka harus masak semua itu. Padahal mereka juga harus pulang setelah itu masak buat keluarganya. Jadi itu effort yang luar biasa,” terang Naya.

Terakhir, Naya juga tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang terlibat dalam suksesnya project ini. Ia mengatakan, project ini merupakan mimpi bersama yang terwujud.

“Untuk mitra-mitra kita semoga kolaborasinya berlanjut. Tidak sampai di sini saja. Meskipun nanti bentuknya berbeda-beda, tetapi semoga mereka bisa tetap ingat Desa Genggelang dan selalu di hati. Dan ini juga menjadi salah satu menurut saya wujud sustainable partnership, sustainable development. Inilah menurut saya contoh yang baik dalam sustainable development,” tutupnya.

Suksesnya proyek pembuatan dokumenter Aldeas dan film Kesindungan juga tak lepas dari kontribusi Nia Dinata selaku sutradara dari Indonesia yang telah memberikan workshop kepada masyarakat hal-ihwal seputar film. Sebagai sutradara film, Nia Dinata sudah dikenal di kancah perfilman nasional dengan beragam karya seperti Janji Joni, Arisan 1 dan 2, Ca-bau-kan, dan banyak karya film lainnya.

Di sisi lain, Direktur Aldeas Scholas Films, Ezequiel del Corral menjelaskan tujuan dari pembuatan dokumenter Aldeas ini adalah untuk menjaga identitas yang kita miliki. Khususnya, identitas yang dimiliki Desa Genggelang.

“Jadi untuk menjaga identitas ini hidup dan memberikan kemungkinan kepada generasi muda untuk terhubung dengan para orang tua mereka. Dari akar rumput menuju cakrawala. Mengupdate identitas dengan cara menciptakan bersama, dengan cara saling mendengar satu sama lain, dan menunjukkan kepada dunia bahwa tanpa keindahan keberagaman manusia dalam pertaruhan,” jelasnya.

Pihaknya memilih Lombok, khususnya Desa Genggelang sebagai lokasi penyelenggaraan project karena Lombok adalah pulau istimewa di Indonesia. “Bukan hanya karena keindahan pantai-pantainya atau karena landscape gunung vulkaniknya. Tetapi juga karena orang-orangnya. Kalian memiliki warisan budaya yang sangat kuat. Kalian memiliki rumput yang indah,” ujarnya.

Ia berharap Desa Genggelang dapat menjadi simbol kebangkitan tak hanya Indonesia, tapi juga Dunia. “Dari Genggelang untuk Indonesia, Dari Genggelang untuk Dunia,” tutupnya.

Di sisi lain, Agus Sastrawan warga desa Genggelang yang juga menjadi produser film Kesindungan menyampaikan perasaan bangganya bisa terlibat dalam produksi film karya masyarakat tersebut. “Jadi sebuah kebanggan juga sih bagi kami di sini. Produksi pertama sudah bisa menghadirkan Happy Salma di film kami,” tuturnya.

Ia menambahkan, tanggapan masyarakat terkait proyek ini sangat positif. Hal itu disebabkan, masyarakat diikutsertakan dalam proses secara langsung. “Tanggapan masyarakat sangat positif sekali karena mereka juga ikut terlibat di produksi film ini alhamdulillah. Banyak sekali yang terlibat dalam film ini. Saya juga berterima kasih pada seluruh masyarakat desa Genggelang dan semua yang terlibat dalam produksi film ini,” tandasnya.

Dalam penayangan kedua karya tersebut, masyarakat turut hadir menyaksikan buah karya mereka. Parkiran Air Terjun Gangga yang menjadi lokasi penayangan penuh oleh masyarakat hadir. Beberapa di antara mereka terlihat tenggelam dalam cerita yang ditayangkan. Tak sedikit juga yang meneteskan air mata setelah menonton film tersebut. (sib/*)

IKLAN
RELATED ARTICLES
IKLAN



VIDEO