spot_img
Sabtu, Februari 21, 2026
spot_img
BerandaNTBLOMBOK TIMURAPGI NTB Desak Peningkatan Fasilitas Keselamatan di Jalur Rinjani  

APGI NTB Desak Peningkatan Fasilitas Keselamatan di Jalur Rinjani  

Selong (Suara NTB) – Ketua Asosiasi Pemandu Gunung Indonesia (APGI) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), Didik Kurniawan, menegaskan minimnya fasilitas keselamatan di jalur pendakian Gunung Rinjani menjadi penyebab utama kasus kecelakaan berulang.

Pernyataan ini disampaikan menyusul insiden yang menimpa wisatawan asal Swiss, Benedikt Marcel (46) yang terjatuh di jalur menuju Danau Segara Anak pada 16 Juli 2025. Korban mengalami patah tulang dan cedera kepala, serta dievakuasi menggunakan tandu dalam operasi dramatis melibatkan tim gabungan SAR, Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR), dan relawan.

Bahkan, Kamis, 17 Juli 2025, warga negara asing (WNA) asal Belanda yang tinggal di Denmark mengalami kecelakaan saat mendaki Gunung Rinjani. Pendaki STVH (perempuan) dilaporkan terjatuh di jalur Pelawangan Sembalun menuju Danau Segara Anak dan dievakuasi menggunakan helikopter menuju Bali.

Menurut Didik, titik rawan seperti jalur Segara Anak dan Cemara Nunggal masih kekurangan fasilitas dasar. Tidak ada pegangan tali atau alat bantu di medan terjal berbatu.  Rambu peringatan  sangat minim, padahal jalur ini rawan longsor dan licin saat kabut .

Didik mengungkap pola tragis, 80 persen insiden terjadi pada hari kedua pendakian pendaki yang lelah setelah menempuh rute Sembalun–Pelawangan (8 jam) langsung melanjutkan ke puncak atau turun ke Segara Anak tanpa istirahat cukup. “Kondisi fisik drop membuat kewaspadaan menurun, terutama di jalur curam seperti Segara Anak,” tegasnya.

Faktor teknis juga kritis,  semisal pemilihan sepatu tidak tepat atau tidak menutupi mata kaki bisa meningkatkan risiko terpeleset.

Insiden Benedikt Marcel menyoroti disparitas layanan asuransi, yakni premi asuransi standar Rp10.000 tidak cukup untuk evakuasi helikopter yang biayanya mencapai puluhan juta rupiah.

Wisatawan asing seperti Marcel mengandalkan polis premium, sehingga helikopter bisa diterbangkan segera. APGI menilai perlunya skema asuransi khusus yang menanggung evakuasi udara, terutama bagi pendaki internasional.

Sebagai garda terdepan keselamatan, 100% pemandu APGI NTB telah bersertifikat Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP). Mereka menjalani pelatihan rutin meliputi, teknik penyelamatan gunung, pertolongan pertama darurat dan manajemen risiko medan ekstrem. (rus)

IKLAN

IKLAN

spot_img
RELATED ARTICLES
IKLAN




VIDEO